Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salinan UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Salinan UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Game Changer UU Ciptaker

Rabu, 25 November 2020 | 07:20 WIB
Investor Daily

investor.id

 

Selain vaksin Covid-19, UU Cipta Kerja merupakan game changer, yang membalikkan ekonomi dari kontraksi menjadi tumbuh melesat tahun depan. Ini bukan kaleng-kaleng, IMF hingga OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal menembus 5% atau bahkan lebih.

Optimisme ekonomi RI segera cepat pulih ini juga terefleksi pada pergerakan indeks bursa saham di Tanah Air, yang menjadi salah satu leading indicator. Manajer investasi global papan atas Aberdeen Standard Investment misalnya, tegas memasang posisi bullish untuk pasar saham Indonesia. Pemulihan harga saham bursa kita, setelah terpukul keras akibat pandemi yang merebak pertama kali di Wuhan, dinilai bakal outperform dari bursa Asia lainnya.

Ketika investor asing mengalihkan portofolio ke saham-saham yang sensitif terhadap kondisi ekonomi yang membaik, Aberdeen menandai, saham-saham di Indonesia tampil paling menonjol, cemerlang. Apalagi, RI memiliki saham sektor keuangan dengan potensi pertumbuhan terbesar di kawasan Asia Tenggara, yang selanjutnya penguatan ini bakal diikuti saham perusahaan industri dasar hingga otomotif.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,85% kemarin, kembali menembus level psikologis 5.700. Dibandingkan level terendahnya 3.937,6 pada 23 Maret 2020, saat pasar keuangan global terguncang cepat menyebarnya virus baru Covid-19 ke seluruh dunia dan belum ada tanda-tanda penemuan vaksin, maka harga saham telah menguat lebih dari 44% dalam waktu delapan bulan.

Bahkan, IHSG masih berpotensi rally hingga tahun depan, bisa menembus level 6.500. Berbagai sektor saham pun bisa menjadi pilihan, mulai dari perbankan, telekomunikasi, infrastruktur, konstruksi, properti, hingga pertambangan seiring membaiknya kembali harga komoditas sejalan perbaikan ekonomi global.

Ini tak lepas dari salah satu terobosan besar yang menyingkirkan penghalang investasi di Indonesia, yakni Undang-Undang Ciptaker. Omnibus law pertama ini antara lain membawa penyederhanaan dan kepastian perizinan di daerah yang sebelumnya bisa memakan waktu belasan tahun, supermahal, rumit, dan tidak transparan. UU ini bukan resentralisasi kewenangan ke pemerintah pusat dari pemerintah daerah. Perizinan berusaha dan kewenangannya tetap dilakukan pemda, namun harus sesuai dengan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) yang ditetapkan pemerintah pusat, agar tercipta standar pelayanan yang baik di seluruh daerah. Penetapan NSPK ini nantinya diatur dalam peraturan pemerintah atau PP yang kini sudah ditunggu-tunggu penerbitannya.

Selalu UU Ciptaker ini melakukan penyederhanaan serta standardisasi jenis dan prosedur berusaha di daerah, perizinan di daerah juga diberikan batas waktu tertentu. Jadi, kini ada terobosan service level of agreement, yakni permohonan perizinan dianggap disetujui bila batas waktu telah terlewati alias tidak ditanggapi pemda.

Pemerintah pun membuka dan mengundang masukan dari masyarakat dan usulan-usulan, termasuk dari daerah untuk penyempurnaan dan keefektifan aturan pelaksanaannya. Oleh karena itu, UU Cipta Kerja yang sudah diteken Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus segera dirampungkan aturan pelaksanaannya berupa PP dan peraturan presiden (perpres) Januari mendatang, bersamaan dengan dimulainya vaksinasi untuk mengatasi pandemi secara nasional.

Selanjutnya, sosialisasi massif dirampungkan paling lambat Februari mendatang, termasuk penyiapan petugas kompeten dan berintegritas hingga tingkat pelaksana di lapangan. Dengan demikian, promosi secara massif di berbagai forum investor dan pebisnis global maupun dalam negeri bisa efektif didukung realisasinya oleh petugas di lapangan.

Kedutaan Besar RI (KBRI) hingga Konsulat Jenderal RI (KJRI) juga harus menjadi ujung tombak mempromosikan UU Ciptaker yang merupakan pengubah besar-besaran dan fundamental iklim investasi di Indonesia, menjadi kondusif, kompetitif dan berkekuatan hukum kuat. Dipromosikannya UU baru ini ke investor global bisa dipastikan menarik ribuan triliun rupiah investasi ke Indonesia, di tengah kebutuhan perusahaan raksasa Amerika Serikat, Jepang, hingga Korsel untuk memindahkan pabriknya dari Tiongkok agar supply chain tidak tergantung satu negara komunis itu.

Mengalirnya investasi ini juga dipastikan memperbaiki kehidupan puluhan juta pekerja kita. Pekerja kita sangat membutuhkan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang menyerap banyak pekerja, apalagi di tengah pandemi Covid-19 dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang telah mem-PHK jutaan pekerja dan menciptakan kemiskinan baru.

Ini juga bukan isapan jempol. Raksasa perusahaan teknologi Amerika Serikat, Amazon, sudah siap menggelontorkan investasi Rp 40 triliun. Indonesia akan menjadi data center backbone yang akan melayani perusahaan digital bahkan di seluruh Asean, menjadi pusat data dan juara di kawasan.

Tidak hanya itu, pemodal RRT bahkan akan membangun pabrik baterai dengan nilai investasi lebih fantastis, Rp 72 triliun, menyusul ditekennya UU Cipta Kerja oleh Presiden Jokowi. Pada 2021 telah diagendakan mulai groundbreaking. Selanjutnya, sudah antre masuk pemain baterai global asal Korsel, menyusul Hyundai yang sudah memastikan investasi mobil listrik di sini setelah regulasi sektor otomotif dirombak total.

Didukung pasar RI yang besar, penduduk usia produktif mayoritas, pertumbuhan bakal kembali melejit, kaya beragam sumber daya alam, dan stabilitas sosial-politik; maka dengan berbagai insentif menarik fiskal maupun nonfiskal yang kini lagi 'diobral', Indonesia akan menjadi surga investasi yang memberikan return tinggi. Jangan sampai investor ketinggalan kesempatan emas ini, apalagi vaksinasi dan penegakan protokol kesehatan segera dilaksanakan untuk meredam pandemi.

 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN