Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Infrastruktur dibangun untuk mendukung Manado-Bitung-Likupang yang sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Infrastruktur dibangun untuk mendukung Manado-Bitung-Likupang yang sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Infrastruktur Pariwisata

Sabtu, 19 September 2020 | 11:41 WIB
Investor Daily

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang paling terpuruk selama masa pandemi Covid-19. Pembatasan mobilitas membuat orang enggan bepergian. Pengusaha hotel dan restoran menjerit sehingga pemutusan hubungan kerja (PHK) di bisnis ini tergolong paling signifikan.

Apalagi Indonesia juga melarang wisatawan manca negara (wisman) masuk. Selama tujuh bulan pertama tahun ini, hanya ada 3,25 juta turis asing yang berkunjung ke Tanah Air, merosot 65% dibanding periode yang sama tahun lalu. Hingga akhir tahun ini, diprediksi Indonesia hanya mampu mendatangkan 5 juta turis asing, jauh di bawah scenario awal 17 juta orang dengan perolehan devisa US$ 21 miliar.

Kenyataan itu tidak boleh membuat kita pesimistis. Semua Negara mengalami pukulan yang sama di sektor pariwisata. Meskipun demikian, kita tidak boleh mengendurkan semangat untuk membenahi sektor pariwisata yang sudah ada sejak jauh sebelum pandemi Covid. Salah satunya adalah infrastruktur penunjang pariwisata.

Selama ini, pemerintah telah menetapkan 10 destinasi wisata unggulan. Namun karena Covid, pemerintah kemudian fokus pada lima kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) superprioritas, yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Manado-Likupang. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran triliunan rupiah untuk membangun infrastruktur   Selain itu, pemerintah mengakselerasi proyek tol akses menuju destinasi superprioritas itu dengan investasi hampir Rp 50 triliun.

Kita harus akui bahwa infrastruktur pendukung pariwisata masih buruk, di samping aspek kesehatan dan higienitas, dukungan infrastruktur teknologi, listrik dan energi, serta masalah kelestarian lingkungan.

Lihat saja, apabila kita berwisata ke sejumlah destinasi, betapa sering terlihat infrastruktur jalan yang buruk. Konektivitas antar-destinasi wisata pun kurang mendukung. Infrastruktur telekomunikasi dan energi belum optimal. Kebersihan lingkungan juga kurang terjaga.

Di sejumlah lokasi, masyarakat setempat terkadang kurang ramah terhadap wisatawan, bahkan tak sedikit memasang berbagai tarif yang mencekik. Standar-standar yang kurang terpenuhi itulah yang membuat wisatawan menjadi kurang nyaman. Turis akan kapok dan tidak kembali ke destinasi tersebut. Akibatnya, tak sedikit destinasi wisata nasional yang sulit berkembang.

Kita mengapresiasi komitmen pemerintah bahwa pembangunan infrastruktur di lima destinasi super prioritas tidak dihentikan. Meski pemerintah tengah berjuang mengatasi penyebaran penyakit Covid dan dana besar-besaran difokuskan ke arah itu, pembangunan infrastruktur tidak boleh disetop. Infrastruktur memang tidak berdampak seketika, namun sangat strategis untuk jangka panjang.

Pembangunan infrastruktur pariwisata harus didesain secara terpadu baik penataan kawasan, jalan, penyediaan air baku dan air bersih, pengelolaan sampah, sanitasi, dan perbaikan hunian penduduk. Master plan dan tata ruangnya harus terprogram dengan baik. Infrastruktur pariwisata yang bagus akan mendorong sumber-sumber pertumbuhan baru dan mengungkit pertumbuhan ekonomi wilayah.

Selain itu, infrastruktur jalan yang memadai bakal memperkuat konektivitas antarsimpul-simpul pertumbuhan di kawasan industri dan pariwisata. Semua itu tentu akan menimbulkan dampak berganda (multiplier ef fect) sangat besar. Kita optimistis bahwa sektor ekonomi utama yang bakal cepat bangkit adalah sektor pariwisata.

Ketika pandemi Covid teratasi dengan jumlah penderita yang terus menurun, animo orang untuk berwisata akan membeludak. Orang sudah jenuh dan lelah berbulan-bulan tersandera Covid dan tidak leluasa bepergian.

Kita juga menyaksikan bagaimana setiap daerah berlomba membangkitkan pusat-pusat rekreasi baru ber nuansa alam. Pusat-pusat wisata baru di Yogyakarta, Magelang di sekitar Candi Borobudur, dan Bali merupakan contoh sukses bagaimana lokasi itu menjadi destinasi favorit baru.

Banyak investor ramai-ramai membangun wisata desa yang didesain sedemikian rupa, disertai spot-spot foto yang menarik. Konsep wisata seperti itu menjadi daya pikat luar biasa, ditunjang gemerlapnya dunia medsos yang sekaligus menjadi wahana promosi efektif. Apalagi banyak bank yang kini tertarik membiayai pengembangan wisata desa dan daerah baru.

Negeri ini memiliki modal berlimpah untuk mendongkrak sektor pariwisata sebagai lokomotif ekonomi. Bukan hanya alam yang memesona, tapi juga keindahan dan keragaman budaya, keramahan para penduduknya, tapi juga berbagai event yang digelar sehingga mampu menjaring wisatawan.

Dengan modal yang begitu berlimpah, kita optimistis mampu menjaring wisatawan dan devisa yang kita dambakan. Namun, berbagai daya tarik tersebut perlu disinergikan dengan berbagai strategi.

Di antaranya adalah pembenahan dan penguatan sumber daya manusia (SDM) pariwisata, menciptakan paketpaket promosi pariwisata yang kreatif, meningkatkan biaya promosi pariwisata, serta menciptakan berbagai event internasional untuk menarik turis asing. Jika berbagai pembenahan dan strategi di atas dijalankan secara konsisten dan simultan, pariwisata akan bangkit lebih cepat, bahkan berpotensi melampaui performa sebelum pandemi Covid.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN