Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia.

Bank Indonesia.

Jangan Kendur, Tak Boleh Lengah

Kamis, 15 Oktober 2020 | 22:12 WIB
Investor Daily

Hantu resesi yang sedang membayang-bayangi perekonomian Indonesia ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Buktinya, menurut Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia (BI), kegiatan usaha pada kuartal III-2020 membaik dibandingkan triwulan sebelumnya, kendati masih dalam fase kontraksi.

Perbaikan kegiatan usaha tercermin pa da nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha kuartal III-2020 yang minus 5,97%, dibanding minus 35,75% pada kuartal II-2020. Perbaikan terjadi pada seluruh sektor, terutama sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, serta sek tor pengangkutan dan komunikasi.

Tak kalah menggembirakan, di tengah pandemi Covid-19, sejumlah sektor mulai mencatatkan kinerja positif, yaitu sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan, sektor listrik, gas, dan air bersih, serta sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan kehutanan. Para responden juga memperkirakan kegiatan usaha menorehkan kinerja positif pada kuartal IV-2020, meskipun masih lebih rendah dibandingkan kuartal IV-2019.

Hasil SKDU BI setali tiga uang de ngan kinerja sektor industri pengolahan (manufaktur) sebagaimana ditunjukkan oleh Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI). Pada kuartal III-2020, PMI-BI berada di level 44,91%, naik dari 28,55% pada kuartal II- 2020, walau masih di bawah 52,04% pada kuartal III-2019.

Perbaikan terjadi pada seluruh komponen. Indeks tertinggi dicatatkan volume pesanan barang input seiring diimplementasi kannya Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mendorong permintaan dan kemudahan distribusi. Secara sektoral, seluruh subsektor mencatat perbaikan.

Subsektor semen dan barang galian nonlogam membuku kan indeks tertinggi, diikuti industri makanan, minuman, dan tembakau. Hasil SKDU BI dan PMI-BI menepis bayang-bayang mengerikan tentang resesi yang selama ini menyandera benak sebagian masyarakat.

Paling tidak, hasil survei tersebut membuktikan bahwa jantung perekonomian nasional masih berdetak, kendati tak sekencang biasanya, sehingga resesi yang tengah membelenggu negeri ini bakal segera berlalu. Indikator-indikator positif itu turut me nambah optimisme mengenai prospek perekonomian ke depan. Dalam la poran terbaru edisi Oktober 2020 bertajuk World Economic Outlook (WEO), Dana Moneter Internasional (IMF) mem perkirakan ekonomi Indonesia pada 2021 tumbuh 6,1%, jauh di atas asumsi APBN 2021 sebesar 5%.

Berdasarkan estimasi IMF, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan mengalami kontraksi atau minus 1,5%. Dibandingkan kelompok Negara ekonomi berkembang lainnya, proyeksi ekonomi Indonesia jauh lebih baik. Ekonomi Malaysia pada 2020 diproyeksikan minus 6,0%, Brazil minus 5,8%, India minus 10,3%, Meksiko minus 9,0%, Thailand minus 7,1%, dan Filipina minus 8,3%. Proyeksi IMF perihal ekonomi Indonesia tahun ini tak beda jauh dengan pemerintah.

Dalam estimasi pemerintah, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III-2020 minus 2,9% hingga minus 1,1%, sehingga pada kuartal III negeri ini memasuki fase resesi setelah pada kuartal II terkontraksi 5,32% dan hanya tumbuh 2,97% pada kuartal I secara tahunan (year on year/yoy). Ekonomi keseluruhan 2020 diperkirakan minus 1,7% hingga minus 0,6%. Wajar jika pasar memberikan respons positif. Indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir me nguat.

Selain dipicu sejumlah sentiment --seperti merger bank syariah milik BUMN, rencana pembentukan holding BUMN produsen baterai kendaraan lis trik, pengadaan vaksin Covid, dan pe ngesahan UU Cipta Kerja-- proyeksi ekonomi yang lebih cerah turut menopang penguatan pasar saham di tengah maraknya aksi demo menolak UU Cipta kerja.

Tentu saja membaiknya leading indicator (indikator dini) perekonomian di dalam negeri saat ini bukan jaminan bagi pemulihan ekonomi ke depan. Hal buruk bisa terjadi, terutama jika pemerintah gagal meredam penyebaran Covid-19 dan mereduksi dampaknya ter hadap perekonomian nasional. Nasib ekonomi ke depan bakal ditentukan oleh seberapa mampu pemerintah mengatasi pandemi.

Karena itu, kita mengingatkan pemerintah agar tetap fokus mengatasi pan demi dan memulihkan perekono mian. Bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) selaku anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), pemerintah tak boleh kendur. Jangan pula lengah. Pemerintah menganggarkan Rp 695,20 triliun untuk penanganan Covid dan pemulihan ekonomi. Namun, realisasinya hingga 28 September 2020 baru mencapai Rp 304,63 triliun atau 43,8% dari pagu.

Padahal, kualitas pe nyerapan anggaran Covid turut menentukan keberhasilan pemerintah dalam menangani pandemi dan mengatasi dam paknya terhadap perekonomian nasional. BI, hingga 9 Oktober 2020, telah memompakan likuiditas (quantitative easing/QE) ke perbankan senilai Rp 667,6 triliun demi membantu pemulihan ekonomi. OJK, sampai 7 September 2020, telah memfasilitasi restrukturisasi kredit perbankan dan pembiayaan masing- masing sebesar Rp 878,57 triliun dan Rp 168,77 triliun.

Faktanya, dunia usaha belum juga meng geliat. Banjir likuiditas di perbankan belum mengalir ke sektor riil. Tanpa bermaksud menafikan usaha keras dan pencapaian KSSK selama ini, kita secara terus terang mesti mengakui bahwa pe merintah, BI, OJK, dan LPS harus bekerja lebih keras, dan lebih keras lagi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN