Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbankan Nasional

Perbankan Nasional

Genjot Fee Based Income

Sabtu, 27 Juli 2019 | 06:38 WIB

Perbankan masih menghadapi tantangan tingginya biaya dana plus ketatnya likuiditas di Tanah Air, di tengah prospek kredit yang mulai ekspansif. Di sisi lain, perbankan dituntut tak hanya mengandalkan spread atau selisih suku bunga pinjaman dengan bunga simpanan, namun lebih kreatif menciptakan pendapatan berbasis komisi (fee based income) dan efisien.

Selain agar tingkat bunga kredit bisa terjaga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, strategi ini ampuh mengamankan laba dan membuat bank tumbuh besar.

Dari 10 bank terbesar di Asean berdasarkan aset hingga kuartal I-2019, bank dari Indonesia hanya satu yang masuk daftar, yakni Bank Rakyat Indonesia (BRI) di posisi kesepuluh dengan aset sekitar US$ 85 miliar.

Sedangkan yang bertengger di puncak masih DBS Bank dari Singapura, disusul dua rekan senegaranya, OCBC Bank dan UOB Bank. Masing-masing tercatat memiliki aset sekitar US$ 412 miliar, US$ 346 miliar, dan US$ 295 miliar.

DBS dalam analisisnya setelah penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) Juli ini menyebut, upaya sakti untuk meningkatkan produktivitas bank di Indonesia harus dilakukan dengan meningkatkan fee based income.

Di luar negeri, perbankan besar sudah memiliki porsi fee based income hingga 40-45%. Sedangkan di Indonesia, sebagian besar pendapatan bank masih sangat didominasi oleh pendapatan bunga kredit, dengan pendapatan nonbunga sekitar 20-30% atau bahkan kurang. Mayoritas fee based income juga masih disumbang dari biaya transaksi dan administrasi tabungan, yang ditarik secara bulanan.

Sementara itu, BI bulan ini memangkas suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7DRRR) sebesar 25 basis poin ke 5,75%. Sebelumnya bank sentral RI menahan suku bunga kebijakan itu 6% selama delapan bulan, setelah kenaikan hingga 175 bps sepanjang 2018 terkait langkah The Fed menaikkan bunga acuan Amerika Serikat empat kali ke 2,25-2,50%.

Pertimbangan bank sentral RI memangkas bunga acuan antara lain untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, di tengah tekanan ketidakpastian prospek ekonomi Amerika Serikat dan masih berlangsungnya perang dagang AS-Tiongkok.

Berbeda dengan negara lain yang sudah lebih maju, sumber pembiayaan terbesar di negeri ini masih dari kredit bank umum, ketimbang dari yang lain seperti pasar modal.

Sejumlah bank di Tanah Air pun telah berupaya menggenjot fee based income. Bank Negara Indonesia (Persero) misalnya, mencatatkan non interest income atau pendapatan berbasis komisi sebesar Rp 5,37 triliun pada semester I-2019, tumbuh 11,6% secara tahunan (year on year/yoy). Sebesar 96,5% di antaranya ditopang oleh recurring fee yang mencatatkan pertumbuhan 16,6% (yoy) menjadi Rp 5,2 triliun.

Kenaikan itu didorong oleh kontribusi dari segmen business banking, antara lain fee dari trade finance yang melonjak 15,8% (yoy) dan fee sindikasi yang melambung 76,5% (yoy), sedangkan fee bank garansi hanya tumbuh 1,3% (yoy). Selain itu, dari pertumbuhan bisnis konsumer dan ritel, antara lain fee pengelolaan kartu debit yang melonjak 65,3% dan fee bisnis kartu meningkat 12,9%.

Demikian pula Bank Tabungan Negara (Persero), yang menjadi pemimpin pasar kredit pemilikan rumah (KPR). BTN optimistis meraih target laba tahun ini, dengan bertumpu pada pertumbuhan bisnis dari pendapatan bunga maupun fee based income. Per Juni 2019, fee based income BTN sudah tumbuh sekitar 22% yoy. Ini antara lain karena bank BUMN yang fokus di kredit proper ti itu aktif memasarkan digital banking lewat ATM Merah Putih, jaringan Link, dan integrasi LinkAja untuk meningkatkan penggunaan digital banking nasabah.

Digital banking di Indonesia ini prospeknya sangat bagus, dengan pertumbuhan yang luar biasa pesat. Hal ini didukung besarnya pengguna internet yang mencapai 150 juta, atau 56% dari 262 juta penduduk RI Di uang elektronik misalnya, riset DBS memproyeksikan dana mengendap bisa mencapai Rp 3.000 triliun tahun 2030. Potensi fee based income dari bisnis e-money ini mencapai Rp 47 triliun. Sementara itu, saat ini, industri perbankan kita bisa dibilang belum banyak mendulang untung dari bisnis tersebut.

Untuk menggenjot pendapatan nonbunga, perbankan juga perlu sungguhsungguh memperkuat channeling penjualan produk, seperti asuransi. Porsi dari channeling ini masih relatif sangat kecil, padahal potensi pertumbuhan bisnis asuransi sangat besar di Indonesia.

Dengan memperkuat jalur distribusi bancassurance itu, perbankan juga bisa membuka akses inklusi asuransi jiwa yang lebih luas di Tanah Air. Perbankan dapat meningkatkan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya memiliki perencanaan keuangan jangka panjang, termasuk untuk proteksi penyakit kritis. Tanpa diproteksi asuransi yang disiapkan dengan baik, penderita penyakit kritis seperti kanker, jantung, dan stroke bisa sangat menderita dan menguras dana keluarga.

Potensi pertumbuhan industri asuransi di Indonesia ini sangat terbuka lebar, karena penetrasinya masih sangat rendah, baru sekitar 2,9%. Padahal, di negara lain sudah jauh lebih tinggi, seperti di Tiongkok dan Singapura yang berkisar 4,2-4,6%. Bahkan, di negara maju seperti AS dan Inggris sudah mencapai 11,3-15,7%.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN