Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Kolaborasi Akselerasi Ekonomi

Minggu, 11 April 2021 | 17:03 WIB
Investor Daily

Pendanaan untuk Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN) tidak lagi menjadi isu, sehingga semestinya pemulihan bisa dipercepat. Apalagi, vaksinasi massal terus dilakukan, dan Indonesia termasuk negara yang terdepan.

Bank Indonesia pun telah menginjeksi quantitative easing menembus Rp 781,2 triliun, setara 5,1% terhadap produk domestik bruto (PDB), dan mem bantu memenuhi kebutuhan pembiayaan pemerintah untuk PCPEN melalui program burden sharing. BI lewat koordinasi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga mendorong penyaluran kredit, yang setahun ini tersendat karena pandemi Covid-19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maupun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Komite ini terdiri dari Kementerian Keuangan, BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), yang diberi perluasan kewenangan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan selama situasi pandemi. Hasilnya, bank pemerintah yang tergabung dalam Himbara telah menurunkan suku bunga kredit dengan besaran yang tidak tanggung-tanggung, dari 10% atau lebih menjadi single digit, sekitar 8,7%. Bank pelat merah ini mencakup PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk. Sejumlah bank lain juga sudah menurunkan bunga, seperti PT Bank Central Asia Tbk yang merupakan bank swasta terbesar di Tanah Air.

Hal ini tentunya diharapkan bisa membantu mendorong kembali perekonomian nasional. BI juga merilis kebijakan pelonggaran kredit konsumsi untuk menaikkan daya beli ma syarakat, terutama kredit pemilikan rumah (KPR) dan kre dit kendaraan bermotor (KKB). Ini lewat kebijakan uang muka (down payment/DP) nol persen untuk KPR dan KKB. Bank sentral pun siap all out untuk mendukung pemulihan ekonomi yang terpukul pandemi Covid-19.

Bersamaan itu, pemerintah tetap memberikan insentif PCPEN, melanjutkan kebijakan tahun lalu untuk me ngatasi pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap ekonomi. Bahkan, tahun ini, alokasi anggaran menembus Rp 699,43 triliun, meningkat 21% dari realisasi program PCPEN 2020 senilai Rp 579,78 triliun.

PCPEN ini fokus pada lima bidang. Ini mencakup perlindungan sosial Rp 157,41 triliun, kesehatan Rp 176,3 triliun, insentif usaha Rp 58,46 triliun, dukungan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta korporasi Rp 184,83 triliun, dan program prioritas senilai Rp 122,44 triliun. Kolaborasi tersebut diharapkan bisa bersama-sama mendorong baik dari sisi demand maupun supply. Dengan demikian, momentum akselerasi pertumbuhan ekonomi diharapkan terjadi tahun ini, didukung langkah percepatan vaksinasi.

Saat ini, Indonesia masuk the top ten countries yang melakukan vaksinasi terbanyak di dunia, dan nomor satu di Asean. Total vaksinasi sudah sekitar 13 juta, dan jumlah kasus positif baru Covid-19 menurun.

Kita pun sudah melewati tahun terberat, dengan ekonomi nasional yang terkontraksi sangat dalam 5,32% kuartal II 2020. Kondisi terus membaik dengan triwulan III 2020 ekonomi minus 3,49% (year on year/yoy) dan triwulan IV minus 2,19% (yoy), meski sepanjang tahun lalu masih terkontraksi 2,07%. Tahun ini akselerasi pertumbuhan ekonomi dipastikan terjadi. Target pemerintah pertumbuhan di level 4,5-5,3% bukan mustahil dicapai.

Untuk mengakselerasi laju ekonomi ini, pertama-tama, pelaksanaan vaksinasi harus dipercepat. Program vaksinasi gotong royong yang dibiayai korporasi untuk karyawan secara gratis harus digencarkan, dengan menggandeng pula rumah sakit-rumah sakit swasta untuk mempercepat pelaksanaannya.

Selain itu, insentif yang terbukti efektif untuk mendorong kelas menengah berbelanja harus ditingkatkan, karena pemulihan ekonomi tidak bisa terjadi kalau masyarakat ini masih menahan belanja, lebih memilih menyimpan uangnya. Pasalnya porsi belanja masyarakat menengah ke atas sangat besar, mencapai 83%.

Ini misalnya dengan meningkatkan insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk mobil bermesin di bawah 1.500 cc, dengan tingkat kom ponen dalam negeri (TKDN) 60%.

Saat ini, pemerintah me netapkan insentif mobil yang penjualannya paling banyak di Indonesia itu diberikan selama sembilan bulan sejak Maret 2021. Rinciannya, insentif 100% alias bebas PPnBM diberikan atas pembelian mobil Maret-Mei, ke mudian diskon pajak 50% dari tarif normal un tuk Juni- Agustus, dan diskon 25% untuk Sep tember- November.

Kebijakan terobosan tersebut ternyata direspons sangat positif dan bisa mendongkrak kembali penjualan mobil baru yang sebelumnya sangat terpuruk. Oleh karena itu, insentif harus direvisi menjadi bebas PPnBM hingga akhir tahun ini.

Pasalnya, pulihnya pro duksi dan penjualan industri otomotif ini dipastikan membawa dampak yang sangat luas bagi sektor industri lainnya. Industri otomotif memiliki keterkaitan dengan banyak industri lainnya, di mana industri bahan baku di Tanah Air bisa berkontribusi 59% dalam industri otomotif kita. Industri pendu kung otomotif dapat mempekerjakan lebih dari 1,5 juta orang dan menyumbang produk domestic bruto (PDB) senilai Rp 700 triliun setahun.

Selain itu, tempat-tempat wisata juga harus dibuka kembali dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, dengan insentif subsidi 50% biaya rapid test antigen Covid-19 misalnya, sambil menunggu vaksinasi nasional selesai. Pasalnya, ada 55 juta kelas menengah kita yang masih punya uang untuk berwisata.

Jika rata-rata bisa berbelanja wisata Rp 3 juta per orang saja, maka ada perputaran ekonomi Rp 165 triliun hingga ke daerah. Dengan demikian, mulai dari restoran, pusat perbelanjaan, hotel-hotel, hingga maskapai penerbangan mampu kembali menggeliat. UMKM di daerah yang menyediakan homestay, rental kendaraan, berbagai barang kerajinan, hingga oleh-oleh makanan khas pun kembali bergairah.

Artinya, baik dari sisi permintaan maupun penawaran bisa terangkat, dan kredit perbankan pun dipastikan tumbuh kembali. Sebab, tanpa mendorong belanja masyarakat, meski ada penurunan bunga bank, tak akan mampu mendorong penyaluran kredit maupun pemulihan pertumbuhan ekonomi

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN