Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas pembangunan infrastruktur jalur bawah tanah di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Joanito de Saojoao

Aktivitas pembangunan infrastruktur jalur bawah tanah di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Joanito de Saojoao

Infrastruktur Motor Pertumbuhan Kredit

Investor Daily, Minggu, 13 Oktober 2019 | 08:06 WIB

Komitmen pemerintah yang masih gencar membangun infrastruktur tahun depan patut disyukuri. Selain infrastruktur di Tanah Air memang masih jauh dari memadai, belanja pemerintah makin dibutuhkan untuk menggerakkan ekonomi di tengah lesunya daya beli di dalam negeri dan suramnya ekonomi global.

Anggaran infrastruktur dari APBN 2020 sudah dipastikan naik 4,9% dari outlook realisasi tahun 2019 yang sebesar Rp 399,7 triliun, menjadi Rp 419,2 triliun. Hal ini sesuai empat fokus APBN ke depan, yakni pada anggaran infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.

Kebijakan tersebut sejalan dengan visi besar pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) periode kedua, yakni membangun infrastruktur dan mengoptimalkan pemanfaatannya, mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, dan meningkatkan daya saing.

Kredit Bank Umum dan Kredit Konstruksi
Kredit Bank Umum dan Kredit Konstruksi

Program infrastruktur pada 2020 ditetapkan mencakup pembangunan jalan, jembatan, jalur kereta api, bandara, bendungan, hingga infrastruktur untuk mendukung transformasi industri yang merespons revolusi industry 4.0. Pembangunan jalan ditargetkan dua kali lipat dari tahun 2019 yang sepanjang 406 km, menjadi 837 km.

Sedangkan pembangunan jembatan direncanakan mencapai 6,9 km, jalur kereta api 238,8 km, bandara baru 3 unit, dan bendungan 49 unit. Pemerintah juga akan membangun perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah sebanyak 5.224 unit rusun dan 2.000 rumah khusus.

Tak hanya itu. Pemerintah juga mencanangkan megaproyek ibu kota baru di Kalimantan Timur, yang akan banyak didanai dari non-APBN. Proyek ini diperkirakan menelan dana total sekitar Rp 466 triliun, dengan 19% diproyeksikan berasal dari APBN. Ibu kota anyar, yang juga dimaksudkan untuk mendukung pembangunan pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Jawa, kemungkinan berlokasi di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Alasan strategis Kaltim jadi lokasi ibu kota baru
Alasan strategis Kaltim jadi lokasi ibu kota baru

Kawasan induk ibu kota ini diproyeksikan seluas 40.000 hektare (ha), yang dikembangkan dari total 180.000 ha tanah milik pemerintah di sana. Pemantapan rencana pemindahan ibu kota diperkirakan selesai pada 2020. Setelah fase persiapan rampung, pembangunan infrastruktur bisa dimulai akhir tahun 2020 dan pemindahan ibu kota dari Jakarta ke lokasi baru diharapkan dimulai paling lambat 2024.

Untuk akselerasi pembangunan infrastruktur yang membutuhkan dana sangat besar itu, tentu saja anggaran APBN jauh dari cukup. Itulah sebabnya, pinjaman dari perbankan menjadi andalan, lewat kerja sama pemerintah dengan pihak swasta maupun BUMN/ BUMD.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sampai Juli 2019, pertumbuhan kredit sektor konstruksi menembus 25,4% (year on year/yoy) dan untuk sektor kelistrikan tumbuh 20,9% (yoy). Perbankan memproyeksikan, kredit konstruksi/infrastruktur masih akan menjadi motor pertumbuhan kredit hingga tahun depan.

Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta
Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

Prospek sektor infrastruktur dan konstruksi yang masih cerah ini diharapkan dapat menutup sektor lain yang kini tertekan, seperti perkebunan yang terpukul rendahnya harga komoditas dan penurunan permintaan ekspor. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), per Agustus lalu, pertumbuhan kredit investasi melambat dari 13,8% (yoy) pada bulan sebelumnya menjadi 12,7% (yoy), terutama dari segmen perdagangan, hotel, dan restoran (PHR), serta pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan.

Sedangkan secara umum, penyaluran kredit perbankan hanya tumbuh 8,6% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 5.489,6 triliun per Agustus lalu, melambat dari bulan sebelumnya yang menembus 9,7% (yoy). Perlambatan pertumbuhan kredit terjadi baik pada debitur korporasi maupun perorangan, yang masing-masing melambat dari Juli sebesar 11,4% (yoy) menjadi 9,4% (yoy) dan dari 9,2% ke 8,8%. Padahal, semula, pertumbuhan kredit diproyeksikan bisa mencapai 12% tahun ini.

Itulah sebabnya, perbankan berharap maraknya proyek-proyek infrastruktur hingga tahun depan bisa menahan agar kredit tidak terjungkal dalam. Tingginya permintaan kredit infrastruktur dan konstruksi ini tidak hanya menjadi tumpuan bank-bank BUMN yang banyak memberi pinjaman kepada perusahaan pelat merah yang menggarap proyek infrastruktur, namun juga bank-bank swasta. PT Bank Central Asia Tbk (BCA), bank swasta terbesar di Tanah Air, juga optimistis bisa ekspansi kredit dengan menggarap kredit konstruksi/ infrastruktur.

Bank BCA. Foto: Investor Daily/DOK
Bank BCA. Foto: Investor Daily/DOK

BCA tercatat sebagai emiten berkapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI), menembus Rp 748 triliun, kemarin. Optimisme perbankan itu tak berlebihan, apalagi pembayaran proyek-proyek infrastruktur yang digarap BUMN-BUMN konstruksi banyak cair di akhir tahun ini. Misalnya PT Waskita Karya (Persero) Tbk, perseroan dipastikan mengantongi dana Rp 22,2 triliun dari skema turnkey project (pembayaran oleh pemilik proyek kepada kontraktor saat pekerjaan selesai atau proyek diserahterimakan) pada Desember mendatang.

Pencairan dana tersebut di luar dana talangan tanah yang totalnya sekitar Rp 3,4 triliun. Artinya, kalau ditotal, emiten BUMN karya itu akan menerima pencairan dana sekitar Rp 26 triliun hingga akhir tahun ini.

Seiring dengan prospek kinerja yang kinclong, tak heran harga saham emiten sektor infrastruktur, utilities, dan transportasi serta konstruksi bangunan, properti, dan real estate terus menanjak. Saham-saham sektor ini menjadi buruan para investor.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA