Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembentukan holding ultra mikro

Pembentukan holding ultra mikro

Holding Ultramikro

Jumat, 30 Juli 2021 | 21:30 WIB
Investor Daily

Holding ultramikro yang melibatkan tiga BUMN segera beroperasi. Payung hukum pembentukaan holding BUMN ultramikro adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 73 Tahun 2021 tentang penambahan penyertaan modal negara ke dalam modal saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang diteken Presiden Joko Widodo pada 2 Juli 2021.

Beleid tersebut mengatur pembentukan holding ultramikro yang me libatkan tiga entitas BUMN yakni PT BRI, PT Pegadaian, dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Aksi pembentukan holding ini akan dilakukan dengan cara BRI menerbitkan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT BRI Tbk pada 22 Juli 2021 telah menyetujui pelaksanaan aksi korporasi tersebut.

Selanjutnya, pernyataan efektif akan diperoleh pa da 30 Agustus 2021, dan pencatatan sa ham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan dilakukan pada 13 September 2021.

Sementara perdagangan HMETD akan dilakukan pada 13-22 September 2021. Dalam RUPSLB tersebut BRI mendapatkan persetujuan rights issue sebanyak- banyaknya 28,67 miliar saham dengan nilai nominal Rp 50 per saham.

Dalam rights issue ini, pemerintah sebagai pemegang saham BRI tidak menyetor dana tunai, melainkan mengalihkan saham Seri B pemerintah di Pe gadaian (6,24 juta saham) dan PNM (3,79 juta saham) ke BRI alias inbreng. Dengan demikian, BRI akan menjadi induk dari Pegadaian dan PNM.

Berdasarkan  prospektus yang diterbitkan pada 26 Juli 2021, nilai rights issue sebesar Rp 95,92 triliun yang berasal dari nilai inbreng atas saham Pegadaian dan PNM sekitar Rp 54,77 triliun. Nilai inbreng saham Pegadaian mencapai Rp 48,67 triliun dan PNM sebesar Rp 6,1 triliun.

Selain itu, juga berasal dari perkiraan dana tunai yang bisa diperoleh dari Penawaran Umum Terbatas (PUT) I sekitar Rp 41,15 triliun. Setelah transaksi maka BRI akan memiliki 99,99 saham Pegadaian dan PNM. Pemerintah akan miliki 1 lembar saham Seri A Dwiwarna di perusahaan.

Dana hasil dari aksi korporasi tersebut --dari pemegang saham publik sebesar Rp 41,15 triliun-- akan digunakan untuk modal kerja perseroan, khususnya untuk pembentukan ekosistem ultrami kro yang tidak hanya memberikan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi BRI, Pegadaian maupun PNM, namun juga bagi pelaku usaha yang termasuk dalam segmen ini. Pertumbuhan akan dicapai melalui berbagai upaya sinergi dan kolaborasi ketiga entitas tersebut.

Kehadiran holding ini akan mengintegrasikan dan memperkuat ekosistem segmen usaha ultramikro seja lan dengan rencana pemerintah meningkatkan peran BUMN sebagai agen pencipta nilai dan pembangunan. Holding ini akan menjangkau segmen usaha ultramikro sebagai salah satu sumber pertumbuhan perseroan di masa mendatang.

Jumlah segmen usaha mikro dan ultramikro yang diperkirakan men capai 99% dari total unit usaha di In donesia akan berperan penting dalam kemajuan perekonomian nasional.

Tiga entitas di dalam holding ultramikro (UMi) memiliki keunggulan masing- masing. BRI adalah market leader di industri perbankan yang melayani segmen UMKM, Pegadaian menjadi market leader di industri pegadaian, dan PNM adalah market leader di pembiayaan kelompok dengan fokus pemberdayaan usaha kepada kelompok wanita prasejahtera.

Masing-masing entitas bisa saling melengkapi dalam menjangkau segmen ultramikro. PNM akan bergerak dalam fase empower. Artinya, PNM akan melakukan pemberdayaan usaha kelompok masyarakat prasejahtera agar dapat menjadi wirausaha yang mandiri. Fase berikutnya adalah integrate.

Seiring dengan perkembangan usaha, kebutuhan pendanaan dapat dilayani oleh BRI seperti KUR Mikro dan Pegadaian untuk produk gadai.

Selanjutnya, dalam fase upgrade, usaha ultramikro tersebut dapat “naik kelas” ke segmen mikro dan dilayani oleh BRI melalui produk Kupedes. Pegadaian dan PNM akan men dapatkan dukungan pendanaan yang kuat dari BRI sebagai salah satu dampak holding.

Selain itu, penetrasi bisnis Pegadaian dan PNM akan semakin lebar karena mendapat sokongan dari segi infrastruktur, manajemen, teknologi, hingga jaringan dari BRI maupun integrasi kinerja di dalam holding. Dengan integrasi ini, tentu akses pendanaan menjadi murah. Dana simpanan juga akan tumbuh seiring dengan pertumbuhan nasabah Pegadaian dan PNM. BRI memerlukan sumber pertumbuhan baru guna mendongkrak bisnis ke depan agar go smaller, go shorter, go faster sebanyak mungkin dengan biaya semurah mungkin.

Dengan pembentukan holding tersebut, BRI berharap bisa menjangkau segmen ultramikro yang saat ini mencapai 63 juta unit usaha. Potensi ultramikro yang sangat besar itu dapat memperkuat core competence BRI di segmen mikro dan kecil.

Berdasarkan data Kemenkop dan ADB serta analisis perseroan, pada 2018 terdapat 45 juta usaha ultramikro yang butuh penda naan tamba han, namun hanya 15 juta yang sudah tersentuh lem baga keuangan formal.

Dari angka 15 juta itu, sebanyak 3 juta dilayani bank, 3 juta oleh layanan gadai, 6 juta oleh pinjaman kelompok, 1,5 juta mendapat layanan bank perkreditan rakyat (BPR), dan 1,5 juta dilayani financial technology (fintech). Kemudian, sebanyak 12 juta usaha ultramikro dilayani oleh rentenir (sekitar 5 juta) dan keluarga atau kerabat (7 juta).

Terakhir, sebanyak 18 juta usaha ultramikro belum mendapatkan akses pendanaan sama sekali. Kehadiran holding ini akan memiliki manfaat ekonomi yakni memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dan usaha ultramikro, manfaat sosial yakni meningkatkan kapabilitas usaha ultramikro melalui pemberdayaan usaha, dan keberlanjutan (sustainable) yakni berkontribusi terhadap peningkatan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia.

Hadirnya holding ultramikro juga menawarkan berbagai nilai tambah bagi para stakeholder. Holding ini akan memberikan pelayanan keuangan menjadi lebih lengkap terutama bagi pelaku usaha mikro dan akses yang lebih luas.

Selain itu, pelaku usaha mikro juga dapat merasakan perluasan dan kemudahan akses layanan keuangan melaui co-location dan jaringan Agen BRILink. Nilai tambah lainnya adalah terbentuknya integrasi data untuk meningkatkan efisiensi bisnis termasuk dalam penyaluran program bantuan sosial.

Tercipta percepatan proses akuisisi nasabah secara bersama melalui plat form penjualan yang terintegrasi dalam bentuk UMi Corner. Kemudian, penyediaan akses terhadap ekosistem micro payment dan layanan keuangan beyond banking dari BRI. Selain itu, yang penting adalah akan ada pemberdayaan dan peningkatan kapabilitas ultramikro sehingga dapat “naik kelas” ke segmen mikro.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN