Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor memantau pergerakan saham di galeri sekuritas di Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Investor memantau pergerakan saham di galeri sekuritas di Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Jangan Terlena, Tetap Waspada

Kamis, 3 Juni 2021 | 10:33 WIB
Investor Daily

Pasar saham domestik mulai bertenaga lagi. Dalam dua hari perdagangan terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat tajam, masing-masing 98,84 poin (1,69%) dan 84,11 poin (1,41%) setelah beberapa hari sebelumnya bergerak melandai.

Penguatan IHSG dalam dua hari perdagangan terakhir –terkena jeda libur Hari Lahir Pancasila 1 Juni-- sungguh melegakan. Mengapa? Karena indeks sudah menembus kembali level psikologis 6.000, persisnya di posisi 6.031,57. Level ini dibutuhkan sebagai pijakan untuk mendaki ke level yang lebih tinggi.

Tak kalah penting, kenaikan IHSG secara signifikan dalam dua hari perdagangan terakhir diikuti aksi beli bersih (net buy) secara masif oleh investor asing, masing-masing senilai Rp 748,45 miliar dan Rp 509,85 miliar, sehingga total net buy asing di pasar saham domestik selama tahun berjalan (year to date/ytd) mencapai Rp 12,35 triliun. Biasanya, asing membukukan beli bersih harian di bawah Rp 200 miliar.

Ada harapan kuat bahwa investor asing sudah mulai mengambil lagi posisi beli di pasar saham dalam negeri. Aksi beli investor bakal berdampak positif. Selain bisa menarik investor domestik, aksi beli saham secara masif oleh investor asing akan memperkuat fundamental ekonomi nasional.

Aliran masuk modal asing (capital inflow) di pasar saham akan memperkuat nilai tukar rupiah, meningkatkan cadangan devisa, serta memperbaiki neraca transaksi berjalan (current account) dan neraca pembayaran Indonesia (NPI). Inflasi barang impor (imported inflation) bisa ditekan.

Jika rupiah menguat, pasar saham domestik akan semakin atraktif bagi investor asing karena gain mereka tak tergerus selisih kurs. Lebih dari itu, rupiah yang kuat dan stabil adalah cermin bahwa ekonomi Indonesia ditopang oleh fundamental ekonomi yang kokoh, sehingga para investor tak perlu ragu untuk berinvestasi di Tanah Air.

Masuknya kembali investor asing sejatinya tak terlalu mengejutkan. Sejak awal tahun, berbagai indikator utama ekonomi mengalami perbaikan yang signifikan. Bahkan, PMI Manufaktur Indonesia periode Mei 2021 berada di level 55,3 yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Angka itu menunjukkan manufaktur di dalam negeri sudah ekspansi dan pemulihan ekonomi sedang berjalan.

Indikator terbaru lainnya adalah inflasi. Pada Mei 2021 terjadi inflasi 0,32% akibat kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Mei) 2021 mencapai 0,90%, dengan laju inflasi tahun ke tahun (Mei 2021 terhadap Mei 2020) sebesar 1,68%. Komponen inti pada Mei 2021 mengalami inflasi 0,24%, dengan inflasi inti tahun kalender 0,61% dan inflasi inti tahun ke tahun 1,37%.

Setelah pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi selama empat kuartal berturut-turut (kuartal II-2020, kuartal III-2020, kuartal IV-2020, dan kuartal I-2021), kehadiran inflasi justru menggembirakan. Apalagi inflasi Mei merupakan yang tertinggi dalam lima bulan terakhir. Angka-angka itu menyiratkan daya beli masyarakat yang tergerus akibat pandemi Covid-19, berangsur membaik.

Tentu kenaikan tajam IHSG dalam dua hari perdagangan terakhir bukan sepenuhnya terdongkrak sentimen positif di dalam negeri. Indeks juga mendapat stimulan dari sejumlah sentimen luar negeri, seperti kenaikan harga minyak, batu bara, dan nikel, serta membaiknya data-data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sebagai dua mesin utama pertumbuhan ekonomi dunia.

Namun, sulit dimungkiri bahwa para investor di lantai bursa, terutama investor asing, semakin yakin ekonomi Indonesia sedang menuju pemulihan. Apalagi pemerintah tengah berupaya mempercepat vaksinasi untuk mengejar target kekebalan komunal (herd immunity) pada kuartal I-2022. Kecuali itu, peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 pasca-Idulfitri tahun ini tak setinggi peningkatan kasus pasca-Idulfitri tahun silam, sebagaimana dikhawatirkan sebelumnya.

Kita sepakat bahwa perbaikan berbagai indikator ekonomi yang terus terjadi saat ini bukan jaminan ekonomi segera pulih. Ekonomi masih dibayang-bayangi ketidakpastian. Covid-19 masih menghantui negara mana pun di dunia. Pemulihan ekonomi yang telah diupayakan dengan susah payah, bakal kandas jika Covid-19 kembali berkecamuk.

Ada baiknya kita berkaca pada kasus Covid yang meningkat tajam di negara-negara tetangga. Malaysia bahkan mulai memberlakukan penguncian akses (lockdown) nasional secara ketat seiring memburuknya penyebaran Covid di negara tersebut. Pembatasan ketat juga diberlakukan Singapura dan Thailand. Vietnam yang tahun lalu dipuji-puji karena sukses meredam Covid-19, kini tengah berjuang melawan gelombang baru pandemi.

Karena itu, kita meminta semua pihak tidak terlena dan harus tetap waspada. Vaksinasi mesti berlangsung sukses. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro yang diberlakukan pada 1-14 Juni 2021 harus dikawal. Jika vaksinasi sukses dan kasus Covid bisa ditekan, para investor kian percaya diri untuk memborong saham. IHSG bakal melesat.

Tentu pemulihan ekonomi tak bisa semata mengandalkan vaksinasi dan penanganan pandemi. Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi setelah minus 5,32% pada kuartal II-2020 (yoy), minus 3,49% pada kuartal III-2020, minus 2,19% pada kuartal IV-2020, dan minus 0,74% pada kuartal I-2021, pemerintah harus punya 'mesin pertumbuhan berpendorong turbo'.

Tanpa dukungan 'mesin turbo', pertumbuhan ekonomi nasional  tak akan mencapai 4,5-5,3% pada 2021 dan  5,2-5,8% pada 2022 sebagaimana ditargetkan pemerintah, sekalipun herd immunity tercapai pada kuartal I-2022. Mesin turbo pertumbuhan ekonomi Indonesia tiada lain reformasi struktural, terutama implementasi UU Cipta Kerja.

UU Cipta Kerja harus segera diberdayakan. Lewat omnibus law ini, pemerintah bisa menjaring investor, terutama investor asing, di sektor riil sebanyak-banyaknya agar angka pengangguran bisa dipangkas, angka kemiskinan bisa dikikis, dan angka pertumbuhan ekonomi bisa dipacu. Terlebih pemerintah sudah mengoperasikan Lembaga Pengelola Investasi (LPI). Kini, kita justru bertanya-tanya karena UU Cipta Kerja makin terdengar sayup-sayup lembut.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN