Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Kemiskinan, Ketimpangan

Gora Kunjana, Selasa, 17 Juli 2018 | 09:11 WIB

Di tengah kekhawatiran bakal melesetnya sejumlah target pemerintah tahun ini, ter utama target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data yang menyejukkan. Per Maret 2018, jumlah penduduk miskin mencapai 25,95 juta orang atau 9,82% dari populasi, berkurang 633,2 ribu orang dibandingkan September 2017 yang mencapai 26,58 juta orang (10,12%).


Tak kalah menyejukkan, ketimpangan kaya-miskin di Tanah Air menurun. Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur berdasarkan rasio Gini pada Maret 2018 berada di posisi 0,389, turun 0,002 poin dibandingkan September 2017 di level 0,391. Juga berkurang 0,004 poin dari Maret 2017 sebesar 0,393.


BPS bahkan mengklaim tingkat kemiskinan pada Maret 2018 merupakan yang terendah dalam sejarah dan kali pertama persentase penduduk miskin di Indonesia mencapai satu digit. Selain itu, indeks kedalaman kemiskinan pada September 2017-Maret 2018 turun dari 1,79 menjadi 1,71.


Begitu pula indeks keparahan kemiskinan, berkurang dari 0,46 menjadi 0,44. Terlepas dari klaim BPS yang tidak memberikan rujukan pasti mengenai data kemiskinan dari masa ke masa, kita patut merasa lega. Penurunan jumlah penduduk miskin mengindikasikan programprogram pengentasan kemiskinan yang digulirkan pemerintah mulai membuahkan hasil.


Tapi, tanpa bermaksud menafikan keberhasilan tersebut, kita yakin pemerintah masih harus bekerja keras untuk memangkas angka kemiskinan yang ‘sesungguhnya’. Sebab, jika mengacu pada faktor-faktor yang dibeberkan BPS, penurunan jumlah penduduk miskin pada September 2017-Maret 2018 lebih banyak disebabkan program bantuan pemerintah.


Dalam catatan BPS, yang mengakibatkan jumlah penduduk miskin berkurang pada September 2017-Maret 2018 antara lain melonjaknya bantuan sosial (bansos) tunai dari pemerintah sebesar 87,6% pada triwulan I-2018, dibanding triwulan I-2017 yang hanya tumbuh 3,39%. Selain itu, program Beras Sejahtera (Rastra) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) telah tersalurkan sesuai jadwal.


Berpegang pada variabel-variabel tersebut, kita semakin yakin jumlah penduduk miskin di negeri ini bukan sepenuhnya berkurang akibat kesejahteraan yang naik. Mereka tidak jatuh miskin atau terentaskan dari jurang kemiskinan lebih karena ‘uluran tangan’ pemerintah yang sifatnya temporer atau jangka pendek. Pemerintah baru memberikan ‘ikan’, bukan ‘kail’.


Selama yang diberikan pemerintah tetap ‘ikan’, bukan ‘kail’, angka kemiskinan sewaktu-waktu bisa membengkak kembali. Penduduk miskin rentan semakin miskin, penduduk setengah miskin rawan jatuh miskin. Lain cerita jika pemerintah menitikberatkan program pengentasan kemiskinan pada pembukaan lapangan kerja baru untuk meningkatkan pendapatan penduduk secara permanen dan berkelanjutan.


Masih rentannya angka kemiskinan juga terkonfirmasi oleh pengeluaran rumah tangga. Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan untuk rumah tangga yang berada di 40% lapisan terbawah hanya tumbuh 3,06%. Kecuali itu, nilai tukar petani (NTP) pada Maret 2018 tak jauh dari angka 100, persisnya hanya 101,94, itu pun karena survei dilakukan saat panen raya.


Fakta lainnya, angka kemiskinan masih sangat dipengaruhi harga pangan, terutama beras. Akibat kenaikan harga beras yang cukup tinggi, mencapai 8,57% pada September 2017-Maret 2018, penurunan angka kemiskinan tidak secepat periode sebelumnya. Pada Maret 2017-September 2017, harga beras relatif stagnan Selama ini, peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan lebih besar dibandingkan komoditas nonmakanan, seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Makanan berkontribusi 73,48%, naik dari sebelumnya 73,35%. Itu ar tinya, penduduk hampir miskin masih rawan jatuh miskin kembali bila harga makanan naik.


Membaiknya rasio Gini juga perlu tetap dicermati. Sebab, lagilagi, perbaikan rasio Gini masih rentan, mengingat kenaikan ratarata pengeluaran per kapita per bulan penduduk kelompok bawah tak terlalu signifikan meski BPS menyatakannya lebih cepat. Ratarata pengeluaran per kapita pada September 2017-Maret 2018 untuk kelompok penduduk 40% terbawah, 40% menengah, dan 20% teratas masing-masing naik 3,06%, 2,54%, dan 2,59%.


Angka kemiskinan yang rendah tapi semu tentu tidak kita harapkan. Rasio Gini yang kecil tapi bias, jelas tidak kita inginkan. Karena itu, kita mendorong pemerintah untuk membuat program pembukaan lapangan kerja baru secara masif dan implementatif bagi para penduduk miskin. Dengan begitu, angka kemiskinan yang rendah atau rasio Gini yang kecil benarbenar riil, faktual, dan nyata, bukan fatamorgana.


BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA