Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Kehati-hatian Ekspansi Kredit

Selasa, 10 September 2019 | 12:03 WIB

Masa keemasan pertumbuhan kredit perbankan telah berakhir, beriringan dengan redupnya harga komoditas Indonesia di pasar global, baik komoditas perkebunan maupun pertambangan. Ketika harga komoditas ekspor kita berjaya pada era 2010-2014, perbankan juga jorjoran mengguyur kredit, sehingga pertumbuhan pembiayaan bank pada periode tersebut mencapai di atas 20%.

Booming komoditas sudah lama berlalu. Sebagian kredit yang telanjur nyemplung ke pembiayaan komoditas akhirnya bermasalah. Tingkat kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) kredit komoditas sempat tinggi, meski kemudian berangsur turun karena program restrukturisasi dan hapus buku.

Kini perbankan harus lebih realistis dalam menyalurkan kredit, seiring tekanan global yang kian meningkat. Baik akibat pertumbuhan ekonomi yang mulai melemah di Amerika Serikat, Tiongkok, Eropa, dan kawasan lain maupun dampak berganda dari perang dagang Amerika Serikat versus Tiongkok.

Setelah 2017 kredit industri perbankan hanya tumbuh 8,8%, tahun lalu mencapai dua digit di 11,8%, tahun ini ekspansi kredit diprediksi berada di level 12 plus/minus satu persen. Tahun depan, ekspansi kredit kemungkinan tidak jauh dari level tahun ini alias flat, karena tekanan global yang masih membayangi.

Beberapa bank BUMN masih optimistis kreditnya mampu tumbuh dua digit, baik tahun ini maupun tahun depan. Ada dua faktor utama yang melandasi optimisme bahwa kredit perbankan tetap ber tumbuh, meski dalam atmosfer global yang kurang bersahabat.

Pertama, sinyal dovish atau pelonggaran moneter yang diisyaratkan Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell akan diikuti bank-bank sentral negara lain, tak terkecuali Bank Indonesia (BI).

Setelah memangkas dua kali tahun ini ke 5,5%, BI memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan, karena faktor inflasi yang terjaga rendah dan nilai tukar rupiah yang stabil. Penurunan suku bunga secara otomatis akan diikuti oleh kenaikan permintaan kredit.

Kedua, dalam situasi yang tidak pasti, masih banyak sektor yang menarik untuk dibiayai perbankan karena prospeknya cukup menjanjikan. Di antaranya adalah kredit infrastruktur, jasa keuangan, jasa kesehatan, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, konsumsi, dan telekomunikasi.

Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit sektoral yang pertumbuhannya bagus antara lain konstruksi termasuk infrastruktur, real estat, perkebunan, industri pengolahan, perdagangan, dan perantara keuangan. Itulah yang membuat para bankir optimistis pertumbuhan kredit bakal mampu menembus dua digit pada tahun ini dan tahun depan.

Meski demikian, perbankan tetap harus meningkatkan prinsip kehati-hatian dan lebih selektif. Pelemahan ekonomi global dan perang dagang AS-Tiongkok dapat memberikan implikasi yang tidak terduga. Langkah antisipasi, mitigasi, dan manajemen risiko harus sungguh-sungguh dijalankan terhadap kemungkinan terburuk yang bakal terjadi.

Strategi tersebut mutlak dilakukan guna mencegah terjadinya kemungkinan membengkaknya kredit bermasalah. Hingga akhir tahun, para bankir optimistis tingkat kredit bermasalah cenderung menurun. Tren ini harus dijaga, dengan menerapkan prinsip kehatihatian yang lebih baik. Namun sebaliknya kredit bermasalah bisa membengkak jika penyaluran kredit tidak dilakukan dengan hati-hati.

Sejalan dengan itu, perbankan mesti meningkatkan efisiensi. Selain memangkas biaya operasional, bank-bank harus terus memperbaiki sistem teknologi untuk memenuhi tuntutan nasabah sekaligus guna memenangi persaingan dalam derasnya arus digitalisasi sektor keuangan yang terjadi belakangan ini.

Di lain sisi, otoritas terkait mesti menjaga stabilitas makro dan iklim bisnis yang kondusif. Otoritas moneter dan fiskal harus saling bersinergi dan berkoordinasi. Bauran kebijakan yang diterapkan Bank Indonesia mesti mampu menjaga keseimbangan antara upaya pelonggaran moneter untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi dan upaya menjaga stabilitas kurs dan inflasi.

Paralel dengan itu, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) harus memastikan bahwa stabilitas sistem keuangan domestik terjaga dengan baik. Jaminan ini penting untuk memberikan kepercayaan terhadap investor dan dunia usaha, sekaligus untuk menarik dana-dana asing masuk. Stabilitas sistem keuangan juga dapat memberikan persepsi positif tentang prospek perekonomian Indonesia ke depan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN