Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Fintech Produktif

Jumat, 10 Juli 2020 | 23:59 WIB
Investor Daily

Melesatnya P2P lending fintech mencerminkan tingginya kebutuhan pembiayaan yang cepat dan gampang, terutama bagi masyarakat menengah-bawah yang tak mudah mengakses layanan keuangan konvensional.

Apalagi, kapasitas pendanaan lembaga finansial yang ada masih jauh dari mencukupi. Artinya, terlepas dari kehadiran awalnya yang menimbulkan banyak kontroversi karena liar dan ilegal, fintech yang mempertemukan lender dengan penerima pinjaman secara langsung melalui sistem elektronik jaringan internet itu memang menjawab kebutuhan masyarakat.

Lender atau pemberi pinjaman mendapatkan bunga yang lebih tinggi, di sisi lain borrower atau penerima pinjaman gampang memperoleh utang yang dibutuhkan, termasuk untuk usaha produktif.

Tak heran, akumulasi pinjaman lewat P2P lending fintech sampai dengan Mei 2020 menembus Rp 109,18 triliun, naik 166% secara tahunan (year on year/yoy). Meski di bulan April lalu sempat terja di penurunan penya luran pinjaman akibat pandemi Covid - 19, secara agregat masih tumbuh tinggi bila dibandingkan pertumbuhan industri la in maupun ekonomi Indonesia.

Di bulan Mei juga mulai kembali terlihat ada perbaikan. Bila ditelusuri, penurunan tersebut lebih disebabkan kehati-hatian para pemain di in dustri ini dalam menyalurkan pinjaman, untuk menjaga tingkat pengembalian tetap tinggi. Hal itu terkait kegiatan ekonomi yang memang dibatasi seiring pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), guna menekan penularan pandemi Covid-19 yang berasal dari Tiongkok.

Profil dan perkembangn fintech lending
Profil dan perkembangn fintech lending

Selain penyaluran pinjaman yang terus meningkat, jumlah rekening borrower dan lender kian bergerak naik. Sampai Mei 2020, akumulasi rekening borrower secara nasional mencapai 25.189.941 entitas atau me lonjak 187,87% yoy, sedangkan akumulasi rekening lender 654.201 entitas atau naik 36,22% yoy.

Dari sisi pengembalian pinjaman, salah satu peer-to-peer (P2P) lending Amartha mencatat, Tingkat Keberhasilan 90 Hari (TKB90) di tengah pandemi ini masih mencapai 96%, hanya turun sedikit dari sebelumnya 99,95%, yang juga didukung skema pembiayaan community lending atau pinjaman tanggung renteng secara berkelompok.

Itulah sebabnya, langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendukung pengembangan industri P2P lending dan di sisi lain juga melindungi kepentingan nasabah patut diapresiasi. Dari jumlah penyelenggara P2P lending fintech di Indonesia sebanyak 158 perusahaan, sebanyak 125 perusahaan kini sudah terdaftar dan yang sudah berizin 33 perusahaan.

Selain itu, juga sudah dibentuk Satgas Waspada Investasi yang menindak P2P lending fintech ilegal maupun entitas penawaran investasi tanpa izin. Dengan didukung banyaknya pengguna internet di Tanah Air yang mencapai 170 juta atau 64,8% dari populasi dan smartphone sudah menjadi gaya hidup hingga di perdesaan, maka P2P lending maupun fintech yang lain akan menjadi kekuatan yang luar biasa untuk pemberdayaan masyarakat menengah-bawah ke arah produktif.

Kaum perempuan yang masih banyak hanya memanfaatkan smartphone untuk konsumtif dan menyebar gossip misalnya, kini bisa meminjam dana untuk kegiatan usaha mulai dari menjual kue hingga aneka kerajinan.

Selanjutnya, keuntungan hasil usaha ini juga sebagian bisa ditanamkan kem bali untuk di pinjamkan ke orang lain yang membutuh kan, dengan mendapatkan imbalan jasa lumayan.

Dengan demikian, P2P lending tidak sekadar memenuhi kebutuhan dana tunai secara cepat dan mudah untuk kon sumtif, tapi ju ga mendorong masyarakat produktif, efisien, dan mening katkan daya saing. Fintech yang sehat bisa menjadi sarana yang luar biasa untuk memberdayakan masyarakat dalam pengembangan usaha, terutama ke lompok mikro yang merupakan mayoritas UMKM di Indonesia yang totalnya sekitar 64,2 juta.

Jika ratarata UMKM mempekerjakan 2 orang lain saja, berarti sudah ada perbaikan untuk 192 juta lebih rakyat Indonesia. Tentunya ini menjadi energi yang luar biasa untuk percepatan pemulihan ekonomi nasional.

Oleh karena itu, pemerintah wajib secara serius membantu pengembangan industri fintech. Ini misalnya membangun infrastruktur internet cepat yang menjangkau hingga wilayah perdesaan yang tidak terjangkau la yanan bank.

Sementara itu, hingga saat ini, untuk wilayah Jabodetabek saja banyak yang belum bisa internet cepat. Padahal, percepatan pembangunan infrastruktur internet yang makin mendesak dibutuhkan di tengah meningkatnya pandemi juga sekaligus mempercepat belanja pemerintah, sehingga bisa mendorong kembali pertumbuhan ekonomi di tengah anjloknya peran investasi swasta.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN