Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teller menghitung tumpukan uang di kantor PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk di Jakarta.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Teller menghitung tumpukan uang di kantor PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Kredit Membaik

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 15:02 WIB
Investor Daily

Kebuntuan bankir dalam menggelontorkan kredit ke debitur mulai menemukan titik terang. Setelah kredit melambat pada Agustus, survei terbaru Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit baru pada kuartal III-2020 lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan kredit baru terjadi pada seluruh jenis kredit, dengan kenaikan terbesar pada kelompok kredit modal kerja. Sementara pertumbuhan kredit investasi dan kredit konsumsi juga tumbuh positif.

Membaiknya kredit konsumsi terutama terjadi pada jenis kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) dan kredit tanpa agunan (KTA).

Secara sektoral, pertumbuhan kredit ter tinggi terjadi pada sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, disusul sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan, serta sektor listrik, gas dan air. Hasil survei Bank Indonesia tersebut tentu membesarkan hati, di tengah kelesuan ekonomi dan ketidakpastian akibat pandemi Covid-19.

Upaya pemerintah meredam penyebaran Covid lewat pembatasan mobilitas memang menghantam ekonomi, baik dari sisi permintaan maupun penawaran sekaligus.

Dari sisi permintaan, konsumsi anjlok karena masyarakat enggan membelanjakan uangnya, khususnya menengah atas, yang berkontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB). Lemahnya permintaan berimbas pada sisi suplai, antara lain produksi barang dan jasa yang terhambat.

Pendapatan dan penjualan menurun drastis hampir di seluruh sektor. Dunia usaha pun enggan ekspansi, dan sebagian hanya menghabiskan stok yang ada. Pada Agustus lalu, kredit korporasi dan perorangan relatif belum bergerak sama sekali. Lebih dari 70 perusahaan papan atas justru menurunkan baki debet kredit.

Kecuali itu, skema penjaminan kredit yang sudah difasilitasi pemerintah pun belum membuahkan hasil optimal.

Berbagai upaya untuk mendorong kenaikan permintaan kredit sudah dilakukan. Bank Indonesia sudah habis-habisan menempuh kebijakan pelonggaran moneter. Quantitative easing yang dipompakan Bank Indonesia sejak awal tahun telah mencapai Rp 667 triliun.

Di lain sisi, pemerintah menempatkan data di bank-bank BUMN dan Bank Pembangunan Daerah lebih dari Rp 50 triliun. Stimulus moneter dan fiskal tersebut akhirnya membuahkan hasil. Kredit mulai bertumbuh.

Hal ini sejalan dengan survei Bank Indonesia yang menyebut bahwa aktivitas bisnis di seluruh sektor ekonomi telah membaik selama kuartal III-2020. Hal itu terlihat pada indikator kapasitas produksi terpakai dan penggunaan tenaga kerja yang lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.

Selain itu, kondisi keuangan dunia usaha dari aspek likuiditas dan rentabilitas juga menunjukkan perbaikan pada kuartal III. Kenaikan pertumbuhan kredit perbankan akan berlanjut pada kuartal IV-2020. Hal ini mengacu pada survei Bank Indonesia tersebut.

Optimisme dunia usaha dan bankir dalam survei tersebut beralasan karena konsumsi berada dalam tren meningkat, seiring pencairan dana-dana bantuan sosial yang diterima masyarakat.

Selain itu, pada kuartal terakhir, pemerintah biasanya lebih bersemangat dalam mencairkan anggaran, terutama belanja modal, sehingga menghidupkan perekonomian. Tren perbaikan ekonomi dan kredit ini harus dijaga sustainabilitasnya.

Dukungan semua pemangku kepentingan sangat diharapkan. Yang paling utama adalah disiplin masyarakat seluruh Indonesia dalam mematuhi protokol kesehatan, agar pemerintah daerah tidak memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ketat.

Jika masyarakat disiplin menerapkan protokol kesehatan, niscaya transmisi dan penularan Covid bisa diredakan dengan cepat. Penanganan Covid yang berhasil akan memberikan kepercayaan kepada masyarakat dan dunia usaha. Masyarakat tentu tidak akan takut lagi untuk berbelanja dan bepergian yang menghidupkan sektor pariwisata.

Dunia usaha pun akan lebih merasa aman untuk ekspansi. Kepercayaan publik bakal semakin tebal dengan rencana kebijakan dan program vaksinasi yang diskenariokan pemerintah. Pemerintah menjalin kerja sama dengan berbagai negara untuk mendapatkan vaksin.

Menteri BUMN, Menteri Luar Negeri, dan Menteri Kesehatan gencar melakukan roadshow ke sejumlah negara. Hasilnya pun tidak mengecewakan, Indonesia mendapat komitmen kuota vaksin sejumlah negara. Semua upaya tersebut akan membangkitkan optimisme masyarakat dan dunia usaha ke depan.

Tidak mengherankan bila Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Indonesia bakal tumbuh 6,1% pada tahun depan. Proyeksi tersebut jauh melampaui perkiraan pemerintah yang mematok pertumbuhan PDB sebesar 5% pada 2021.

Ke depan, sentimen positif juga datang jika implementasi Undang-Undang Cipta Kerja berjalan dengan baik. Undang-Undang yang disambut positif kalangan pelaku bisnis ini diyakini bakal menarik investasi secara signifikan, yang pada akhirnya mendorong kenaikan permintaan kredit perbankan. Alhasil, perbankan nasional yang mengalami masa paceklik tahun ini dengan potensi penurunan laba 30-40% bakal kembali bangkit tahun depan.

Dengan catatan, kredit bermasalah dapat tersolusikan dengan baik dan restrukturisasi kredit besar-besaran yang dijalankan tahun ini pun berjalan efektif.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN