Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia.

Bank Indonesia.

Injeksi Likuiditas

Rabu, 20 Mei 2020 | 09:24 WIB
Investor Daily

Bank Indonesia terus menginjeksi likuiditas untuk mendukung program pemulihan ekonomi nasional (PEN) dan restrukturisasi kredit akibat wabah corona virus disease 2019 atau Covid-19. Sejak awal 2020, bank sental telah menginjeksi likuiditas ke pasar uang dan perbankan hingga mencapai Rp 583,5 triliun.

Injeksi likuiditas itu antara lain melalui pembelian surat berharga negara (SBN) dari pasar sekunder, penyediaan likuiditas perbankan melalui transaksi term-repo SBN, swap valas, serta penurunan giro wajib minimum (GWM) Rupiah.

Bank Indonesia (BI) mendorong perbankan untuk memanfaatkan lelang term-repo untuk menambah likuiditas rupiah di pasar dan mendukung program restrukturisasi kredit UMKM serta ultra mikro yang memiliki pinjaman di lembaga keuangan. Lelang term repo merupakan instrumen moneter yang memungkinkan BI untuk meminjamkan likuiditas kepada perbankan dengan agunan SBN.

Perbankan dapat memanfaatkan instrument term repo untuk ekspansi likuiditas tersebut mengingat term repo yang dilakukan bank baru mencapai Rp 43,9 triliun.

Berdasarkan data per 14 Mei 2020, nilai SBN milik perbankan saat ini mencapai Rp 886 triliun. Dari jumlah itu, untuk kebutuhan likuiditas perbankan sendiri sebanyak 6% SBN dari dana pihak ketiga (DPK) atau Rp 330,2 triliun, dan sisanya Rp 563,6 triliun bisa di-repo ke bank sentral.

Tak hanya  itu, bank sentral ikut mempertimbangkan adanya pemberian jasa giro GWM kepada semua bank untuk mendukung pemulihan ekonomi. BI juga akan terus memperkuat operasi moneter dan pendalaman pasar keuangan syariah melalui instrument Fasilitas Likuiditas Berdasarkan Prinsip Syariah (FLisBI), Pengelolaan Likuiditas Berdasarkan Prinsip Syariah (PaSBI), dan Sertifikat Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah Antar Bank (SiPA).

Likuiditas yang sudah dikucurkan BI
Likuiditas yang sudah dikucurkan BI

Selanjutnya, otoritas moneter juga akan mendorong percepatan implementasi ekonomi dan keuangan digital melalui kolaborasi antara bank dan tekfin untuk melebarkan akses UMKM dan masyarakat kepada layanan ekonomi dan keuangan. Dukungan bank sentral terhadap pembiayaan defisit fiskal juga dengan melakukan pembelian SBN yang diterbitkan pemerintah di pasar primer yang hingga 14 Mei lalu mencapai Rp 22,8 triliun.

Namun demikian, kebijakan quantitative easing (QE) yang dilancarkan bank sentral ini akan dapat memberikan dampak yang efektif ke sektor riil jika ada dukungan dari stimulus fiskal pemerintah dan stimulus sektor keuangan yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sejauh ini, OJK telah mengeluarkan kebijakan relaksasi sektor keuangan untuk membantu debitor yang kesulitan membayar cicilan di bank maupun lembaga keuangan non bank.

Pada saat yang sama, kebijakan OJK ini juga untuk meringankan beban perbankan dan lembaga pembiayaan. Karena penerapan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), menjaga jarak fisik serta bekerja dari rumah, banyak pelaku UMKM dan sektor informal termasuk pengemudi ojek online (ojol) kehilangan pendapatan dan akhirnya tak mampu membayar cicilan di bank atau lembaga pembiayaan/leasing.

Nilai Tukar Sejmlah Mata Uang terhadao Dolar
Nilai Tukar Sejmlah Mata Uang terhadao Dolar

Sedangkan pemerintah melalui kebijakan fiskal terus mendorong konsumsi masyarakat dengan program perlindungan sosial dan insentif perpajakan untuk meringankan beban dunia usaha yang terkena dampak Covid-19.

Dalam perkembangan terakhir, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan total dana penanganan dan pemulihan ekonomi nasional (PEN) akibat dampak wabah Covid-19 mencapai Rp 641,17 triliun.

Total dana untuk PEN itu di antaranya untuk dukungan konsumsi mencapai Rp 172,1 triliun, subsidi bunga kepada UMKM, dunia usaha dan masyarakat Rp 34,12 triliun, dan insentif perpajakan kepada UMKM, dunia usaha dan masyarakat Rp 123,01 triliun.

Selanjutnya, subsidi bahan bakar nabati untuk program B-30 sebesar Rp 2,78 triliun dan pembayaran kompensasi Rp 90,4 triliun. Dana PEN lainnya yakni tambahan belanja kementerian/lembaga dan sektoral mencapai Rp 65,10 triliun, dukungan untuk pemerintah daerah Rp 15,1 triliun, penjaminan untuk kredit modal kerja baru bagi UMKM sebesar Rp 6 triliun, dan Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada BUMN totalnya Rp 25,27 triliun.

Pemerintah juga memberikan dana talangan (investasi) untuk modal kerja kepada BUMN mencapai Rp 19,65 triliun.

Tak hanya itu, pemerintah juga menempatkan dana di perbankan untuk restrukturisasi kredit UMKM sebesar Rp 87,59 triliun, tapi angka ini masih akan difinalkan oleh OJK. Dana pemulihan ekonomi yang demikian besar itu harus segera digulirkan ke masyarakat dan dunia usaha agar dapat menggerakkan roda perekonomian yang sedang tertekan pandemi Covid-19.

Dibutuhkan sinergi yang kokoh agar kebijakan yang telah digelontorkan itu mampu dirasakan oleh masyarakat dan sektor riil. Kita berharap melalui sinergi kebijakan yang kuat antara otoritas moneter, fiskal, dan jasa keuangan, program pemulihan ekonomi nasional dapat berjalan dengan baik.

Pandemi Covid-19 sangat dahsyat memukul ekonomi kita. Karena itu, tanggung jawab pemulihan ekonomi nasional tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Masyarakat dan dunia usaha juga dapat mengambil peran masing-masing. Namun kuncinya adalah harus ada semangat gotong royong agar beban berat ini bisa dipikul bersama dan proses pemulihan ekonomi bisa dipercepat.

Kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Tapi yang bisa kita lakukan saat ini adalah bagaimana menjaga perekonomian nasional tidak masuk ke dalam skenario sangat buruk dengan perkiraan pertumbuhan minus 0,4%. Dengan program pemulihan ekonomi nasional yang berjalan baik, pertumbuhan ekonomi tahun ini setidakya dapat dijaga dalam skenario berat yakni 2,3%.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN