Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
IHSG di Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Beritasatu.com

IHSG di Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Beritasatu.com

Indeks Menuju 7.000

Senin, 8 Juli 2019 | 11:13 WIB

Kenaikan indeks 9,8% atau 627 poin tahun ini bukan sesuatu yang luar biasa. Jika ada arus modal masuk lebih kencang dan optimisme pemodal lokal, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tahun ini bakal menembus 7.000 sebelum tutup tahun 2019.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (5/7), IHSG berakhir di posisi 6.373,47. Berbagai indikator mendukung optimisme akan kenaikan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari dalam negeri, Mahkamah Konstitusi (MK) sudah menolak gugatan pasangan calon (paslon) nomor dua. Itu artinya, Jokowi –didampingi Ma’ruf Amin sebagai wapres-- akan meneruskan kepemimpinan sebagai presiden dan kepala Negara Indonesia hingga 2024.

Tidak ada yang sangat luar biasa dari Jokowi. Laju pertumbuhan ekonomi selama lima tahun kepemimpinannya hanya rata-rata 5% setahun. Rakyat tetap susah. Beban pajak kian berat. Likuiditas di masyarakat menipis. Tapi, ini semua bukan semata-mata kesalahan Jokowi. Kondisi global kurang mendukung. Banyak negara lain yang lebih sulit. Tapi, di bawah Jokowi, pembangunan infrastruktur berjalan cepat.

Proyek infrastruktur yang mangkrak di tangan swasta diteruskan oleh BUMN. Kinerja BUMN umumnya lebih baik. Aspek keadilan sosial mulai lebih diperhatikan. Ada BBM satu harga yang memungkinkan rakyat Indonesia di wilayah terpencil seperti Papua menikmati harga yang sama dengan sesama warga di Jawa.

Besarnya partai pendukung diyakini mampu memberikan kepercayaan diri kepada Jokowi untuk mengambil keputusan yang bermanfaat bagi masa depan bangsa mesti tidak populer. Sejumlah parpol yang pada pilpres 2019 berseberangan, kini berusaha masuk menjadi partai pendukung. Ini semua memberikan harapan bahwa pemerintahan lima tahun ke depan akan lebih stabil.

Dengan dukungan politik yang lebih kuat, Jokowi diharapkan mampu melakukan reformasi hukum. Undang-undang (UU) yang saling bertentangan diharmonisasi. UU bermasalah bisa cepat diamandemen. Sebagai Negara demokrasi dan membutuhkan investasi, kepastian hukum menjadi faktor sangat penting. Di level global, isyarat penurunan suku bunga cukup kencang.

Presiden Donald Trump untuk kesekian kali mendesak The Federal Reserve (Fed) menurunkan fed fund rate (FFR). Meski penurunan suku bunga acuan bukan kewenangan Presiden, alasan ekonomi AS cukup kuat bagi penurunan FFR. Hingga Mei 2019, ekonomi AS berada di puncak dengan laju pertumbuhan ekonomi 3,1% year on year. Penurunan suku bunga global akan berpengaruh positif terhadap Indonesia. Pertama, perbankan nasional juga akan menurunkan suku bunga. Apalagi inflasi diperkirakan cukup stabil. Dengan tingkat bunga deposito yang lebih rendah, pemilik dana akan beralih ke pasar modal. Penurunan suku bunga dalam negeri akan mendorong pertumbuhan kredit. Tahun ini, laju pertumbuhan kredit diperkirakan 11-14%. Dana pihak ketiga (DPK) kemungkinan akan menjadi masalah bagi perbankan.

Dalam dua tahun terakhir, laju pertumbuhan kredit lebih tinggi dibanding laju pertumbuhan DPK. Bank BUKU III dan BUKU II bakal kesulitan  mempertahankan kinerja positif. Tapi, penurunan suku bunga akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kita berharap, suku bunga rendah akan bertahan hingga lima tahun ke depan. Ditambah capital inflow, investasi dalam negeri diharapkan bergairah. Dana asing tidak saja masuk untuk investasi portofolio, melainkan juga investasi langsung. Target laju pertumbuhan ekonomi 5,3% tahun ini, mudah-mudahan, bisa tercapai.

Semua faktor ini akan berdampak positif terhadap kinerja emiten hingga beberapa tahun ke depan. Laba emiten tahun ini akan bertumbuh sekitar 12-15%. Sebagian emiten bakal mencetak kenaikan laba hingga di atas 20%. Ketika laba bersih naik, price earning ratio (PER) akan turun.

Ini semua mengisyaratkan pemodal untuk mulai mengoleksi saham berkinerja dan berprospek bagus. Saham-saham unggulan yang saat ini memiliki PER tinggi tetap perlu dikoleksi. Karena ketika terjadi kenaikan laba, PER perusahaan akan turun. Indeks 7.000 akan segera terlampaui, bahkan sebelum tutup tahun. Time to buy.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN