Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Lindungi Industri Dalam Negeri

Rabu, 15 Mei 2019 | 09:39 WIB

Perang dagang yang makin berkobar memerahkan bursa global pekan ini. Amerika Serikat tak hanya keras memukul RRT dengan menaikkan bea masuk dua setengah kali lipat, namun juga memperluas sasaran ke negara tetangga Meksiko, Kanada, hingga sekutu utama Uni Eropa. Tiongkok pun tak tinggal diam, membalas sengit dengan memastikan tarif impor tinggi terhadap lebih banyak produk AS.

Perang dagang antara kedua perekonomian terbesar di dunia itu sudah berkecamuk satu tahun dan tenggat negosiasi terus diundur. Konflik bahkan makin sengit, setelah pada Jumat (10/5) waktu setempat, AS menaikkan tariff impor dari 10% menjadi 25% atas produk Tiongkok senilai US$ 200 miliar. Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif baru itu pada lebih dari 5.700 kategori produk, mulai dari makanan olahan, kursi untuk bayi, hingga lampu Natal.

Di front lain tak kalah panas. Trump sudah mengenakan bea impor baja dan aluminium dari Uni Eropa dan ada kemungkinan segera mengenakan tariff tinggi pada mobil-mobil Eropa. Tak heran, kepanikan merambat cepat di bursa saham global, yang sangat sensitif terhadap ketidakpastian dan perubahan prospek ekonomi. Pekan lalu, penarikan dana lebih dari US$ 20,5 miliar dilakukan investor di pasar saham global.

Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 2,38% ke 25.324,99 pada penutupan perdagangan Senin (13/5) sore waktu AS, atau Selasa (14/5) dini hari waktu Indonesia. Bursa Asia pun hampir semua terseret jatuh, termasuk Bursa Efek Indonesia yang dalam dua hari terakhir kehilangan market cap Rp 157 triliun.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) longsor 2,2% dalam dua hari terakhir ke 6.071, mendekati level psikologis 6.000. Kurs rupiah juga melemah 0,7% pekan ini, ke 14.444 per dolar AS. Menghadapi eskalasi perang dagang itu, pemerintah Indonesia harus segera merespons dengan kebijakan taktis yang betul-betul efektif di lapangan. Dengan pemerintah menunjukkan keseriusan mengantisipasi tantangan global tersebut, hal ini akan memberi ketenangan pada pelaku usaha maupun masyarakat. Apalagi, ekonomi kita cukup besar dan ditopang lebih banyak oleh kekuatan konsumsi dalam negeri.

Mengingat pasar global tak bisa terlalu diharapkan untuk mendorong ekonomi RI, maka pemerintah harus lebih focus melindungi pasar dan membangun industry dalam negeri. Jangan sampai barang-barang Tiongkok yang tidak bisa masuk AS dilempar ke Indonesia, sehingga industry di Tanah Air makin tercabik. Industri di negara komunis itu kapasitasnya luar biasa besar. Produksi baja mereka misalnya, menurut World Steel Association, mencapai 928 juta ton tahun lalu.

Sementara itu, produksi baja Indonesia hanya 7,5 juta ton dan total kebutuhan baja dalam negeri sebesar 15 juta ton. Artinya, jika 2% saja produksi RRT diguyurkan ke pasar Indonesia, maka hanyutlah industri kita. Padahal, industri ini yang diharapkan menjadi tulang punggung ekonomi nasional dan menyediakan lebih banyak pekerjaan formal.

Oleh karena itu, ketimbang terus menyalahkan gejolak global yang tidak berada di tangan kita, lebih baik pemerintah fokus memperkuat ekonomi dengan membangun industri dalam negeri dan memperkuat daya beli. Apalagi, dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang mencapai US$ 1 triliun atau 35% PDB Asean, dari sisi pengeluaran, terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 56,82%.

Berikutnya, oleh pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi 32,17%, serta komponen konsumsi pemerintah 6,35%. Untuk komponen ekspor barang dan jasa menyumbang 18,48%, sedangkan impor barang dan jasa 18,74% yang menjadi faktor pengurang PDB. Langkah yang perlu dilakukan, antara lain, pemerintah harus betul-betul serius mencegah dan mengawasi agar Tiongkok tidak melakukan dumping, atau melempar barang yang tidak bisa masuk AS ke Indonesia, dengan harga murah.

Selama ini, Indonesia dikenal surganya barangbarang impor yang sangat leluasa masuk, karena ketidaktegasan pemerintah dalam menjaga pasar dalam negeri. Ketidaktegasan melindungi pasar dari serbuan barang-barang impor itu membuat kinerja industri kita melemah. Pengusaha banyak yang lebih suka mengimpor barang RRT yang ditawarkan murah ketimbang membangun pabrik di dalam negeri, sehingga pertumbuhan industry pengolahan di bawah laju pertumbuhan ekonomi 5,07% pada triwulan I-2019.

Dalam kondisi perang dagang yang berkecamuk seperti sekarang, pemerintah harus tegas memberi sanksi terhadap mitra dagang yang melakukan praktik curang dumping atau harganya sangat rendah sehingga menghancurkan industry RI. Barang-barang selundupan pun tak hanya dicegah dan dimusnahkan di pintu-pintu masuk pelabuhan, namun juga dirazia hingga ke pasar-pasar dan dibakar. Importir yang terlibat dicabut semua izinnya.

Selain itu, setidaknya semua proyek yang didanai APBN, APBD, maupun yang digarap BUMN dan BUMD harus prioritas membeli barang dan jasa produksi dalam negeri, dengan kualitas dan harga yang wajar. Kewajiban local content-nya harus dinaikkan menjadi minimal 90%, sehingga produsen asing pun terdorong membangun pabrik di sini.

Untuk mendorong investasi masuk, pemerintah juga harus memberikan insentif fiskal maupun nonfiskal yang menarik. Pajak penghasilan badan yang sekarang masih 25% harus dipangkas sama seperti negara tetangga, misalnya Singapura yang hanya 17%. Perusahaan yang menginvestasikan kembali keuntungannya juga perlu dibebaskan pajaknya, misalnya selama 5 tahun ke depan. Insentif ini diberikan kepada investor asing maupun dalam negeri, baik untuk investasi langsung maupun portofolio.

Selain insentif fiskal, kemudahan lain harus diberikan untuk mendorong laju investasi. Ini misalnya kemudahan perizinan satu pintu yang cukup diurus di Badan Koordinasi Penanaman Modal dan selesai satu hari kerja. Pasokan listrik, gas, dan air murah juga disediakan di kawasan industri, yang terintegrasi dengan infrastruktur jalan tol, jaringan kereta api, hingga pelabuhan internasional yang dilengkapi pelayanan bea cukai.

Pemerintah juga harus mengkampanyekan secara masif cinta produk dalam negeri, jangan terpaku pada harga murah tapi industri Indonesia hancur. Hal ini bisa dilakukan dengan menggandeng selebriti yang bisa memengaruhi gaya hidup masyarakat, selain pejabat dan keluarga wajib memakai barang-barang buatan dalam negeri.

Pejabat Indonesia bisa meniru Ibu Negara RRT Peng Liyuan, yang ramai dibicarakan di internet saat turun dari pesawat bersama Presiden Tiongkok Xi Jinping, di Moskow. Pujian mengalir atas pilihan busananya: high heels dan stocking hitam, tas kulit, serta scarf biru yang menyembul di balik mantel hitam yang melekat pas di tubuhnya; yang merupakan produk buatan Exception, toko di Guangzhou. Situs perusahaan itu kemudian crash, karena tak kuat menahan lonjakan trafik pengunjung.

Dengan langkah-langkah tersebut, investasi di Tanah Air dipastikan tumbuh kuat, penyerapan tenaga kerja meningkat, dan daya beli masyarakat naik. Industri nasional akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri, yang otomatis menurunkan impor dan mendukung stabilisasi rupiah.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN