Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan) disaksikan Menko Perekenomian Darmin Nasution, Menteri
Keuangan Sri Mulyani, Gubernur BI Perry Warjiyo, Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil dan Kepala BKPM Thomas Lembong (kiri) memukul gong saat membuka seminar nasional perekonomian di Jakarta, Jumat (9/8/2019). Foto: B1/Ruht Semiono

Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan) disaksikan Menko Perekenomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Gubernur BI Perry Warjiyo, Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil dan Kepala BKPM Thomas Lembong (kiri) memukul gong saat membuka seminar nasional perekonomian di Jakarta, Jumat (9/8/2019). Foto: B1/Ruht Semiono

Ketika CAD Melebar

Sabtu, 10 Agustus 2019 | 10:29 WIB

Apa yang dikhawatirkan oleh investor dan ekonom akhirnya menjadi kenyataan. Data neraca pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2019 yang dirilis Bank Indonesia lebih buruk dari perkiraan. Gubernur BI Perry Warjiyo yang semula meyakini NPI bakal surplus di atas US$ 3 miliar, realisasinya justru defisit US$ 2 miliar pada kuartal II dan hanya surplus US$ 0,4 miliar sepanjang semester I-2019.

Meski demikian, bila dibedah lebih detail struktur NPI kuartal II tersebut, terdapat fakta-fakta positif, meski banyak pula data yang cukup menciutkan nyali. Sisi positif terlihat pada surplus transaksi modal dan finansial (TMF) yang tetap besar, di tengah turbulensi dan ketidakpastian pasar finansial global. Surplus neraca TMF pada kuartal II mencapai US$ 7,1 miliar, ditopang aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio.

Aliran masuk investasi langsung tercatat sebesar US$ 7,0 miliar, sementara investasi portofolio menembus US$ 4,5 miliar. Alhasil, surplus TMF hingga semester I-2019 pun melambung hingga US$ 17,0 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan surplus pada semester I-2018 yang hanya sebesar US$ 5,3 miliar.

Kabar baik lainnya adalah cadangan devisa pada akhir Juni 2019 yang mencapai US$ 123,8 miliar, setara dengan pembiayaan tujuh bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Level itu berada di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor.

Adapun kabar kurang sedapnya adalah melebarnya defisit transaksi berjalan (current account deficit/ CAD), yang pada kuartal II mencapai US$ 8,4 miliar atau setara 3% dari produk domestik bruto (PDB). Melebarnya defisit dipengaruhi perilaku musiman repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri, serta dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan merosotnya harga komoditas.

Memburuknya CAD juga merupakan imbas dari perlambatan ekspor nonmigas serta lonjakan impor migas. Defisit neraca perdagangan migas pada kuartal II naik jadi US$ 3,2 miliar, dibanding US$ 2,2 miliar pada kuartal sebelumnya. Kenaikan tersebut seiring dengan merangkaknya harga minyak global dan peningkatan permintaan musiman impor migas terkait hari raya Idulfitri dan libur sekolah.

Bank Indonesia tetap melihat bahwa kondisi saat ini masih terkendali. Data NPI menunjukkan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia tetap terjaga. BI optimistis NPI akan membaik pada tahun ini, paralel dengan defisit transaksi berjalan yang bakal menyempit.

Pejabat BI dan petinggi pemerintah boleh saja melontarkan optimisme, namun perkembangan CAD tetap menuntut kewaspadaan tinggi. Sebab, kian meruncingnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok menambah kekhawatiran neraca perdagangan Indonesia. Dalam konteks ini, neraca perdagangan harus benar-benar dibenahi, baik lewat strategi darurat jangka pendek maupun jangka panjang.

Kita tidak boleh meremehkan rapuhnya neraca perdagangan nasional. Untuk itu, impor migas harus ditekan dengan akselerasi program percampuran biodiesel ke dalam BBM, mempercepat pembangunan kilang minyak, menuntaskan berbagai perjanjian perdagangan bebas dengan mitra dagang potensial, serta mendorong hilirisasi produk-produk primer.

Selain itu, perbaikan struktur industri, khususnya di sektor hulu dan industri dasar mesti dilakukan segera. Hal ini penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku dan barang modal, yang dapat memperburuk neraca perdagangan.

Di situlah pentingnya Indonesia menarik investasi langsung sebesarbesarnya. Bukan hanya untuk memperbaiki CAD, tapi juga untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Investasi hanya bisa digenjot jika iklim bisnis kondusif dan segala hambatan yang menjadi penyebab ekonomi biaya tinggi disingkirkan. Sementara itu, dari sisi aliran portofolio, Indonesia berpotensi mendapat limpahan dana dari negara maju sebagai imbas dari penurunan suku bunga yang mereka tempuh. Dengan rendahnya suku bunga, dana-dana di negara maju akan lari ke emerging markets, termasuk Indonesia. Kita yakin bahwa instrumen keuangan yang kita miliki, baik di pasar modal maupun pasar uang, tetap atraktif karena menjanjikan imbal hasil yang menggiurkan.

Defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan memang menjadi tantangan terbesar yang dihadapi perekonomian Indonesia dalam jangka pendek ini.

Di lingkup Asean, banyak negara yang sudah lolos dari jeratan defisit transaksi berjalan, sedangkan Indonesia sudah dijangkiti penyakit ini berpuluh tahun. Tidak mengherankan jika Presiden Jokowi dalam beberapa kesempatan berang lantaran ketidakmampuan pejabat bawahannya mengatasi bahaya laten ekonomi Indonesia tersebut.

Sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan fokus mengatasi persoalan besar ini. Lemahnya koordinasi lintas kementerian dan tumpang tindihnya peraturan, baik antar-kementerian/ lembaga maupun antara pemerintah pusat dan daerah mesti dibenahi secara serius.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA