Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Minat korporasi untuk menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham masih tinggi pada semester II-2018 dan tahun depan, meski pasar masih volatile. IPO saham menjadi pilihan, karena dianggap lebih murah dan fleksibel untuk menggalang dana.Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Minat korporasi untuk menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham masih tinggi pada semester II-2018 dan tahun depan, meski pasar masih volatile. IPO saham menjadi pilihan, karena dianggap lebih murah dan fleksibel untuk menggalang dana.Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

IPO Tak Terganggu Covid

Selasa, 8 September 2020 | 11:23 WIB
Investor Daily

Hari ini tiga emiten serentak mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga sudah ada 40 emiten baru yang melantai di bursa. Melihat animo perusahaan untuk go public di tengah krisis yang dipicu pandemi Covid, BEI tampaknya tidak akan kesulitan untuk memenuhi target 57 emiten anyar tahun ini.

Antusiasme investor untuk membeli pasar perdana pun tinggi. Hampir semua perusahaan yang menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, terjadi kelebihan pesanan. Ketika emiten-emiten baru mencatatkan saham perdana di BEI, harganya naik cukup tinggi, dan tak sedikit yang terkena penolakan batas atas (auto rejection).

Bagi sebuah perusahaan yang ingin maju dan berkembang, mendulang modal berbiaya murah dari pasar saham memang menjadi pilihan tepat.

Selain memperoleh dana murah, ba nyak keuntungan yang didapat perusahaan yang IPO. Perusahaan akan terpacu untuk menerapkan good corporate governance (GCG) yang baik, lebih transparan, akuntabel, dan manajemen yang solid. Pandemi Co vid terbukti ti dak menyurutkan  semangat perusahaan untuk menempuh  IPO.

Di lain sisi, masyarakat pemilik dana, khususnya kelas menengah, kian “lapar” akan alternatif instrument investasi. Krisis Covid yang menimbulkan ketidakpastian membuat masyarakat menengah atas menahan pengeluaran, sehingga memilih menyimpan dananya di bank.

Data menunjukkan bahwa mereka yang memiliki simpanan di atas Rp 200 juta, saldonya terus bertambah. Sayangnya, bunga deposito dan tabungan di bank relatif rendah, sehingga mereka pun banyak yang mengalihkan dananya ke pasar modal.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memperlihatkan bahwa sejak awal tahun, terjadi peningkatan single investor identification (SID) sebesar 21,77%, sehingga saat ini terdapat 3,02 juta SID. Hal ini membuktikan ada kenaikan signifikan investor khususnya ritel selama pandemi Covid- 19.

Yang menarik, jumlah investor usia muda dan milenial meningkat signifikan. Per 30 Juni 2020, jumlah investor di bawah 30 tahun mencapai 45,74% dari total investor. Sedangkan kelompok investor usia 31-40 tahun tercatat 24,57%. Memang, penambahan investor terbanyak terjadi pada reksa dana dibanding saham. Saat ini terdapat 2,19 juta investor reksa dana dan obligasi, sedang di saham terdapat 1,23 juta investor. Sekitar 71,4% investor pasar modal masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Kenaikan jumlah investor ritel di pasar modal yang cukup signifikan selama pandemi Covid merupakan dampak positif dari berbagai faktor. Di antaranya adalah digitalisasi dan kemudahan pembukaan rekening secara online. Selain itu, pihak Self Regulatory Organisation (SRO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) cukup gencar menggelar edukasi dan literasi.

Selama masa pandemi, BEI menggelar edukasi kepada 600 ribu investor dan calon investor. Kegiatan ini menghasilkan 30.964 pembukaan rekening investasi baru. Penambahan jumlah investor atau permintaan, memang sudah selayaknya diimbangi dari sisi suplai, yakni keberagaman instrumen investasi. Salah satunya adalah mendorong terus m e nerus perusahaan untuk go public.

Banyak perusahaan yang potensial untuk masuk bursa, termasuk yang skala kecil-menengah. Selain itu, banyak BUMN dan afiliasinya yang akan didorong untuk menggelar IPO oleh Kementerian BUMN.

Saat ini terdapat 704 emiten yang tercatat di BEI. Meski laju penambahan IPO di Indonesia tergolong pesat dibanding negara lain di kawasan regional, jumlah emiten yang go pu blic tetap ter tinggal disbanding Malaysia dan Singapura. Target kita untuk memiliki 1.000 emiten masih di awang-awang.

Itulah sebabnya, selain perlu lebih agresif menggelar sosialisasi, BEI harus terus mempermudah prosedur IPO. Rencana IPO secara elektronik_(e-IPO) perlu segera diwujudkan.

Berbagai pembenahan dan perbaikan terus dilakukan oleh SRO dan OJK. Misalnya, penerapan book building elektronik bagi perusahaan yang akan go public.  Kebijakan ini bertujuan untuk mendorong transparansi penentuan harga dan alokasi saham. Aspek penting yang juga mesti menjadi prioritas adalah memb erikan perlindungan total kepada investor.

Terlebih lagi selalu terulang berbagai praktik kejahatan di pasar modal yang merugikan investor ritel, sehingga muncul istilah predator atau pemangsa. Untuk itulah, regulasi untuk lebih melindungi investor harus terus diupayakan.

Kebijakan tentang market maker, guna mencegah terjadinya goreng-menggoreng saham, harus segera diberlakukan. Saat ini BEI sudah menerapkan kebijakan pemberian notasi atau tanda ‘tato’ pada saham bermasalah, sebagai panduan bagi investor.

OJK pun menyiapkan biro kredit sebagaimana berlaku di perbankan. Nanti data base-nya diintegrasikan dengan pusat data perbankan di Bank Indonesia. Tujuannya, jangan sampai ada investor atau pemain yang diblokir di bank, tapi bebas main margin di pasar saham.

Strategi lain adalah pembentukan disgorgement fund, untuk memberi ganti kerugian investor pasar modal. Disgorgement adalah mekanisme pengembalian keuntungan yang tidak sah oleh pelaku pasar modal.

Nanti, keuntungan yang tidak sah atau hasil penipuan di pasar modal itu dihitung dan diaudit. Dana tersebut ditampung di rekening khusus untuk dibagikan kepada investor yang tertipu.

Upaya mendorong perusahaan untuk IPO serta memperbanyak jumlah investor harus berjalan seiring. Infrastruktur dan serangkaian regulasi pasar modal harus mampu memberikan kenyamanan dan kepercayaan investor, sekaligus menciptakan ekosistem pasar modal yang sehat, kredibel, transparan, dan kondusif.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN