Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
World Economic Forum (WEF).

World Economic Forum (WEF).

Kolaborasi Investasi dan Perdagangan

Investor Daily, Jumat, 24 Januari 2020 | 12:35 WIB

Amerika Serikat dan Tiongkok memang sudah mencapai kesepakatan awal, namun kondisi perdagangan dan arus investasi dunia masih belum menentu. Perang dagang dua kekuatan raksasa yang sudah berlangsung dua tahun itu telah memicu meluasnya proteksionisme di manamana, mengguncang pasar finansial, dan menggerogoti optimisme pelaku bisnis global.

Tak heran, International Monetary Fund (IMF) dalam ajang World Economic Forum (WEF) di Davos mengoreksi lagi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini ke 3,3%, turun dari prakiraan yang dibuat di Oktober lalu 3,4%.

Indonesia pun tak imun dari terpaan gejolak global. Target-target ekonomi meleset jauh dari proyeksi awal. Laju pertumbuhan kredit pada 2019 seret, hanya 6,08% dibanding target sebelumnya 12-13% dan belakangan dikoreksi 10%. Di sektor riil, penjualan ritel modern hanya tumbuh sekitar 8-8,5%, di bawah target yang dipatok sebesar 10%. Bahkan, penjualan mobil ambles 10,81% ke 1 juta unit dibanding tahun 2018.

Ekspor sekaligus impor yang menukik tajam juga mengonfirmasi lesunya ekonomi di dalam negeri. Tak heran, per tumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 diperkirakan hanya 5,04%, jauh dari target 5,3% yang disepakati pemerintah dengan DPR. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan juga hanya sedikit membaik menjadi 5,07%, dibanding target APBN 5,3%.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus benar-benar serius bekerja menggalang kolaborasi dengan para pemimpin pemerintahan maupun pebisnis dunia, untuk mendongkrak kembali kinerja perdagangan, investasi, maupun sektor penting lain seperti pariwisata.

Upaya ini bisa dilakukan dengan mempersiapkan partisipasi aktif dan pertemuan yang efektif dalam event puncak di forum-forum internasional, seperti World Economic Forum di Davos setiap awal tahun hingga Konferensi Tingkat Tinggi G20.

Pemerintah perlu membentuk tim pelobi internasional yang khusus mempersiapkan negosiasi dan kepentingan Indonesia sejak jauh-jauh hari, sehingga pertemuan-pertemuan penting itu tidak hanya menjadi ajang seremoni para pejabat tinggi atau perkenalan formal. Namun, yang lebih penting adalah pertemuan untuk penyelesaian perundingan yang efektif, yang berujung tercapainya kesepakatan peningkatan kemudahan, nilai, maupun kualitas perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan.

Indonesia harus lebih jeli dan detail dalam menjalin kerja sama dan kesepakatan yang saling menguntungkan, dengan memetakan dan mengembangkan kesepakatan timbal balik untuk memenuhi kebutuhan masing-masing negara yang unik. Negosiasi seperti yang dilakukan dengan India bisa dikembangkan, yang telah berhasil mendongkrak kembali harga minyak sawit di tengah masih melemahnya harga komoditas dunia.

India yang merupakan Negara berkembang dengan penduduk 1,3 miliar atau terbanyak kedua di dunia, akhirnya mau menurunkan tarif bea masuk produk minyak sawit yang menjadi andalan ekspor Indonesia, setelah pemerintah kita memangkas separuh bea masuk gula India.

Tadinya, minyak sawit kita kalah dari Malaysia yang dikenakan bea masuk jauh lebih rendah. India bisa kita penuhi kebutuhan minyak nabatinya dari minyak sawit kita yang paling kompetitif dan murah di antara minyak dunia yang lain. Hal ini juga menolong produk minyak sawit kita yang mendapat diskriminasi dengan kenaikan bea masuk tinggi di Eropa.

Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL
Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Bangkitnya kembali ekspor minyak sawit ini juga otomatis menolong para petani sawit di Tanah Air. Di sisi lain, kebutuhan impor gula kita dapat dipenuhi dari India yang produksinya mencapai 26,85 juta ton setahun. Kemenperin menyebut Indonesia akan mengimpor gula mentah (raw sugar) 3,2 juta ton tahun ini untuk memenuhi kebutuhan industri, karena memang total produksi di dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan.

Jadi, ketimbang mengimpor gula dari Thailand yang akan menambah defisit perdagangan kita dengan Negeri Gajah Putih itu, lebih baik bernegosiasi dengan India yang merupakan pasar utama minyak sawit.

Tak hanya itu. Industri makanan dan minuman (mamin) yang menjadi sektor unggulan juga akan memperoleh bahan baku lebih murah, selain mengurangi kelebihan stok di industri minyak sawit kita.

Selama ini, perdagangan dengan India juga mencatatkan surplus yang signifikan bagi Indonesia. Kerja sama yang lain juga bisa dikembangkan dengan negara produsen minyak yang bisa memenuhi kebutuhan impor minyak kita yang besar, seperti Prancis yang memiliki perusahaan migas raksasa Total SA.

Jika tidak lagi menggunakan calo atau perantara dalam mengimpor minyak namun langsung ke produsen, setidaknya harga bisa lebih murah US$ 6 per barel atau sekitar 10% dari harga selama ini. Ini jauh lebih menghemat devisa kita ketimbang BUMN Pertamina mengimpor dari Singapura yang bukan produsen migas. Impor migas kita yang besar dari Negeri Kota Singa itu menjadi biang keladi neraca perdagangan kita dengan mereka terus defisit.

Di sisi lain, Prancis yang merupakan negara penarik wisatawan asing terbanyak di dunia juga bisa diminta memberi kemudahan dan komitmen untuk membeli produk mamin seperti cokelat dan kopi hingga aneka perhiasan kita. Produk-produk kita yang kompetitif itu bisa dibeli oleh 86,9 juta turis mancanegara yang datang ke negeri yang menawarkan banyak tempat yang romantis ini.

Negosiasi dengan Prancis juga sekaligus perlu dimanfaatkan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia di jantung industri pariwisata dunia. Artinya, jika para turis asing itu tahun ini mengunjungi Prancis, tahun berikutnya bisa berkunjung ke Indonesia. Menegosiasikan kembali kerja sama yang saling menguntungkan ini memang bukan perkara mudah, namun juga bukan hal mustahil, termasuk dengan Tiongkok.

Jika Tiongkok yang sering berseteru dengan Amerika Serikat di berbagai bidang saja kini bisa mencapai kesepakatan dan komitmen pembelian lebih untuk mengurangi ketimpangan perdagangan, tentu Indonesia juga bisa menegosiasikan untuk mengurangi defisit perdagangan dengan RRT yang kian menganga.

Dengan bahan baku impor bisa lebih murah dan ekspor berbasis keunggulan domestik kita meningkat, maka ini tentu saja akan berujung mendongkrak daya beli masyarakat. Para petani kita bisa membeli barang-barang lebih banyak dan industri akan bergerak. Seiring dengan prospek ekonomi yang membaik, investor pun akan masuk lebih banyak, tidak hanya berinvestasi di pasar finansial namun juga sektor riil.

Apalagi jika didukung segera dirampungkannya penyederhanaan regulasi, penurunan pajak, dan kepastian hukum lewat pembentukan Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja dan Perpajakan, plus penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia yang menjadi stimulus investasi selanjutnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN