Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
IHSG di Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Beritasatu.com

IHSG di Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Beritasatu.com

Investor Optimistis

Jumat, 24 Mei 2019 | 09:05 WIB

Pasar saham Indonesia kembali menggeliat pasca pengumuman hasil rekapitulasi suara Pilpres 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Kecuali hari Rabu (22/5), indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat dalam empat hari perdagangan. Hal ini menunjukkan investor optimistis dibandingkan sepekan lalu yang mendorong IHSG terpuruk 6,16%.

Mengawali perdagangan pekan ini, Senin (20/5), IHSG ditutup menguat 80,253 poin (1,37%) ke level 5.907,12. Kemudian, Selasa (21/5), IHSG berhasil melanjutkan penguatannya dua hari berturut-turut. IHSG ditutup menguat 44,25 poin (0,74%) ke 5.951,372. Sedangkan pada Rabu (22/5), IHSG melemah 11,74 poin (0,2%) ke posisi 5.939,63. Kemarin (23/5), IHSG kembali menguat cukup tinggi sebesar 93,06 poin (1,57%) ke 6.032,67.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di perdagangan pasar spot kemarin. Rupiah berhasil memutus rantai pelemahan selama tiga hari dengan performa yang cukup meyakinkan. Pada Kamis (23/5), rupiah menguat 0,38% ke posisi Rp 14.465 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. Sebelumnya, sejak awal pekan sampai Rabu (22/5), rupiah melemah 0,48%.

Di pasar saham, aksi unjuk rasa pada Selasa yang berujung ricuh tidak memengaruhi investor untuk melakukan transaksi beli pada Kamis (23/5). Itu artinya investor memiliki rasa percaya diri untuk masuk pasar. Investor sudah memperhitungkan dampak unjuk rasa. Mereka pun yakin aparat keamanan bakal mampu meredamnya. Karena itu, bisa dibilang, isu politik sudah tidak lagi berpengaruh besar ke pasar.

Investor menilai hasil Pilpres sudah jelas dengan selisih suara yang cukup besar untuk kemenangan pasangan calon nomor 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Ditambah lagi kubu 01 juga sudah mendapat ucapan selamat dari pemimpin-pemimpin negara dunia.

Kini, perhatian investor masih terfokus pada aksi kubu pasangan calon 02 Prabowo-Sandiaga yang mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Pelaku pasar juga tidak terlalu reaktif terhadap aksi 22 Mei karena aparat keamanan dapat cepat memulihkan suasana kembali kondusif. Situasi yang kondusif ini diharapkan dapat mendorong investor untuk melakukan aksi beli dan mendorong IHSG akan naik cukup tinggi. Hal ini sudah terlihat pada perdagangan kemarin, di mana IHSG naik sebesar 1,57%, sehingga secara year to date (ytd) melemah 2,61% dibandingkan akhir pekan lalu yang minus 5,93% (ytd).

Pemerintah juga meyakinkan pasar bahwa kondisi politik dalam negeri terkait dengan demonstrasi yang diwarnai kericuhan hanya memberikan dampak sementara terhadap perekonomian Indonesia, sehingga tidak perlu disikapi berlebihan. Aksi 22 Mei kemarin tidak bisa disamakan dengan kejadian kerusuhan tahun 1998 yang berdampak luas pada perekonomian nasional. Aksi unjuk rasa kemarin lebih disebabkan oleh respons dari hasil pelaksanaan demokrasi, bukan dipicu oleh terpuruknya kondisi ekonomi masyarakat dan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi.

Menteri Koordintor Bidang Perekonomian Darmin Nasution meyakini pertumbuhan ekonomi tahun ini masih akan sesuai target yakni 5,3%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih di atas 5% itu akan menjadi faktor yang membuat pasar modal Indonesia tetap menarik bagi investor asing. Memang, saat ini investor asing masih mengambil sikap wait and see. Tapi dana asing tidak meninggalkan pasar finansial Indonesia, melainkan berpindah ke portofolio obligasi pemerintah maupun korporasi.

Penilaian senada disampaikan Bank Indonesia (BI). Gubernur BI Perry Warjiyo menilai aksi massa pada 22 Mei tidak memengaruhi investor asing untuk masuk. BI mencatat adanya aliran modal asing masuk ke aset keuangan Indonesia di surat berharga negara (SBN) dalam dua hari terakhir sebesar Rp 1,7 triliun.

Hal ini menunjukkan kepercayaan investor asing serta ekspektasi bahwa perbaikan ekonomi ke depan dengan fundamental ekonomi yang terjaga. Mencermati perkembangan pasar dalam beberapa hari terakhir ini, para investor institusi, seperti pengelola dana pensiun (dapen), asuransi, manajer investasi (MI), dan BPJS Ketenagakerjaan masih menaruh optimism yang tinggi terhadap prospek pasar saham ke depan. Mereka tetap percaya, pasar saham domestik akan kembali ke jalur positif. Itu sebabnya, para investor institusi tidak mengalihkan (switching) atau mengurangi alokasi investasinya di pasar saham.

Kita juga berharap dana asing akan tetap mengalir ke pasar modal dalam negeri, terutama dari investor institusi yang memiliki dana kelolaan sangat besar. Contohnya BlackRock Inc yang memiliki dana kelolaan sebesar US$ 6,3 triliun, kemudian disusul The Vanguard Group Inc sebesar US$ 5,1 triliun dan Charles Schwab US$ 3,36 triliun.

Selain kondisi politik dalam negeri yang stabil, valuasi saham-saham yang tercatat di BEI saat ini tergolong murah. Banyak saham bluechips kelompok LQ45 dengan price to earning ratio (PER) di bawah 10 kali. Saham-saham inilah yang layak dikoleksi investor, karena memiliki fundamental bagus, likuid, berkapitalisasi besar (big caps), dan berprospek bagus.

Saat ini merupakan momentum yang tepat bagi para investor untuk membeli saham-saham yang punya prospek bagus. Kriterianya adalah saham dari emiten yang berfundamental bagus, likuid, dan konsisten, sehingga berpotensi memberikan keuntungan dividen dan dari pergerakan penguatan saham (gain) dalam jangka menengah dan panjang.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA