Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para wisatawan menikmati suasana di Pulau Dewata. Foto: Bali Travel News

Para wisatawan menikmati suasana di Pulau Dewata. Foto: Bali Travel News

Lindungi Pariwisata Kita

Sabtu, 15 Februari 2020 | 11:41 WIB
Investor Daily

Tak ada yang dapat menggaransi, sampai kapan keganasan virus korona dapat dijinakkan. Virus yang oleh WHO dijuluki Covid-19 tersebut telah merenggut sekitar 1.400 jiwa dengan penderita terinfeksi mencapai lebih dari 64.000 orang di 26 negara.

Sejauh ini, beruntung patogen berbahaya itu belum menginvasi bumi Indonesia. Meski demikian, kita telah terkena dampak negatif dari wabah yang berawal dari Provinsi Hubei, Tiongkok tersebut. Hanya dalam beberapa pekan, telah terjadi pembatalan (cancelation) hingga lebih dari 20 ribu kunjungan turis asing ke Indonesia.

Dalam catatan Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesi (Asita), pembatalan terbesar atau 75% adalah kunjungan ke Bali. Sisanya adalah ke destinasi lain seperti Manado, Yogyakarta, dan Sumatera Selatan.

Memang, tidak seluruh pembatalan itu berasal dari turis asal Tiongkok. Namun, mereka tetap yang terbesar. Seperti kita tahu, Tiongkok menjadi penyumbang kunjungan wisman terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah kunjungan sekitar 2 juta kunjungan atau sekitar 13% dari total wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Tanah Air.

Menteri BUMN Erick Thohir bersama Menteri Parekraf Wishnutama Kusubandrio. Foto: IST
Menteri BUMN Erick Thohir bersama Menteri Parekraf Wishnutama Kusubandrio. Foto: IST

Yang lebih mengkhawatirkan adalah pernyataan terbaru Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio. Dia menyebut Indonesia berpotensi kehilangan devisa US$ 4 miliar atau setara Rp 54,8 triliun dari wisawatan asal Tiongkok saja, yang rata-rata pengeluaran per kunjungan (Average Spending Per Arrival/ASPA) mencapai US$ 1.400.

Total potensi kerugian tersebut belum termasuk penundaan atau pembatalan yang dilakukan oleh wisman Negara lain.

Tentu saja pemerintah tidak boleh berleha-leha, jangan bertindak business as usual, menghadapi ancaman serius ini. Bahkan perlu kebijakan darurat. Sebab, kita tahu bahwa sektor pariwisata menjadi tambang devisa paling potensial untuk menutup defisit transaksi berjalan kita yang parah. Tahun lalu, pemerintah gagal mencapai target perolehan devisa dari pariwisata.

Dari target 18 juta wisman, kita hanya mampu menggaet 16 juta. Tahun ini, pemerintah mematok devisa sekitar US$ 21 miliar yang berasal dari 18 juta kunjungan wisman. Boleh jadi, target tersebut sulit dicapai, mengingat tidak ada yang tahu sampai kapan epidemi korona bisa diatasi.

Itulah sebabnya, Pemerintah Indonesia harus merancang strategi yang sungguh-sungguh untuk mengkompensasi dari penundaan dan pembatalan wisman. Di antaranya, pemerintah harus melakukan strategi pengalihan tujuan (switching destination) turis yang tadinya akan ke Tiongkok untuk dialihkan ke Indonesia. Terutama turis premium Eropa rata-rata spending-nya tinggi.

Pemerintah mesti bertindak cepat dengan mulai menggencarkan pendekatan ke tour operator (TO) setempat untuk misi operasi switching destination tersebut.

Selain itu, pemerintah harus berani memberikan berbagai insentif untuk lebih menarik minat mereka berkunjung ke Indonesia, baik terkait maskapai, hotel, dan akomodasi lainnya dengan harga khusus. Para duta besar mesti dikerahkan untuk membantu menjalankan misi besar ini.

Strategi lainnya, pemerintah harus banyak mengadakan event pariwisata dan mempromosikan ke berbagai negara bahwa kondisi Indonesia aman untuk dikunjungi. Dalam konteks ini, pemerintah perlu bersinergi dengan Asita.

Janji pemerintah untuk memberikan insentif dan kompensasi bagi maskapai sebaiknya segera direalisasikan. Insentif diarahkan untuk mengisi slot kosong penerbangan di sejumlah bandara Tanah Air, menyusul keputusan pemerintah yang menutup penerbangan dari dan ke Tiongkok sejak pekan pertama Februari lalu. Izin penambahan slot penerbangan untuk destinasi favorit, seperti Bali, Jakarta, dan Yogyakarta harus dipermudah.

Sebagai gambaran, di Bandara Internasional Soekarno Hatta ada 20-25 slot kosong dalam satu hari yang dapat dimanfaatkan oleh maskapai penerbangan. Upaya menyelamatkan industri pariwisata nasional saat ini menjadi tanggung jawab bersama lintas kementerian dan lembaga, juga pebisnis pariwisata dan pemangku kepentingan lain.

Bandara Soetta. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Bandara Soetta. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Kita harus bersinergi untuk mendongkrak sektor pariwisata yang mampu menjadi lokomotif ekonomi nasiona Terlebih lagi pariwisata Indonesia memiliki keunggulan dan keunikan yang tidak dipunyai negara lain. Keunggulan tersebut antara lain alam yang memesona, keindahan dan keragaman budaya, keramahan para penduduknya, di samping adanya berbagai event dapat menarik animo wisatawan berkunjung ke negeri ini.

Sektor pariwisata har us diselamatkan dari dampak negatif epidemic korona. Sektor ini relatif tidak susah untuk dikembangkan dan tahan oleh serangan krisis. Namun di lain sisi, pembenahan tetap perlu dilakukan, meliputi infrastruktur penunjang pariwisata, baik transpoprtasi, telekomunikasi, energi dan sebagainya. Aspek kebersihan dan ramah lingkungan harus diprioritaskan.

Penguatan sumber daya manusia (SDM) pariwisata adalah mutlak. Jika seluruh strategi tersebut dijalankan secara konsisten dan simultan, kita berharap potensi kehilangan devisa US$ 4 miliar bisa terkompensasi. Alhasil, ancaman pembengkakan defisit transaksi berjalan akibat kehilangan devisa pariwisata dapat dihindari.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN