Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Langkah Tepat BI

Investor Daily, Jumat, 25 Oktober 2019 | 11:00 WIB

Bank Indonesia kembali memangkas suku bunga acuan BI 7-days reverse repo rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi ke level 5%. Keputusan BI untuk melonggarkan suku bunga acuan ini merupakan keempat kalinya secara beruntun sejak Juli lalu, dengan akumulasi sebesar 100 bps atau 1% dari Juli hingga Oktober 2019.

Penurunan bunga acuan ini merupakan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23-24 Oktober 2019. Bank sentral juga menurunkan suku bunga penyimpanan dana perbankan di BI (deposit facility) dan bunga penyediaan dana BI ke perbankan (lending facility) masing-masing sebesar 0,25% menjadi 4,25% dan 5,75%.

Keputusan penurunan bunga acuan didasari sejumlah alasan. Penurunan bunga acuan pada Oktober ini sejalan dengan inflasi yang terkendali dan imbal hasil investasi di dalam negeri yang menarik. Rendahnya perkiraan inflasi yang berada di bawah titik tengah sasaran 3,5 plus minus 1% juga menjadi alasan BI menurunkan bunga acuan. Secara tahunan, inflasi September 2019 tercatat 3,39% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi Agustus 2019 sebesar 3,49% (yoy).

Selain itu, kebijakan ini juga merupakan langkah antisipatif (pre-emptive) lanjutan yang dikeluarkan BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan permintaan domestik, dan menahan dampak dari perlambatan ekonomi global pada tahun ini. Bank sentral memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini akan berada di bagian bawah rentang target pertumbuhan ekonomi 5,0-5,4% dan meningkat menuju titik tengah kisaran 5,1-5,5% pada tahun 2020.

Kebijakan BI tersebut juga didukung strategi operasi moneter yang terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif. Kebijakan makroprudensial tetap akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian. Kebijakan sistem pembayaran dan kebijakan pendalaman pasar keuangan juga terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Keputusan BI menurunkan bunga acuan juga merupakan respons atas kondisi global saat ini dan ke depan. Beberapa faktor global yang memengaruhi keputusan BI di ataranya pertumbuhan Amerika Serikat (AS) yang tumbuh melambat akibat turunnya ekspor dan investasi non residensial. Selain itu, melambatnya pertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, Tiongkok, dan India. Hal tersebut membuat banyak negara mengeluarkan stimulus fiskal dan melonggarkan kebijakan moneter.

Pertumbuhan ekonomi dunia yang melemah dipengaruhi oleh berlanjutnya penurunan volume perdagangan akibat ketegangan hubungan dagang AS-Tiongkok serta berkurangnya kegiatan produksi di banyak negara. Perang dagang yang terjadi menimbulkan ketidakpastian dan menimbulkan tekanan pada perekonomian.

Dalam laporannya yang dirilis pekan lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global akibat perang dagang AS dan Tiongkok. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya sebesar 3%, lebih rendah dibandingkan proyeksi Juli lalu sebesar 3,2%. IMF juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan menjadi 3,4%, turun 0,2% dari proyeksi pada April lalu.

Langkah BI menurunkan bunga acuan merupakan keputusan tepat. Kondisi perekonomian dunia yang sedang melemah memengaruhi pertumbuhan ekonomi domestik. Pelemahan ekonomi negara-negara yang menjadi tujuan ekspor tersebut menurunkan permintaan produk dari Indonesia, terutama komoditas minyak sawit dan batu bara. Karena itu, penurunan bunga acuan akan menjadi stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan konsumsi domestik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III dan IV tahun ini diperkirakan lebih lambat dibanding semester I-2019. Hal ini karena di dua kuartal terakhir tersebut tidak ada stimulus signifikan bagi konsumsi domestik seperti efek dari pemilihan presiden dan pemilu legislatif pada semester I-2019. Pada kuartal I dan II, pengeluaran tinggi dan menopang pertumbuhan ekonomi di atas 5%.

Setelah bunga acuan diturunkan, kita berharap keputusan bank sentral tersebut bisa segera diikuti oleh perbankan dengan menurunkan suku bunga kredit dan depositonya. Suku bunga acuan turun tidak hanya menambah kapasitas bank dalam menyalurkan kredit, tapi juga meningkatkan permintaan kredit dan pembiayaan sehingga sisi permintaan (demand) dan penawaran (supply) berjalan.

Perbankan memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan suku bunganya. Meski membutuhkan waktu transmisi, perbankan tentunya bisa segera menurunkan suku bunga deposito dan kreditnya mengikuti besaran penurunan suku bunga acuan yang sudah mencapai 100 bps sejak Juli lalu. Masa jeda yang cukup lama akan membuat penyaluran kredit melambat.

Selama periode Juli-September 2019 perbankan baru menurunkan suku bunga deposito sebesar 26 bps, bahkan suku bunga kredit baru turun 8 bps. Sementara itu, rerata tertimbang suku bunga deposito tercatat 6,57% pada September 2019. Suku bunga kredit juga mulai menurun, terutama pada kredit investasi tercatat sebesar 10,11% dan kredit modal kerja sebesar 10,33%.

BI menargetkan pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2019 di kisaran 10-12%. Hingga Agustus 2019, penyaluran kredit perbankan tumbuh 8,6% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan penyaluran kredit tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, yang mencapai 9,7% (yoy). Perlambatan penyaluran kredit terjadi baik pada golongan debitur korporasi maupun perseorangan.

Penurunan suku bunga acuan diharapkan dapat menjadi sentimen positif bagi industri perbankan agar lebih ekspansif dalam penyaluran kredit. Dengan demikian, target penyaluran kredit tahun ini bisa tercapai.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN