Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Swab Test kepada Pegawai Kecamatan. Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

Swab Test kepada Pegawai Kecamatan. Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

Lebih Serius Atasi Covid-19

Senin, 21 September 2020 | 11:08 WIB
Investor Daily

Lonjakan Covid-19 dalam tiga pekan terakhir dinilai sebagai dampak langsung kekurangseriusan pemerintah. Angka positif baru meningkat. Kematian akibat Covid-19 meningkat. Angka kesembuhan menurun dan kasus aktif kembali meningkat.

Jumlah orang yang mengikuti testing PCR dan spesimen yang diperiksa terus meningkat. Jika hingga akhir Agustus 2020 di bawah 30.000 spesimen per hari, mulai awal September 2020 sudah 30.000- an, bahkan hampir mendekati 40.000 per hari. Ini merupakan sebuah ke majuan meski masih jauh dari seharusnya.

Data yang disampaikan Satgas Penanganan Covid-19 menunjukkan, positivity rate atau rasio penduduk yang tertular Covid terhadap jumlah spesimen yang diperiksa mencapai 14,2% atau jauh di atas standar WHO, 5%. Semakin tinggi jumlah testing, semakin tinggi pula angka warga yang terdeteksi positif Co vid-19.

Kondisi ini menunjukkan seriusnya penularan Covid-19 di Indonesia. Akan melegakan jika ketika angka testing meningkat, jumlah warga yang terdeteksi positif tidak ikut menanjak, bahkan menurun. Tren ini menunjukkan bahwa penularan Covid-19 bisa dikendalikan.

Dalam sehari terakhir, Sabtu (19/9/2020) hingga Minggu (20/9/2020), jumlah spesimen yang diperiksa 36.753. Bila jumlah spesimen yang diperiksa lebih banyak lagi, sebutlah dua kali lipat, kemungkinan besar, angka positif harian juga naik dua kali. Pada hari Minggu (20/9/2020), angka positif harian 3.959.

Sehari sebelumnya sempat di atas 4.000. Hingga hari ini, angka positif Covid-19 di Indonesia belum mencapai puncak.

Setelah pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama lima bulan, angka positif justru melonjak sejak awal September 2020 dan Pemprov DKI harus menginjak rem lebih kencang. Penanganan Covid- 19 di Indonesia di nilai sukses jika ang ka positif baru telah mencapai pun - cak dan menunjukkan penurunan. Karena itu, pertanyaan semua orang saat ini adalah, kapan angka positif baru di Indonesia mencapai puncak?

Agar perkembangan Covid-19 segera mencapai puncak, langkah penting yang harus dilakukan adalah pertama, mempercepat testing dan tracing. Testing dengan swab test dan pemeriksaan hasil swab di RT-PCR dilakukan terhadap warga hasil tracing.

Testing tidak boleh dilakukan secara random. Testing secara acak tidak mencerminkan realitas. Bisa saja yang dites adalah warga yang berdiam di kawasan hijau. Yang benar adalah swab test terhadap semua orang yang berinteraksi dengan warga yang terdeteksi positif Covid-19, siapa pun mereka.

Oleh karena itu, tracing menjadi kunci. Semua orang yang pernah berinteraksi dengan pasien positif Covid-19 wajib dilacak dan digiring untuk mengikuti testing dengan biaya negara. Hingga hari ini, tidak ada data tentang rasio warga yang dites terhadap total warga berinteraksi dengan pasien positif. Tracing belum dilaksanakan sesuai standar WHO. Pemerintah perlu menggunakan teknologi untuk melacak semua orang yang berkontak depan pasien positif.

Saat ini, berbagai negara maju sudah menggunakan aplikasi digital untuk melacak semua pihak yang pernah berkontak dengan pasien positif.

Tidak salah jika berbagai pihak kini menilai pemerintah, pusat hingga daerah, kurang serius menangani Covid-19. Selain masih minim, testing belum berjalan seiring dengan kegiatan tracing. Kedua, langkah preventif untuk mencegah penularan Covid-19 jauh lebih penting dibanding kuratif.

Lonjakan angka positif harus ditekan karena  kapasitas medis tidak mampu menampung pasien Covid-19 yang masuk kategori kritis dan serius. Saat ini saja, banyak pasien kritis dan serius yang sulit mendapatkan ruangan ICU.

Di Jakarta dan Botabek, 85% kapasitas ICU untuk pasien Covid-19 sudah terisi. Bila ada lonjakan dalam jumlah besar, rumah sakit tak mampu menangani. Pandemi Covid-19 yang sudah di atas enam bulan menimbulkan kejenuhan dan kacapaian yang luar biasa. Dalam tiga pekan pertama September 2020, ke matian para dokter yang menangani pasien Covid-19 sudah seperti periode awal pandemi, yakni pekan kedua Maret hingga akhir Mei. Langkah preventif paling utama adalah menjaga jarak.

Pemakaian masker, mencuci tangan, dan penggunaan hand sanitizer penting, tapi jauh lebih penting adalah menjaga jarak aman dan menghindari kerumunan.

Semua kegiatan yang menimbulkan kerumunan harus dicegah. Ini adalah pendapat para ahli epidemologi. Pandangan mereka harus didengar dan perlu menjadi panduan utama dalam mengambil keputusan untuk menangani Covid-19.

Ketiga, selaras dengan poin kedua di atas, pilkada tanggal 9 Desember haru  ditunda ke tahun depan. Jumlah pilkada yang mencapai 270 dan rata-rata diikuti tiga paslon akan menjadi bom waktu penularan Covid-19. Pertimbangan kemanusiaan harus lebih penting dari po litik. Mengutamakan nyawa manusia disbanding politik.

Keempat, memper cepat belanja sti mulus kesehatan yang sudah dialo kasikan, yakni sebesar Rp 87,5 triliun. Hingga pekan lalu, pencairan dana stimulus kesehatan masih di bawah 20%.

Alangkah ironisnya, ketika kapasitas rumah sakit terbatas, testing dan tracing ma sih minim, dana sti mulus kesehatan tidak bisa dibelanjakan.

Juga ironis, ketika swab test, RT-PCR, dan perlengkapan medis untuk pasien Covid-19 masih minim, dan alat pelindung diri seperti masker masih terbatas, pencairan dana stimulus kesehatan sangat lambat.

Pemerintah justru harus menambah dana stimulus kesehatan agar angka Co vid-19 bisa segera menurun. Sosialisasi pen tingnya menjaga jarak, menghindari ke rumunan, dan memakai masker perlu biaya. Kelima, semua warga positif Covid-19 wajib diisolasi dan diawasi ketat.

Dipastikan, tidak boleh ada positif Covid-19 yang masih berinteraksi dengan orang lain. Lokasi untuk isolasi harus bervariasi, mulai dari lokasi untuk warga menengah- bawah hingga warga menengah atas. Warga menengah-atas dipersilakan membayar tambahan jika menghendaki lokasi isolasi yang lebih nyaman. Isolasi terpusat, bukan isolasi mandiri di rumah masing-masing, jauh lebih efektif untuk mencegah penularan. Banyak penularan selama enam bulan terakhir disebabkan oleh pasien rawat mandiri yang berinteraksi dengan orang lain, mulai keluarga hingga rekan kerja.

Keenam, semua produk yang digunakan untuk mengatasi Covid-19 harus dibeli dari dalam negeri. Masker, hand sanitizer, berbagai macam APD haruslah produk lokal. Pengadaan semua barang kebutuhan untuk memerangi Covid-19 adalah kesempatan untuk menggerakkan ekonomi dalam negeri. Pemerintah sudah cukup serius, namun masih bisa lebih serius lagi dalam menangani Covid-19. Selama puncak Covid-19 belum dilewati, selama itu pula pemerintah dinilai belum serius.

Juga selama kantor pemerintah menjadi klaster dan banyak pejabat public terkena Covid-19, pemerintah dinilai belum serius.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN