Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deretan gedung bertingkat di Jakarta.  Foto ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Deretan gedung bertingkat di Jakarta. Foto ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Gelontorkan Stimulus Ekonomi

Selasa, 11 Agustus 2020 | 10:10 WIB
Investor Daily

Langkah pemerintah memperbaiki pengucuran stimulus penanganan Covid-19 dan dampaknya mendapat respons positif, tak hanya dari dalam negeri. Hal ini ikut mendorong indeks Bursa Efek Indonesia rebound pada perayaan hari ulang tahun pasar modal 10 Agustus kemarin.

Dari internasional, lembaga pemeringkat papan atas Fitch Ratings pun mengafirmasi long-term foreign-currency issuer default rating RI pada “BBB” dengan stable outlook, yang berarti risiko gagal bayar tetap sama sejak September 2018. Fitch memutuskan mempertahankan peringkat Indonesia meski ekonomi terkontraksi akibat dampak pandemi virus corona baru, dan diperparah dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang lang sung memangkas konsumsi, produksi, maupun investasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, laju pertumbuhan ekonomi RI melambat dari 2,97% kuartal I-2019 menjadi -5,32% pada kuartal II tahun ini. Fitch yang bermarkas besar di New York ini memproyeksikan pada keseluruhan 2020 ekonomi RI akan terkontraksi 2%.

Kendati demi kian, ia mempertahankan rating RI antara lain karena pemerintah dinilai mampu menyeimbangkan prospek pertumbuhan jangka

menengah yang menguntungkan plus rasio utang pe merintah terhadap produk domestic bruto yang rendah, dengan faktor masih tingginya ketergantungan pada pembiayaan eksternal, pendapatan pemerintah rendah, dan secara structural tertinggal dibanding sesama Negara berkategori 'BBB' terkait indikator tata kelola dan PDB per kapita.

Sementara itu, per 6 Agustus 2020, Ke menterian Keuangan mencatat realisasi stimulus Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) meningkat ke 21,8%, setara Rp 151,25 triliun dari pagu yang ditetapkan Rp 695,2 triliun tahun ini. Rinciannya, pertama, realisasi anggaran kesehatan sebesar Rp 7,14 triliun atau setara dengan 14,4% dari pagu senilai Rp 87,55 triliun.

Anggaran kesehatan ini diperuntukan bagi in sentif kesehatan pusat dan daerah, santunan kematian tenaga kesehatan, kegiatan Satuan Tugas Penanganan Covid-19, serta insentif bea masuk dan pajak pertambahan nilai (PPN) sektor kesehatan.

Kedua, stimulus program perlindungan sosial tercatat sudah dikucurkan Rp 86,45 triliun, setara 48,8% dari pagu Rp 203,91 triliun. Ini untuk Program Keluarga Harapan (PKH), kartu sembako, bantuan sembako Jabodetabek, bantuan nontunai Jabodetabek, kartu prakerja, diskon listrik, dan bantuan langsung tunai (BLT).

Ketiga, pencairan stimulus dukungan sektoral kementerian/lembaga (K/L) dan pemda sebesar Rp 8,6 triliun, dari anggaran Rp 106,05 triliun. Dukungan ini diberikan untuk pro gram padat karya K/L, dana insentif daerah (DID) untuk pemulihan ekonomi, dan dana alokasi khusus (DAK) fisik.

Keempat, realisasi insentif usaha senilai Rp 16,6 triliun, setara 13,7% dari anggaran Rp 120,61 triliun. Ini disalurkan untuk insentif pajak penghasilan (PPh) pasal 21 ditanggung pemerintah (DTP), pembebasan PPh pasal 22 impor, pengurangan angsuran PPh pasal 25, pengembalian pendahuluan PPN, dan diskon angsuran PPh badan.

Kelima, realisasi dukungan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebesar Rp 32,5 triliun, atau setara 27,1% dari pagu senilai Rp 123,47 triliun. Ini antara lain disalurkan untuk penempatan dana pemerintah di perban kan, pembiayaan investasi Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB), PPh final UMKM DTP, dan subsidi bunga UMKM. Namun di pos keenam, lagi-lagi untuk pembiayaan korporasi sama sekali belum ada realisasi apa-apa, alias nol. Padahal, anggarannya yang mencapai Rp 53,57 triliun ini juga hampir semuanya untuk korporasi BUMN, sedangkan yang bagi swasta sangat minim.

Mengingat  praktis kini hanya pemerintah dan BUMN yang ma sih punya kemampuan berbelanja, maka sangatlah penting pembiayaan perusahaan pelat merah ini segera dikucurkan.

Belanja BUMN ini multiplier effect-nya luar biasa besar, yang ditunggu-tunggu para kontraktor di daerah agar kembali bisa bergerak dan ekonomi sekitar berputar.

Selain pembiayaan korporasi perlu dipercepat dan diguyurkan semuanya di kuartal III-2020, realisasi dukung an kepada UMKM juga bisa disekali guskan bulan-bulan ini.

Untuk memastikan pertumbuhan ekonomi di kuartal III ini bisa diangkat kembali positif, maka stimulus lanjutan Agustus-September juga harus benar-benar nendang.

Untuk itu, stimulus korporasi swasta harus dinaikkan, setidaknya sama de ngan korporasi BUMN. Selain itu, rencana stimulus total Rp 33,12 triliun yang akan diberikan kepada 13,8 juta pekerja non-PNS dan non-BUMN, misalnya, harus diperluas. Jika wacana kriteria saat ini aktif terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan dengan gaji di bawah Rp 5 juta per bulan, maka harus segera diubah untuk semua pekerja Indonesia.

Jika ada kekhawatiran tidak dibelanjakan untuk mendorong konsumsi, ya berikan saja dalam bentuk kupon belanja produksi dalam negeri. Dengan demikian konsumsi meningkat, produksi nasional bergulir lagi, dan investasi kembali ke negeri ini.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN