Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Imbal Hasil Tinggi Bayangi Pasar Obligasi

Rabu, 19 Januari 2022 | 10:45 WIB
Investor Daily

Pasar surat utang global sedang menghadapi kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury yang sudah menembus rekor tertinggi. Pada perdagangan Senin (17/1), yield US Treasury benchmark 10 tahun masih bertahan di level tertingginya di 1,78%. Yield US Treasury 10 tahun terus bergerak naik menembus level 1,82% pada perdagangan kemarin, sedangkan yield US Treasury 30 tahun di posisi 2.146%, dan yield US Teasury 2 tahun berada di atas 1% untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, yakni menembus 1,04%.

Kenaikan yield US Treasury akan membuat yield surat utang Negara (SUN) Indonesia cenderung naik, dan menyebabkan harga obligasi domestic terkoreksi untuk menjaga yield spread tetap menarik di mata investor global. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga naiknya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya.

Meningkatnya yield yang diminta investor dari US Treasury akan memicu investor menyesuaikan tingkat imbal hasil dari obligasi dalam negeri. Imbal hasil SUN tenor 10 tahun, Senin (17/1) terpantau berada di posisi 6,37%. Pada akhir tahun lalu yield SUN berada di 6,27%.

Dengan begitu, yield spread US Trea sury dan SUN dari akhir tahun lalu sebesar 476 basis poin (bps) menipis ke 459 bps. Kenaikan yield US Treasur y terjadi karena dampak meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tingginya angka inflasi di Amerika Serikat (AS). Inflasi AS yang tinggi akan mendorong bank sentral AS atau The

Fed menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan semula. Tingkat inflasi di AS pada Desember 2021 men capai 7% secara tahunan (yoy) atau 0,5% secara bulanan (mtm). The Fed diperkirakan akan mengambil langkah untuk menaikkan suku bunga atau Fe deral funds rate (FFR) sebesar 75 hingga 100 basis poin pada tahun ini untuk menjinakkan inflasi. Akibatnya, imbal hasil US Treasury akan terdongkrak.

Rilis data tenaga kerja AS yang membaik juga menguatkan pandangan bahwa The Fed akan segera menaikkan suku bunga. Tingkat pengangguran (unemployment rate) pada Desember 2021 turun menjadi 3,9%, yang merupakan level terendah sejak pandemi.

Sementara rata-rata upah per jam (average hourly earnings) tumbuh lebih tinggi dibandingkan estimasi sebesar 4,7% (yoy), dan pekerja non pertanian (nonfarm payrolls) bertambah 199.000. Di pasar obligasi domestik, kenaikan yield SUN juga karena persepsi investor terhadap risiko investasi di Indonesia juga memburuk. Kondisi ini tercermin dari level credit default swap (CDS) Indonesia dalam tren naik. Pada Jumat (14/1) lalu, CDS tenor 5 tahun berada di level 84,06.

Dalam sepekan angkatersebut naik 836 basis poin (bps). Level CDS dalam tren naik setelah The Fed mengumumkan rencana tapering off dan kenaikan suku bunga lebih cepat. Tren kenaikan CDS tersebut akan membuat arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan dalam negeri menjadi terbatas.

Sebaliknya, investor cenderung memilih menaruh dananya di obligasi AS. Pelaku pasar mencermati rencana kenaikan suku bunga AS memicu arus modal berpindah ke pasar keuangan Paman Sam. Dampaknya, ketidakpastian muncul di negara berkembang dan menaikkan risiko investasi di pasar Negara berkembang. Perubahan suku bunga global dikhawatirkan dapat memunculkan risiko di luar prediksi.

Kendati dibayangi sejumlah risiko, kalangan analis melihat pasar obligasi dalam negeri masih kondusif, dengan dukungan likuiditas domestik yang masih tinggi.

Sementara level CDS berpotensi kembali turun di semester II-2022. Alasannya, kenaikan suku bunga di AS justru memukul ekonomi dan inflasi kembali melambat. Bila ini terjadi, yield US Treasury akan turun.

Selain itu, CDS berpotensi turun bila proyeksi perbaikan ekonomi Indonesia dapat terealisasi.

Selain ditopang likuiditas, imbal hasil riil (real yield) SUN paling tinggi di kawasan Asia Pasifik. Real yield adalah selisih antara imbal hasil SBN 10 tahun dan tingkat inflasi dalam negeri. Real yield Indonesia saat ini masih berada di level 4,5%, yakni imbal hasil SUN 10 tahun yang saat ini berada di level 6,37% dikurangi inflasi yang sebesar 1,87% (yoy).

Jika dibandingkan negara Asean dan berkembang lainnya, angka tersebut sangat tinggi. Pasar obligasi Indonesia juga masih mampu mencatatkan kinerja positif di tengah keluarnya aliran dana asing. Salah satu penyebabnya adalah likuiditas yang berlimpah pada sektor keuangan. Likuiditas inilah yang pada akhirnya dialihkan ke pasar SBN dan menopang pasar obligasi.

Seiring dengan neraca dagang Indonesia mencatatkan surplus, aliran investasi langsung asing (FDI) positif, pertumbuhan kredit rendah, ser ta inflasi yang terjaga membuat Bank Indonesia punya ruang untuk mempertahankan kebijakan suku bunga acuan di level 3,5%, setidaknya hingga akhir semester I-2022.

Sementara anggaran fiskal negara juga berada dalam posisi yang lebih baik seiring pendapatan Negara yang lebih tinggi dan defisit anggaran lebih rendah. Kementerian Keuangan akan menerbitkan surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 991,3 triliun pada tahun ini.

Pasar juga mencermati kebijakan burden sharing Bank Indonesia atas pembiayaan APBN 2022. Berdasar Surat Keputusan Bersama (SKB) III, bank sentral menjadi pembeli siaga (standby buyer) SBN lebih dari Rp 200 triliun.

Tren kepemilikan bank sentral di SBN akan berlanjut naik tahun ini. Naiknya porsi kepemilikan bank sentral di SBN bisa menjadi katalis positif, mengingat yield yang didapat BI di bawah yield pasar sekunder. Selain menjaga permintaan di pasar surat utang negara, pembelian BI juga akan menjaga yield SBN.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN