Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi emisi karbon dioksida (CO2). ( Foto; geographical.co.uk )

Ilustrasi emisi karbon dioksida (CO2). ( Foto; geographical.co.uk )

Kontribusi Korporasi Turunkan Emisi

Jumat, 30 April 2021 | 10:29 WIB
Investor Daily

Perubahan pola cuaca, muka air laut naik, cuaca menjadi lebih ekstrem, dan emisi gas rumah kaca (GRK) sekarang ini berada di level tertinggi dalam sejarah. Tanpa adanya aksi nyata, suhu bumi kemungkinan akan naik rata-rata di atas 3 derajat Celcius pada abad ini. Suhu bumi yang semakin panas membuat perubahan iklim semakin dahsyat, musim tidak menentu, curah hujan tinggi, badai dan banjir merupakan dampak nyata dari perubahan iklim. Perubahan pola cuaca akan berdampak menyulitkan pola pertanian, dan pada akhirnya mengganggu sistem reproduksi tanaman dan hewan.

Dampak perubahan iklim ini harus segera dicegah demi menjaga keberlangsungan hidup manusia ke depannya. Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, dalam KTT Iklim pekan lalu, telah menyerukan upaya global untuk mengatasi perubahan iklim. Sekjen PBB memperingatkan para pemimpin dunia yang menghadiri KTT Iklim bahwa planet kita berada "di ambang kehancuran." Para pengambil keputusan dunia, termasuk di Indonesia, mesti segera bertindak.

Indonesia yang merupakan negara dengan populasi keempat terpadat di dunia dan masuk ke dalam sepuluh besar penghasil emisi karbon di dunia punya peran penting dalam aksi nyata menghadapi perubahan iklim. Pemerintah Indonesia pun telah menyatakan komitmen untuk menurunkan emisi karbon sebagaimana tertuang dalam dokumen Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional atau Nationally Determined Contribution (NDC). Indonesia telah menetapkan melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 Tentang Pengesahan Paris Agreement To The United Nations Framework Convention On Climate Change (Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim).

Dalam Paris Agreement ditetapkan target nasional atau dikenal dengan dokumen NDC untuk berperan mengurangi emisi guna membatasi kenaikan suhu global hingga di bawah 2 derajat Celcius dalam jangka panjang, atau idealnya 1,5 derajat Celcius di atas tingkat era pra-industri. Dalam dokumen NDC itu, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi sebesar 29% dari praktik bussiness as usual (BAU) dengan upaya sendiri dan sampai dengan 41% dengan bantuan internasional dari tahun 2030.

Dalam NDC disebutkan bahwa penurunan emisi di Indonesia berfokus pada lima sektor yang berkontribusi dalam upaya penurunan emisi GRK dari BAU 2030, yaitu sektor kehutanan sebesar 17%, energi 11%, pertanian 0,32%, industri dan transportasi 0,10%, dan limbah 0,38%. Sebagai gambaran, penurunan gas emisi rumah kaca nasional yang sudah dipublikasikan pada 2019 adalah sebesar 241,72 juta    ton CO2e (ekuivalen karbon dioksida) dengan kontribusi sektor kehutanan sebesar 68% dari total penurunan emisi gas rumah kaca tersebut.

Indonesia juga telah melakukan analisis tentang target nol emisi atau net zero emission dan diharapkan tercapai pada 2060 atau lebih cepat. Hal itu dicapai melalui upaya dan kerja keras, di antaranya adanya picking emisi gas rumah kaca pada 2030, peningkatan penggunaan energi terbarukan, dan menerapkan secara luas upaya pengelolaan sampah seperti pemanfaatan sampah sebagai sumber energi listrik.

Target penurunan emisi gas rumah kaca itu ditetapkan oleh negara. Padahal negara tidak menghasilkan emisi. Emisi dihasilkan oleh individu-individu dan usaha-usaha komersial atau korporasi. Karena itu, penurunan emisi karbon sudah semestinya menjadi tanggung jawab bersama. Menjaga bumi tidak hanya menjadi tugas pemerintah. Kontribusi korporasi dalam penurunan emisi rumah kaca akan sangat menentukan seberapa besar target penurunan emisi bisa dicapai.

Seiring makin tingginya kesadaran terhadap dampak perubahan iklim bagi keberlangsungan umat manusia, saat ini banyak perusahaan di Indonesia yang turut mendukung komitmen pemerintah mencapai target penurunan emisi. Salah satunya yang dilakukan perusahaan tambang di Kalimantan melalui program energi baru dan terbarukan di beberapa proyek yang sudah mulai berjalan, yakni pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Meski skalanya kecil, PLTS ini memberikan manfaat besar terutama dalam efisiensi energi dan biaya perusahaan.

Sementara satu perusahaan industri kelapa sawit berkontribusi mengurangi dampak perubahan iklim dengan cara mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, limbah kelapa sawit yang dibakar di boiler, hingga melibatkan masyarakat lokal dalam konservasi dan pencegahan mitigasi kebakaran hutan dan lahan. Perusahaan tersebut telah merilis laporan berkelanjutan sejak 2016 sebagai bentuk komitmen untuk menjaga lingkungan.

Pemerintah memang terus mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan untuk mengejar target penurunan emisi. Dari target penurunan emisi GRK nasional pada 2030 sebesar 834 juta ton CO2e, Kementerian ESDM mencatat sebesar 314 juta ton ditargetkan dari sektor energi. Dalam kurun 2021-2030, pemerintah menargetkan pengembangan PLTS skala besar sebesar 5,3 Gigawatt (GW) dan rencana pengembangan PLTS atap sebesar 2 GW. Target penurunan emisi dari kedua program tersebut masing-masing sebesar 7,96 juta ton CO2e dan 3,2 juta ton CO2e. 

Penurunan emisi akan berdampak positif mencegah perubahan iklim dan sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi berkualitas. Perusahaan yang bisa menurunkan emisi karbon sudah selayaknya diberikan apresiasi karena sudah berkontribusi menyelamatkan bumi. Penghargaan ini juga untuk membangkitkan kesadaran korporasi yang lain untuk mengurangi emisi karbonnya sehingga target net zero emission pada tahun 2060 bisa dicapai.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN