Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
pembangunan infrastruktur - pertumbuhan ekonomi Indonesia.

pembangunan infrastruktur - pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Infrastruktur sebagai Lokomotif Pemerataan

Hari Gunarto, Sabtu, 14 September 2019 | 04:09 WIB

Tahun ini Indonesia mencatat prestasi mengesankan dalam konteks peringkat daya saing. Lembaga riset yang berbasis di Swiss, IMD World Competitiveness Center, telah mengganjar peringkat daya saing Indonesia di posisi 32, melesat 11 peringkat dibanding tahun lalu di level 43. Peringkat itu dinilai berdasarkan empat indikator utama, yakni infrastruktur, kinerja ekonomi, efisiensi birokrasi, dan efisiensi bisnis.

Tak diragukan lagi, selama periode kepemimpinan lima tahun Presiden Joko Widodo – Wapres Jusuf Kalla, pembangunan infrastruktur menjadi prioritas utama. Komitmen tinggi untuk mempercepat pembangunan infrastruktur diwujudkan lewat alokasi anggaran infrastruktur yang meningkat dari tahun ke tahun. Anggaran infrastruktur yang pada awal pemerintahan (2015) hanya Rp 163,1 triliun, melonjak jadi Rp 419,2 triliun pada 2019, atau naik 64% dalam lima tahun. Dana subsidi yang sebelumnya kurang tepat sasaran sebagian direalokasikan untuk anggaran infrastruktur yang produktif.

Pemerintah pun menyediakan dana talangan untuk pembebasan lahan yang selama ini menjadi kendala utama para pelaksana proyek. Selain itu, pemerintah melakukan penyertaan modal negara (PMN) pada berbagai proyek infrastruktur. Dan yang patut diacungi jempol, pemerintah banyak membangun jaringan infrastruktur di daerah terluar, terpencil, dan terisolasi terutama di luar Jawa.

Langkah berani dan terobosan-terobosan yang dilakukan Presiden Jokowi membuat berbagai hal yang awalnya tidak mungkin menjadi mungkin. Salah satu prestasi yang monumental adalah selesainya proyek mass rapid transit (MRT) Jakarta. Proyek itu sudah dicanangkan berpuluh tahun, maju-mundur, namun tak kunjung terealiasi. Lewat kepemimpinan Jokowi, MRT yang kini menjadi kebanggaan bangsa itu telah membuka lembaran dan peradaban baru dalam dunia transportasi berbasis rel. Kereta api super cepat Jakarta-Bandung adalah terobosan berani Jokowi yang lain, di samping pembangunan Bandara Kertajati.

Jokowi pula lah yang mendobrak berbagai proyek, baik jalan tol, pelabuhan, bandara, dan infrastruktur lain yang dulunya mangkrak. Proyek-proyek tersebut mandek dengan berbagai alasan, mulai dari sulitnya pembebasan lahan hingga nilai investasi yang dianggap tidak menguntungkan. Oleh Jokowi, proyek tersebut dicarikan solusi dan dilanjutkan, apapun kendala yang dihadapi oleh para kontraktor.

Presiden juga minta Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno untuk mengoptimalkan kapasitas perusahaan negara bidang infrastruktur agar mengebut berbagai proyek infrastruktur strategis. Sejumlah BUMN Karya akhirnya dipaksa, diultimatum, dan diberi batas waktu. Alhasil, proyek-proyek BUMN tersebut bisa diselesaikan tepat waktu. Terbukti, komitmen kuat dan kerja keras mampu mewujudkan itu semua.

Masyarakat luas kini telah merasakan kehadiran infrastruktur yang dikebut pemerintah dan BUMN. Selain berbagai proyek penting seperti MRT, LRT (Light Rail Transport), dan Kereta Api Super Cepat, beberapa pencapaian yang patut dicatat adalah pembangunan jalan tol lebih dari 1.000 kilometer, lebih dari 3.500 kilometer jalan biasa, ratusan unit jembatan gantung, 755 km jalur kereta api baru, 10 bandar udara baru, 19 pelabuhan baru, infrastruktur telekomunikasi Palapa Ring, 65 bendungan, 860 ribu hektare jaringan irigasi, dan banyak lagi.

Pemerintah membangun infrastruktur energi sehingga dapat mewujudkan program bahan bakar minyak (BBM) satu harga di berbagai pelosok negeri. Infrastruktur listrik juga dituntaskan sehingga tingkat elektrifikasi hampir 100 persen. Terbangunnya infrastruktur telekomunikasi dan penetrasi internet membuat masyarakat makin melek informasi dan teknologi.

Prioritas mengakselerasi pembangunan infrastruktur adalah sebuah keniscayaan. Sebab, negeri ini relatif jauh ketinggalan dalam penyediaan infrastruktur dibanding negara tetangga. Kelemahan infrastruktur inilah yang selama ini menjadi keluhan investor dalam dan luar negeri. Investor asing kini lebih memilih negara pesaing seperti Vietnam dan Kamboja yang menawarkan daya tarik lebih.

Pembangunan infrastruktur mampu mendorong konektivitas penduduk, memperlancar distribusi barang dan jasa, memangkas biaya logistik, serta dapat menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, pembangunan infrastruktur juga bakal merangsang daya saing antardaerah. Daerah dengan infrastruktur maju pasti akan diserbu investor. Infrastruktur mampu menjadi lokomotif pemerataan dan kesejahteraan, meningkatkan produktivitas masyarakat, menaikkan daya saing perekonomian nasional, serta menciptakan lapangan kerja secara masif.

Daerah-daerah yang tertinggal dan terisolasi akan semakin terangkat jika ditunjang oleh infrastruktur yang memadai. Sumber-sumber pendapatan baru bagi masyarakat akan bermunculan dan menaikkan kesejahteraan mereka. Dengan demikian, kesenjangan pendapatan antarwilayah maupun antarkelompok yang selama ini menjadi masalah sensitif di Indonesia, setidaknya dapat diperkecil.

Infrastruktur yang memadai juga akan membantu berbagai program penting pemerintah di bidang pendidikan dan kesehatan. Daerah-daerah yang sulit diakses layanan pendidikan dan kesehatan akan sangat terbantu jika didukung infrastruktur yang memadai.

Kita tahu bahwa wilayah geografis Indonesia yang demikian luas membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, terutama di luar Jawa. Pemerintah masih harus memprioritaskan infrastruktur di wilayah-wilayah kantong kemiskinan agar tidak terjadi kecemburuan sosial.

Dalam keterbatasan anggaran negara itulah, pemerintah seyogianya merangkul swasta untuk bersama-sama membangun infrastruktur. Tentu saja pemerintah perlu memberikan insentif menarik, karena infrastruktur tergolong bisnis dengan tingkat pengembalian investasi yang lama.

Ke depan, konsistensi pemerintah untuk melanjutkan percepatan pembangunan infrastruktur sangat diperlukan. Namun tentu disertai penajaman prioitas proyek dan pengawasan yang lebih intens, serta mencegah seminimal mungkin kebocoran anggaran.

Begitu vitalnya peran infrastruktur sebagai garda terdepan untuk mengungkit sektor-sektor bisnis strategis yang lain, yang kita butuhkan untuk menyerap tenaga kerja serta mengikis kesenjangan dan kemiskinan. Infrastruktur mampu mendobrak keterbelakangan sekaligus menciptakan dampak berlipat (multiplier effect) bagi perekonomian.

Dalam perspektif yang lebih makro, jaringan infrastruktur nasional yang komprehensif, mumpuni, dan canggih dapat mendorong ekonomi negeri ini tumbuh minimal 6%. Jika itu terjadi, pemerataan dan peningkatan kesejahteraan sosial pun akan lebih mudah digapai.***

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN