Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi kartu ATM/kartu kredit. Foto ilustrasi: IST

Foto ilustrasi kartu ATM/kartu kredit. Foto ilustrasi: IST

Kebebasan Finansial

Rabu, 16 September 2020 | 10:34 WIB
Investor Daily

Krisis senantiasa melahirkan kemiskinan dan pengangguran baru. Begitu pula krisis pandemi Covid-19 yang disebut-sebut lebih dahsyat dari krisis moneter 1998 dan krisis finansial global 2008.

Di Indonesia, pemutusan hubungan kerja (PHK) membuat sekitar 7 juta orang harus kehilangan pekerjaan. Krisis Covid juga membuka mata kita betapa ada puluhan juta orang dan keluarga yang tidak memiliki dana darurat atau tabungan sama sekali. Mereka hanya mengandalkan penghasilan harian, yang belum tentu mencukupi kebutuhan hidup.

Kian maraknya bisnis gadai swasta dan antrean orang yang mengajukan pinjaman darurat ke pegadaian merefleksikan kemendesakan akan kebutuhan uang. Demikian pula kian masifnya bisnis peer to peer lending dengan persyaratan yang amat mudah, menjadi sasaran empuk kelompok masyarakat bawah yang terdesak kebutuhan dan butuh pinjaman cepat cair.

Berbagai fenomena tersebut juga menggambarkan bahwa sebagian besar masyarakat kita tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik.

Mereka tidak disiplin dalam menabung atau memberikan proteksi terhadap risiko kehidupan yang dihadapi. Apalagi untuk bicara tentang kebebasan finansial, itu terlalu jauh, bahkan banyak yang tak terpikirkan sama sekali.

Tapi itu bukan cuma tipikal   masyarakat Indonesia. Masyarakat Amerika Serikat   sangat maju dan ekosistem finansialnya sangat canggih pun kelabakan menghadapi pandemi Covid. Sebuah survei terbaru menunjukkan, sekitar 40% orang Amerika tidak ada uang untuk berjaga- jaga, meskipun hanya US$ 400.

Utang kartu kredit mencapai tingkat tertinggi dan mereka tidak mampu bayar. Sekitar dua pertiga penduduk AS tidak lulus tes literasi keuangan level basic. Atas dasar fakta tersebut, krisis Covid sekarang merupakan momentum yang tepat untuk mengingatkan pentingnya merencanakan keuangan untuk menciptakan kebebasan finansial.

Di Indonesia, tingkat inklusi keuangan sudah lumayan tinggi, namun tingkat literasi mereka rendah. Akibatnya, mereka bukan hanya tidak memahami pentingnya perencanaan keuangan, namun yang lebih fatal, mereka sering terjerat oleh berbagai produk investasi ilegal.

Literasi keuangan dan perencanaan keuangan terlebih-lebih amat penting bagi kaum milenial. Meski belakangan investor milenial sudah melek pasar modal, bukan jaminan mereka memahami pentingnya kebebasan finansial.

Mengacu data di Bursa Efek Indonesia, jumlah investor usia muda dan milenial meningkat signifikan. Per 30 Juni 2020, jumlah investor di bawah 30 tahun mencapai 45,74% dari total investor. Sedangkan kelompok investor usia 31-40 tahun tercatat 24,57%.

Kaum milenial selaku pelaku ekonomi penting saat ini harus memiliki perencanaan keuangan yang cerdas. Sebab, berbagai survei yang dilakukan oleh bank dan asuransi membuktikan bahwa kaum milenial lebih rentan secara finansial. Banyak milenial yang tidak sadar bahwa investasi pensiun 15 tahun lebih awal akan mendapatkan hasil 4 kali lipat.

Banyak kaum milenial yang tak mampu membeli rumah atau apartemen sederhana. Milenial juga disebut-sebut tidak mempersiapkan dana dar urat. Mereka lebih banyak menghabiskan uang untuk jalan-jalan dan berbelanja. Kebanyakan mereka menabung kalau ada uang sisa. Padahal, sehar usnya menabung itu bukan dari uang sisa, tapi menyisihkan uang untuk menabung dulu, baru menggunakan uang sisa untuk kebutuhan lain.

Itulah sebabnya, literasi keuangan harus dikuasai oleh kaum milenial, agar mereka mampu mewujudkan kebebasan finansial (financial freedom). Ada beberapa strategi untuk hal itu, antara lain menentukan tujuan keuangan sejak awal, memahami kondisi keuangan ter utama kewajiban yang mesti dipenuhi, memulai investasi dan menabung sejak dini, melunasi utang, dan mempersiapkan dana darurat.

Selain menaikkan literasi keuangan   masyarakat termasuk milenial harus menghindari jebakan investasi yang menyesatkan alias ilegal. Keputusan untuk berinvestasi harus mengacu pada legalitas dan logis. Harap diingat bahwa investasi ilegal biasanya menjanjikan keuntungan tidak wajar dalam waktu cepat. Investasi itu menjanjikan bonus dari perekrutan anggota baru. Investasi illegal biasanya menjanjikan aset aman dan jaminan pembelian kembali, padahal tidak ada investasi yang tidak berisiko.

Dalam konteks itulah, pemerintah, otoritas terkait, lembaga keuangan, dan para pemangku kepentingan penting untuk menggencarkan sosialisasi dan edukasi tentang literasi keuangan.

Masyarakat, khususnya kaum milenial, harus dididik sejak dini pentingnya disiplin menabung dan berinvestasi, merencanakan keuangan secara baik, dan menghindari tawaran investasi ilegal.

Dengan menyiapkan perencanaan keuangan sejak dini, setiap individu akan lebih siap dan resilien menghadapi krisis yang bisa datang sewaktu- waktu. Dalam perspektif lebih makro, jika masyarakat berdisiplin merencanakan keuangannya, stabilitas sistem keuangan akan terjaga, dan perekonomian akan lebih tahan dalam menghadapi guncangan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN