Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Kredit Menggeliat

Kamis, 3 September 2020 | 09:34 WIB
Investor Daily

Pertumbuhan kredit perbankan yang sempat melambat, hanya naik 1,49% (yoy) selama Juni lalu, mulai menunjukkan perbaikan. Pada Juli, kredit bertumbuh 1,53% (yoy) seiring dengan mulai bergeraknya aktivitas ekonomi, pasca-pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh bank milik pemerintah. Kredit di bank BUMN tumbuh 3,36% dan BPD tumbuh 8,23%. Sedangkan bank umum swasta hanya tumbuh 0,91%. Bank milik asing malah mencatatkan kontraksi.

Fakta tersebut mengindikasikan masih belum confidence-nya sektor swasta. Pertumbuhan kredit BPD yang tinggi cukup mengejutkan, pertanda permintaan kredit di daerah cukup tinggi. Namun, karena nominalnya relative kecil, hal itu belum bisa berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan kredit nasional.

Yang kini justru harus didorong ada lah bank swasta dan asing. Sebab, potensi swasta selaku debitur kelompok bank tersebut sangat besar sehingga mampu menggerakkan ekonomi lebih cepat. Bagaimana meningkatkan tingkat kepercayaan mereka, menjadi tan tangan bersama, khususnya para pembuat kebijakan.

Pemerintah, otoritas keuangan, dan otoritas moneter sependapat bahwa perekonomian pada semester II ini bakal menggeliat. Kuar tal III kemung kinan akan negatif, namun kuartal IV diyakini bakal positif.

Sektor- sektor bisnis yang selama ini ter pukul perlahan mulai bangkit. Sektor perdagangan yang memiliki porsi besar pada total kredit memang masih tertekan, sehingga terkontraksi 5,4% (yoy). Namun kredit di sektor transportasi, komunikasi, dan pergudangan yang terpukul oleh Covid menunjukkan pertumbuhan tinggi, yakni 11,9%.

Demikian juga sektor pertambangan tumbuh 11,3%. Pertumbuhan kredit yang lebih baik juga tidak terlepas dari perbaikan Indeks Manufaktur (Purchasing Managers’ Index –PMI). PMI yang pada Juni masih di level 39,1, naik menjadi 46,9 pada Juli, dan menyentuh 50,8 pada Agustus 2020.

Hasil ini menunjukkan perekonomian Indonesia mulai merangkak naik. PMI di atas 50 merefleksikan manufaktur tengah ekspansif, volume produksi meningkat, dan permintaan bertumbuh.

Permintaan kredit perbankan ke de pan diyakini bakal meningkat lagi. Apalagi permodalan perbankan sangat solid, dan likuiditas dalam posisi berlimpah. Tingkat kecukupan modal (CAR) perbankan berada di level 23,1%.

Pertumbuhan dana pihak ketiga yang lebih tinggi dibandingkan kredit membuat posisi loan to deposit ratio (LDR) perbankan di posisi 87,76%. Indikator tersebut mencerminkan kapasitas bank untuk mengucurkan kredit masih sangat besar.

Yang kini harus didorong adalah bagaimana agar permintaan kredit bisa menguat. Dalam konteks itu, ma syarakat khususnya kelompok menengah atas harus didorong untuk be lanja (spending). Ketidakpastian yang tinggi akibat masih besarnya tingkat penyebaran Covid-19 membuat masyarakat menengah atas menahan belanja. Karena itu, keseriusan pemerintah meredam penyebaran Covid menjadi kunci agar kepercayaan masyarakat pulih dan mau membelanjakan uangnya.

Belanja masyarakat dan rumah tangga akan membuat produksi barang dan jasa meningkat, yang pada akhirnya juga menaikkan permintaan kredit.

Ingat bahwa konsumsi rumah tangga hingga saat ini masih menjadi motor utama pertumbuhan, dengan kontribusi 56% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Perbankan yang saat ini tengah gencar merestrukturisasi kredit untuk sementara memang harus rela menerima penurunan laba, karena pendapatan menurun. Per Juli 2020, laba sebelum pajak industri perbankan terkontraksi   19,82% (yoy). Itu merupakan kondisi yang wajar, yang penting perbankan tidak merugi.

Tahun ini, Otoritas Ja sa Keuangan memprediksi laba perbankan terpangkas 30-40%. Perbankan ke depan juga dihadapkan pada potensi risiko kredit bermasalah. Sebab, tidak semua kredit yang direstrukturisasi bakal berhasil. Data mencerminkan adanya tendensi kenaikan kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Pada Juli, NPL gross tercatat 3,22%, naik dari posisi Juni 3,11%.

Ancaman lain yang mesti diwaspadai perbankan adalah kesulitan dan tekanan yang dialami oleh sejumlah korporasi. Hal tersebut tercermin pada peringkat korporasi yang cenderung memburuk di berbagai sektor. Terdapat 37 korporasi yang mengalami negative outlook pada kuartal I-2020.

Sejalan dengan kondisi itu, kinerja emiten korporasi pun terlihat mulai tertekan. Dari laporan keuangan yang dipublikasikan, kinerja emiten selama kuartal II-2020 merosot 36,4% (yoy).

Kita meyakini bahwa penurunan laba dan kenaikan NPL hanya bersifat se mentara. Perbankan dapat mengkompensasi dengan optimalisasi fee based income. Di lain sisi, restrukturisasi kre dit dalam jangka menengah panjang bukan hanya membuat debitur menjadi lebih tangguh, namun perbankan pun bakal menjadi lebih kokoh dan solid.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN