Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Kepanikan Investor

ah, Rabu, 29 April 2015 | 05:16 WIB

Para investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dilanda kepanikan. Aksi jual membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI terjungkal hingga 3,49% ke level 5.245 pada penutupan Senin (27/4). Ini merupakan penurunan paling tajam dalam 20 bulan terakhir. Investor asing mencatat net sell signifikan hingga Rp 2,2 triliun.


Kinerja keuangan sejumlah emiten yang di bawah ekspektasi serta kekhawatiran perlambatan ekonomi pada kuartal pertama menjadi alasan investor melakukan aksi jual. Salah satu saham bluechip, PT Astra International Tbk (ASII), mengumumkan penurunan laba bersih 15,5% pada kuartal I-2015 dibanding periode sama 2014. Itulah sebabnya, harga saham ini terpangkas 5,4% pada perdagangan, Senin. Saham Bank BRI (BBRI) anjlok 7,14% dan saham Bank BCA (BBCA) tergerus 4,7%.


Aksi jual dan profit taking merupakan sesuatu yang lumrah terjadi lantai bursa. Justru di situlah menariknya pasar saham. Namun, penurunan yang hingga 3,49% terbilang tidak wajar, overshoot, dan ini lebih dipicu oleh faktor psikologis. Apabila asing ramai-ramai jual saham, biasanya investor domestik ikut-ikutan panik dan melakukan langkah serupa. Tapi pada saat bersamaan biasanya asing juga memborong saham ketika harga sudah di bawah.


Kepanikan berlebihan investor sebenarnya tidak perlu. Meski di bawah ekspektasi, toh kinerja keuangan sejumlah emiten tetap bertumbuh. Hanya terjadi sedikit perlambatan. Sejumlah analis meyakini bahwa pada semester II, kondisi kinerja emiten akan membaik.


Demikian pula pertumbuhan ekonomi yang menjadi sumber kecemasan investor. Boleh jadi pertumbuhan ekonomi kuartal I ini akan lebih rendah dibanding kuartal I tahun lalu sebesar 5,2%. Namun secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi tahun ini akan jauh lebih tinggi dibanding tahun lalu yang hanya meningkat 5,02%. Pemerintah masih berkukuh pada target pertumbuhan 5,7% tahun ini, Bank Indonesia memprediksi 5,4-5,8%, serta Bank Dunia memperkirakan minimal 5,2%.


Sejatinya, fundamental ekonomi Indonesia masih bagus. Pertumbuhan ekonomi cukup tinggi di tengah pertumbuhan global dan negara-negara lain justru melemah. Indonesia masih menjadi magnet investasi, baik portofolio maupun investasi asing langsung (FDI).


Badan Koordinasi Penanaman Modal kemarin mengumumkan investasi kuartal I yang mencetak rekor terbaru sepanjang sejarah, sebesar Rp 124 triliun atau tumbuh 16,9% dibanding periode sama 2014. Sedangkan khusus PMA atau FDI tumbuh 14%. Di portofolio, arus modal masuk masih besar. Net inflow di pasar saham sejak awal tahun tercatat Rp 14,3 triliun dan di surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 47,7 triliun. Besarnya penguasaan asing atas aset finansial di Indonesia juga mencerminkan kepercayaan mereka terhadap prospek perekonomian nasional.


Konsumsi masyarakat relatif masih kuat, kendati untuk sementara sedikit melemah karena kenaikan harga. Karena itu, menjadi tantangan Pemerintah Joko Widodo untuk menstabilkan harga bahan kebutuhan pokok.


Di lain sisi, konsumsi pemerintah akan semakin membesar, seiring pencairan belanja. Pencairan belanja modal akan makin besar memasuki kuartal II ini hingga penghujung tahun. Dengan anggaran infrastruktur Rp 290 triliun dan belanja lain yang sangat signifikan, semua itu akan memberikan daya dorong yang luar biasa terhadap perekonomian.


Kita percaya bahwa pemerintah dan Bank Indonesia sudah bekerja untuk meluncurkan berbagai kebijakan guna membenahi ekonomi dan menempuh reformasi struktural. Sebagian implementasinya sudah berjalan. Hanya saja, pemerintah masih lemah dalam mengkomunikasikan kebijakan tersebut. Komunikasi sangat penting agar memberikan persepsi positif di mata investor dan masyarakat.


Kita juga percaya akan kredibilitas Jokowi yang bebas kepentingan, memiliki komitmen kuat, dan masih memperoleh dukungan luas masyarakat. Kelemahan pemerintahan Jokowi adalah komunikasi kebijakan dan tim kabinet yang lemah.


Dalam konteks ini, reshuffle kabinet bisa dilakukan untuk beberapa pos yang kinerjanya tidak sesuai ekspekstasi. Dengan modal tersebut, kita optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih solid. Itulah sebabnya, tidak ada alasan bagi investor untuk khawatir secara berlebihan. Kita berharap pelemahan indeks harga saham yang terjadi saat ini bersifat temporer, karena fundamental emiten secara umum masih meyakinkan.

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA