Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta.  .Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. .Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Hasrat IPO Tak Mati Karena Pandemi

Rabu, 24 Juni 2020 | 23:12 WIB
Investor Daily

Pandemi corona tak menyurutkan hasrat korporasi untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejumlah perusahaan justru melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham di tengah stagnasi ekonomi akibat pandemi. Jumlah IPO di Indonesia selama era Covid-19 disebut-sebut yang terbanyak di dunia.

Sejak awal Januari hingga 17 Juni 2020 terdapat 28 perusahaan yang menggelar IPO di bursa saham domestik. Angka itu lebih banyak dibanding jumlah perusahaan yang melangsungkan IPO pada periode yang sama 2018 (21 perusahaan) dan 2019 (17 perusahaan).

Hebatnya lagi, dari 28 perusahaan yang telah melaksanakan IPO tahun ini, 19 perusahaan melangsungkan IPO pada Januari-Maret, selebihnya pada April-Juni. Artinya, sejak kasus Covid pertama di Indonesia diumumkan pada 2 Maret 2020, minat korporasi untuk mencatatkan sahamnya di bursa dalam negeri tetap tinggi.

Jumlah IPO saham Indonesia Terbesar di Asean dan 7 besar Dunia
Jumlah IPO saham Indonesia Terbesar di Asean dan 7 besar Dunia

Tak kalah fenomenal, sampai akhir tahun, masih banyak perusahaan yang bersiap IPO. Setidaknya terdapat 21 perusahaan yang berkomitmen melaksanakan IPO sampai pengujung 2020. Dengan demikian, sangat mungkin pencapaian IPO saham tahun ini menyamai, bahkan melebihi pencapaian IPO tahun silam.

Pada 2019, jumlah perusahaan yang melaksanakan IPO saham di bursa domestik berjumlah 55 perusahaan, dengan dana yang digalang mencapai Rp 14,7 triliun. Jumlah IPO saham Indonesia mengalahkan Malaysia (30 perusahaan), Thailand (28 perusahaan), Singapura (13 perusahaan), dan Filipina (4 perusahaan).

Sedangkan di level global, Indonesia menempati urutan ke-7. Banyak hal yang membuat minat IPO tetap tinggi di tengah pandemi corona.

Pertama, tak ada yang tahu persis kapan pandemi bakal berakhir. Juga tak bisa diprediksi kapan situasi akan kembali normal. Apalagi vaksin corona belum ditemukan. Malah ada kekhawatiran kondisi ke depan bisa lebih parah dari saat ini. Daripada terus diombang-ambing ketidakpastian, IPO sekarang adalah pilihan yang tepat.

Kedua, korporasi dan investor melakukan ‘simbiosis mutualisme’. Di satu sisi, investor berharap perusahaan yang melangsungkan IPO di tengah pandemi menawarkan harga saham perdana yang sudah terdiskon. Dengan membeli saham yang harganya murah, investor bisa mereguk keuntungan berlipat ganda saat kondisi kembali normal.

Jumlah IPO saham di BEI
Jumlah IPO saham di BEI

Di sisi lain, banyak perusahaan membutuhkan dana segar saat ini, baik untuk membayar utang, modal kerja, maupun untuk ekspansi. Meski ekonomi sedang stagnan, tak semua sektor terpukul Covid, bahkan tak sedikit yang mendapat berkah, misalnya sektor kesehatan. Kecuali itu, sejumlah perusahaan memilih ekspansi sekarang agar bisa langsung ‘berlari’ saat ekonomi pulih.

Ketiga, ekosistem pasar modal Indonesia sungguh menjanjikan. Berdasarkan suvei Bloomberg, pasar saham dan obligasi Indonesia paling digemari investor global tahun ini, menempat peringkat pertama di dunia, mengalahkan negara-negara emerging markets yang lain, seperti Tiongkok, Rusia, India, Meksiko,dan Brasil.

Ekosistem pasar modal Indonesia yang amat prospektif juga tercermin pada jumlah investor saham yang terus bertumbuh. Jumlah investor saham saat ini mencapai 1,21 juta single investor identification (SID), naik rata-rata 10% per tahun. Sedangkan jumlah emiten mencapai 692 perusahaan, meningkat 5-8% per tahun.

Dengan berbagai nilai tambah itu, wajar jika pasar saham Indonesia menjadi pilihan para investor global. Masuk akal pula bila hasrat korporasi untuk melantai di BEI tetap tinggi, tak luntur oleh pandemi. Juga tak mengherankan jika saham-saham IPO tetap diminati para investor.

Jika benar pasar saham Indonesia paling digemari investor global tahun ini, kita seharusnya tidak mengkhawatirkan aksi jual investor asing. Investor asing selama tahun berjalan (year to date/ytd) telah membukukan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 13,37 triliun.

Jika benar pasar saham Indonesia paling digandrungi investor global, kita semestinya juga tak mencemaskan volatilitas pasar saham di dalam negeri. Indeks harga saham gabungan (IHSG) telah terkoreksi 22,55% (ytd). IHSG menempati peringkat paling buncit di Asean, paling buntut di Asia Pasifik, dan ke-4 dari bawah di dunia.

Kita percaya, ke depan, pasar saham kembali membaik. Maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk memborong saham karena valuasinya sedang murah. Saham-saham di BEI kini memiliki price to earning ratio (PER) rata-rata 12,1 kali dan price to book value (PBV) rata-rata 1,8 kali. Dengan membeli saham pada harga murah, investor akan meraup keuntungan berkali-kali lipat saat pasar pulih.

Di luar itu, para pemangku kepentingan harus merasa tertantang dengan jumlah emiten yang masih minim. Meski terus bertumbuh, jumlah emiten di Tanah Air belum sepadan dengan potensinya.

Profil Pasar Modal
Profil Pasar Modal

Di Indonesia terdapat sedikitnya 5.000 perusahaan berkelas korporasi yang berpotensi menjadi perusahaan tercatat di bursa (listed company). Berarti, jumlah emiten saat ini baru 14% dari potensinya.

Jumlah investor saham di bursa domestik tak kalah jomplang. Indonesia dihuni 271 juta jiwa penduduk, dengan jumlah kelas menengah yang potensial menjadi investor pasar modal mencapai 75 juta orang. Berarti jumlah investor saham hanya 0,44% dari populasi atau baru 1,6% dari potensinya.

Itu sebabnya, kita terus mendorong otoritas pasar modal dan otoritas bursa meningkatkan pasokan (supply) emiten di satu sisi, dan menambah jumlah investor atau permintaan (demand) di sisi lain. Semakin banyak jumlah emiten dan investor, akan semakin tahan pula pasar saham domestik dari guncangan.

Kita juga harus mengakui bahwa caracara pemerintah menangani pandemi corona turut memengaruhi persepsi investor di pasar saham. Suka atau tidak suka, kita harus memaklumi pelemahan IHSG dalam beberapa pekan terakhir banyak dipengaruhi perkembangan kasus corona di dalam negeri yang masih naik turun.

Karena itu, kita menekankan pentingnya ketegasan pemerintah dalam menjalankan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Agar efektif, PSBB harus dilaksanakan secara ketat, tegas, dan masif. Bila pandemi dapat dihentikan, Indonesia bisa langsung memasuki era tatanan baru (new normal), sehingga ekonomi menggeliat lagi dan pasar saham kembali pulih.

Tak kalah penting, para investor masih menunggu stimulus fiskal senilai Rp 695,2 triliun yang realisasinya sangat rendah, rata-rata masih di bawah 10%. Stimulus sangat dibutuhkan untuk menggerakkan roda ekonomi yang macet akibat pandemi. Pemerintah harus membuat terobosan agar stimulus benar-benar menjadi stimulus (perangsang) di tengah pandemi, bukan malah membunuh gairah para investor, emiten, dan para pelaku ekonomi lainnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN