Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan menggunakan ponsel di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Karyawan menggunakan ponsel di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Euforia Emiten Teknologi

Kamis, 29 Juli 2021 | 22:25 WIB
Investor Daily

Tahun ini Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal kedatangan emiten baru dengan jumlah terbanyak di Asean, namun dari sisi nilai dana yang dimobilisasi masih tertinggal. Hingga 28 Juli 2021, sudah ada 27 perusahaan yang menggelar penawaran umumperdana (initial public of fering/IPO) saham dengan perolehan dana sekitar Rp 7,66 triliun.

Sementara yang berada di pipeline ada 26 perusahaan.Dari 26 yang masih proses tersebut, 21 perusahaan di antaranya merupakan korporasi berskala aset besar dan menengah.

Tentu saja yang bakal menjadi pusat perhatian adalah masuknya perusahaan unicorn dan decacorn. Ada satu decacorndan dua unicorn yang memastikan untuk melantai di bursa dengan valuasi sekitar US$ 21,5 miliar atau setara Rp 311 triliun. Ketiga calon emiten tersebut adalah Bukalapak yang sudah mendapat pernyataan efektif dan bakal meraih dana Rp 21,5 triliun. Kemudian decacorn GoTo bakal menempuh dual listing, di bursa domestik dan Amerika Serikat, de ngan target perolehan dana sebesar US$ 2 miiliar.

Unicorn lain yang sudah an cangancang IPO adalah Traveloka. Bukan hanya itu, Bursa Efek Indonesia dalam pernyataan terbarunya menyebut ada 6 unicorn dan perusahaan centaur (valuasi di atas US$ 100 juta sampai US$ 1 miliar) yang berpotensi IPO.

Jika itu terwujud, kapitalisasi pasar (market cap) BEI bisa bertambah sebesar Rp 553,9 triliun atau 7,69% dari market cap per 16 Juli 2021 se besar Rp 7.200 triliun.

Indonesia memang menjadi gudang unicorn. Dari 12 unicorn-decacorn yang tercatat di Asia Tenggara, enam di antaranya berada di Indonesia. Nilai valuasi gabungan enam unicorn tersebut sebelum melakukan IPO saham mencapai US$ 38,2 miliar.

Indonesia juga menempati peringkat teratas pasar ekonomi digital, yang pada 2025 diprediksi menembus US$ 124 miliar. Pekan-pekan terakhir ini emiten berbasis teknologi memang tengah hype de ngan kenaikan harga yang gila-gilaan, bahkan sebagian tidak masuk akal.

Dua saham berbasis teknologi, yakni Bank Jago dan DCI Indonesia, yang relatif baru sudah menempati peringkat 10 besar kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia. Tidak mengherankan jika penawaran saham Bukalapak pun sampai kelebihan permintaan empat kali lipat. Saham-saham berbasis teknologi di BEI yang masuk dalam kelompok IDX teknologi sudah mengalami lonjakan har ga rata-rata 840% selama semester pertama.

Ke depan, dengan kian agresifnya perusahaan berbasis teknologi masuk bursa, tentu saja akan mengubah konstelasi dominasi kelompok emiten di bursa domestik.

Fenomena yang terjadi di Amerika Serikat juga akan terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan seperti Google, Amazone, dan Face book sudah lama merajai kapitalisasi pasar, mengalahkan raksasa-raksasa perusahaan konvensional di bidang per tambangan dan migas, atau perusahaan- perusahaan keuangan papan atas.

Maraknya perusahaan berbasis teknologi tentu bakal membuat bursa domestic lebih atraktif.

Investor asing diyakini akan banyak yang masuk. Selain itu, Bursa Efek Indonesia akan lebih kompetitif dan bisa bersaing dengan bursa saham regional. Dampak positif lainnya, market cap bursa kita akan jauh lebih besar karena yang masuk memiliki valuasi sangat besar. Dan bagi investor domestik, akan se makin banyak pilihan investasi. Maraknya unicorn dan decacorn IPO bakal mendongkrak jumlah investor atau single identification investor (SID).

Sebagai gambaran, dari IPO yang dilakukan Bu kalapak saja, jumlah investor yang berpartisipasi bisa mencapai 800 ribu pihak dan penambahan 42 ribu investor baru. Hingga akhir semester I-2021, jumlah in vestor pasar modal mencapai 5,6 juta orang.

Dari jumlah itu, sebanyak 2,51 ju ta di antaranya adalah investor saham. Apalagi belakangan ini pertambahan jumlah investor ritel paling agresif adalah kelompok milenial. Kelompok itu pula lah yang sangat menggemari emiten-emiten berbasis teknologi. Hal itu pula yang membuat harga saham-saham kelompok teknologi melonjak begitu fantastis. Namun harus disadari bahwa sa hamsaham teknologi seperti unicorn dan de cacorn relatif baru di Indonesia. Berbeda dengan Amerika Serikat yang pasarnya relatif matang dan pengetahuan investor publik tergolong cukup baik.

Kehadiran perusahaan teknologi, termasuk unicorn dan decacorn, diharapkan mampu memperbesar kontribusinya ter hadap indeks harga saham gabungan. (IHSG). Saat ini, peran saham teknologi terhadap IHSG masih relatif kecil, sekitar 3,4%.

Peran ini relatif tertinggal di bandingkan sektor finansial dan sektor konsumer yang masing-masing kontribusinya mencapai 37% dan 15%. Bahkan rata-rata di negara-negara emerging mar ket, porsi sektor teknologi terhadap indeks saham sudah mencapai 21%.

Kita menyambut positif maraknya sa ham-saham teknologi hadir di bursa. Namun edukasi terhadap investor ritel te tap harus diberikan. Jangan sampai mereka asal tubruk saham-saham berbasis teknologi hanya karena ikut-ikutan. Pada akhirnya, indikator-indikator keuangan penting dan fundamental emiten harus tetap menjadi pegangan utama. Prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi portofolio akan mencegah para investor ritel terperangkap pada euphoria pasar dan kemungkinan permainan bandar.

Dalam konteks itu, investor publik perlu mengantisipasi potensi bubble sa ham-saham yang kenaikannya tidak wajar. Para investor publik di Indonesia tampaknya masih harus beradaptasi dengan saham-saham new economy.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN