Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Karyawan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Jaga Investor Ritel Domestik

Selasa, 20 Oktober 2020 | 07:31 WIB
Investor Daily

Di lantai bursa, satu dekade silam, investor ritel domestik masih dianggap 'anak bawang'. Mereka dipandang sebelah mata, hanya sebagai pelengkap, karena kehadirannya nyaris tak memengaruhi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan kapitalisasi pasar (maket cap) di bursa.

Selain jumlahnya sedikit dengan modal investasi yang juga terbatas, investor ritel domestik cenderung bermental gerombolan (herd mentality). Mereka lebih banyak 'mengekor' gerak-gerak investor asing atau investor institusi. Karena mudah galau dan gampang ikut-ikutan, mereka sering terlambat mengambil keputusan investasi.

Kini, investor ritel domestik lebih superior, lebih bijak, dan lebih matang. Buktinya, ketika investor asing terus menerus melepas kepemilikan saham seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pandemi Covid-19, indeks harga saham gabungan (IHSG) tetap melaju di teritori positif. Berkat peran para investor ritel domestik, IHSG terus bertahan di level psikologis 5.000.

IHSG sempat ambruk ke level 3.937,63 pada 24 Maret 2020, diikuti anjloknya market cap saham-saham LQ45 hingga lebih dari separuhnya. Namun, IHSG belakangan ini terus menguat.

Pada Senin (19/10) kemarin, indeks bertengger di level 5.126,33. Penurunan IHSG yang sempat mencapai 30% selama tahun berjalan (year to date/ytd), kini terpangkas tinggal 18,62%. Padahal, investor asing sudah membukukan penjulan bersih (net sell) senilai total Rp 46,93 triliun.

Investor ritel domestik kini lebih superior bukan karena mereka punya dana berlimpah, melainkan karena jumlahnya banyak.

Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, pemilik single investor identification (SID) saham per akhir September 2020 mencapai 1,38 juta, naik 32% dari akhir ta hun lalu (di luar SID reksa dana yang berjumlah 2,58 juta). Jumlah investor ritel domestik me ngalami perkembangan yang amat pesat, melonjak lebih dari tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir.

Sebaliknya, porsi asing di pasar saham domestik menurun. Pada akhir 2019, kepemilikan investor asing dan domestik di pasar saham masing- masing mencapai 51,89% dan 48,11%. Pada Agustus, kepemilikan asing susut menjadi 48,77% dan lokal naik menjadi 51,23%.

Per September 2020, dari total nilai saham di KSEI sebesar Rp 3.023.03 tri liun, sekitar Rp 1.563,72 triliun atau 51,72% di antaranya dimiliki investor lokal, sisanya dikuasai asing.

Padahal, dulu, investor asing berada dalam posisi sebaliknya. Ada tendensi, jumlah investor ritel lokal atau investor domestik bakal terus meningkat. Indikasinya, jumlah investor di sejumlah perusahaan sekuritas terus bertambah selama pandemi, dengan kenaikan transaksi hingga 300%.

Banyak hal yang turut mendongkrak animo masyarakat untuk menjadi inves tor di pasar modal, khususnya saham. Salah satunya, produk investasi (saham) kini semakin mudah diakses melalui aplikasi digital, khususnya lewat smartphone. Apalagi otoritas pasar modal, oto ritas bursa, dan pihak terkait lain, ter utama perusahaan sekuritas, gencar melakukan sosialisasi dan memasarkan produknya.

Di tengah terbatasnya mobilitas akibat pandemi, masyarakat makin intens menggunakan smartphone. Dari sanalah literasi pasar saham masuk. Bagi ma syarakat yang punya dana berlebih, yang ingin uangnya berkembang dengan cara-cara mudah, praktis, bisa dilakukan kapan pun, dan dari mana pun, beri vestasi saham adalah pilihan yang tepat.

Terus bertambahnya jumlah investor ritel domestik merupakan langkah maju bagi industri pasar modal di Tanah Air. De ngan semakin meningkatnya jumlah investor ritel domestik, pasar saham dalam negeri akan lebih tahan guncangan saat mengalami gejolak yang dipicu fak tor eksternal.

Investor ritel domestic berfungsi sebagai peredam kejut (shock breaker), terutama ketika investor asing keluar dari pasar. Itu sebabnya, kita perlu mendorong agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku otoritas pasar modal dan Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku otoritas bur sa saham terus melakukan pendalam an pasar (market deepening).

Salah satu yang bisa ditempuh otoritas adalah mempe rbanyak instrumen investasi agar investor punya lebih banyak pilihan investasi. Ke depan, otoritas perlu memperbanyak instrumen derivatif yang bersifat lin dung nilai (hedging). Pasar saham In donesia dikenal sebagai pasar yang paling miskin produk derivatif. Otoritas juga perlu terus memberikan kemudahan bagi korporasi untuk melantai di BEI, baik dengan cara menyederhanakan perizinan, maupun memperluas penggunaan sistem digital.

Kemudahan harus diberikan agar lebih banyak korporasi yang mencatatkan saham (listing) di bursa domestik.

Semakin banyak emiten di bursa, akan semakin tinggi pula animo masyarakat untuk berinvestasi di pasar saham. Tentu yang harus dijaring otoritas adalah korporasi-korporasi kakap yang punya market cap jumbo.

Jangan lupa, otoritas harus terus-menerus meningkatkan praktik tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) di pasar modal lewat pe negakan hokum (law enforcement) yang ketat. Sejumlah kasus yang mendera pasar modal akhir-akhir ini, seperti mega skandal Ji wasraya yang berujung pemblokiran 800 rekening efek serta pem bekuan produk rek sa dana, menunjukkan bahwa GCG belum menjadi panglima di bursa saham Indonesia.

Pentingnya investor domestik tak berarti kita harus mengabaikan investor asing. Investor asing tetap diperlukan. Arus modal masuk (capital inflow) amat penting untuk memperkuat fundamental perekonomian nasional, terutama menjaga stabilitas nilai tukar. Karena itu, instrumen pasar saham kita harus tetap ramah terhadap investor asing.

Tak kalah penting adalah menjaga dan membina para investor ritel domestic agar mereka benar-benar menjadi investor sejati. Bukan apa-apa, sebagian be sar investor ritel yang baru masuk saat ini adalah generasi milenial. Bisa saja mereka cuma 'investor musiman' yang langsung pamit mundur begitu tahu risiko berinvestasi di pasar saham yang sesungguhnya. Maka otoritas jangan pernah berhenti untuk melakukan edukasi dan sosialisasi.

Lebih dari itu, otoritas harus menjadikan penerapan Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) sebagai momentum untuk mendorong pasar modal. Sebab selain memberikan berbagai kemudahan investasi dan insentif pajak, UU Ciptaker mengamanatkan pembentukan Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Indonesia Investment Authority (IIA). Selaku badan investasi milik Negara yang mengelola atau mengatur dana pu blik untuk diinvestasikan ke aset-aset yang luas dan beragam, manfaat SWF sudah seyogianya hadir di pasar modal domestik, termasuk dalam menjaring emiten dan investor baru.

Dengan demikian, SWF bukan saja mampu menjalankan fungsi stabilisasi ekonomi, tapi juga berhasil meningkatkan investasi dan tabungan masyarakat, serta mengelola kekayaan Negara.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN