Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC.,  Amerika Serikat (AS). ( Foto: Daniel SLIM / AFP )

Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC., Amerika Serikat (AS). ( Foto: Daniel SLIM / AFP )

Hantu Taper Tantrum

Jumat, 18 Juni 2021 | 20:47 WIB
Investor Daily

Dalam dua hari terakhir, perhatian pelaku pasar keuangan serta otoritas fiskal-moneter global terfokus pada sidang Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee) Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Seusai sidang, Gubernur Jerome Powell menyampaikan dua kabar bersamaan.

Melegakan sekaligus mengkhawatirkan. Kabar baiknya adalah The Fed tidak akan buru-buru mengurangi pembelian obligasi tahun ini.

Saat ini, bank sentral AS rutin memborong obligasi senilai US$ 120 miliar per bulan untuk memompa likuiditas. Sedangkan kabar yang ku rang sedap adalah niat The Fed untuk menaikkan suku bunga pada 2023, bahkan kemungkinan dilakukan dua kali dalam setahun. Pernyataan ini mengingkari janji sebelumnya bahwa suku bunga tidak akan naik sebelum melewati 2023. Pengurangan pembelian obligasi, tapering of f, atau populer dengan sebutan taper tantrum memang menjadi sumber ketakutan global.

Langkah tersebut di khawatirkan bakal memicu pelarian modal besar-besaran (capital outflow) dari negara pasar berkembang termasuk Indonesia, ke Amerika Serikat. Peristiwa ini pernah terjadi pada krisis keuangan 2013, yang menimbulkan trauma hingga kini. Taper tantrum biasanya akan diikuti dengan kenaikan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) sehingga moneter akan ketat.

Ada dua indikator utama yang dicermati pelaku pasar keuangan global, sebagai da sar bagi The Fed untuk memperketat kebijakan moneternya. Pertama adalah laju inflasi, yang saat ini telah menembus 5%. Tahun ini AS menargetkan inflasi 3,4%. Namun saat inflasi melonjak, baik Jerome Powell maupun Menteri Keuangan AS Janet Yellen memastikan bahwa fenomena lonjakan inflasi saat ini hanya bersifat sementara. Tekanan inflasi secara fundamental baru akan terjadi pada tahun depan dan 2023.

Indikator kedua adalah data ketene gakerjaan. Tingkat pengangguran di Negeri Paman Sam itu masih tinggi, belum mencapai target, yang mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi belum sesuai harapan. Ekonomi AS masih membutuhkan stimulus lewat pembelian surat-surat berharga oleh bank sentral.

Atas dasar itu, The Fed masih menjalankan kebijakan yang akomodatif, sehingga masih terlalu dini untuk mengurangi stimulus kebijakan moneter alias tapering off. The Fed masih akan melanjutkan pembelian surat berharga sampai terdapat perkembangan substansial inflasi dan tenaga kerja. Bank Indonesia (BI) pun meyakini bahwa The Fed tidak akan menempuh taper tantrum tahun ini.

Itulah sebabnya, Rapat Dewan Gubernur BI kemarin memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5%. Bahkan BI mengisyaratkan tetap mempertahankan suku bunga level tersebut hingga pengujung tahun.

Taper tantrum, jika kelak terjadi, memang bisa menimbulkan implikasi yang luas. Hengkangnya modal dari pasar keuangan Indonesia bakal menekan mata uang rupiah. Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS (US Treassury) juga akan mendorong kenaikan yield Surat Berharga Negara, yang bisa memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Yang lebih dikhawatirkan lagi, kenaikan yield SBN akan menggoda perbankan nasional lebih senang menempatkan dana di obligasi pemerintah tersebut. Bank pun jadi semakin malas menyalurkan kredit. Fungsi intermediasi perbankan menjadi kian terhambat.

Padahal, BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah menempuh berbagai cara untuk mendorong ekspansi kredit bank. BI telah mengucurkan likuiditas (quantitative easing) hingga Rp 94 triliun tahun ini per 15 Juni. Bahkan sejak tahun lalu, BI telah menggerojokkan likuiditas lebih dari Rp 800 triliun.

Likuiditas yang berlimpah ini diperkuat oleh kebijakan relaksasi kredit atau restrukturisasi yang diinisiasi OJK. Yang jelas, sidang FOMC The Fed kali ini sudah memberikan arah yang jelas dan cukup melegakan pasar. Namun demikian, tapering tetap akan datang dan menghantui, kapanpun itu.

Dalam konteks ini, BI, OJK, dan Kementerian Keuangan yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) harus melakukan antisipasi dan mitigasi risiko. Langkah utama pengamanan yang mesti dilakukan adalah memperkuat fundamental makro. Beberapa indikator makro saat ini relatif kuat untuk menahan guncangan eks ternal.

Sebagai contoh, cadangan devisa tercatat mencapai US$ 136,4 miliar atau setara pembiayaan 9,5 bulan impor atau 9,1 impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Sedangkan defisit transaksi berjalan (current account deficit/ CAD) diperkirakan te tap berada di kisaran 1-2% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini. Laju in flasi tetap terjaga rendah dan berada di sekitar 3%.

Yang perlu dikendalikan adalah utang luar negeri, yang rasionya sudah lampu ku ning, mendekati 40% PDB. Ancaman berikut yang berada di depan mata adalah ledakan kredit bermasalah (NPL) perbankan sejalan dengan bakal berakhirnya relaksasi kredit pada Maret 2022. Bank Indonesia juga harus siaga mengawal rupiah agar stabilitas nilai tukar tetap terjaga.

Berbagai indikator pemulihan di sektor riil diharapkan dapat terus berlanjut asal kan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen kuat meredakan pandemi Covid. Parame terparameter positif semakin meyakinkan, seperti kenaikan indeks manufaktur (PMI), indeks keyakinan konsumen, penjualan ritel, penjualan otomotif, dan penjualan properti.

Selama berbagai indikator fundamental makro dan sektor riil tersebut dapat dijaga konsistensinya, kondisi tersebut bakal mempertebal kepercayaan (confidence) investor dan masyarakat. Berbekal fondasi itu, kita berharap langkah taper tantrum AS tidak akan mengguncang ekonomi na sional dan memicu turbulensi di pasar keuangan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN