Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Literasi Keuangan Generasi Milenial

Kamis, 8 April 2021 | 08:00 WIB
Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Kalangan milenial sedang menjadi objek kampanye literasi keuangan yang digaungkan regulator. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Bank Indonesia (BI) adalah pihak yang paling gencar menyuarakan pentingnya literasi keuangan bagi milenial.

Bersama para pelaku industri jasa keuangan, perguruan tinggi, sekolah-sekolah, bahkan pesantren, pihak regulator rajin blusukan demi meyakinkan para milenial bahwa mereka harus melek keuangan. Lebih spesifik lagi, mereka harus melek investasi.

Menjadikan milenial sebagai objek kampanye investasi sungguh wajar. Milenial, lahir pada 1981-1996, merupakan generasi penerus bangsa. Apalagi berdasarkan Sensus Penduduk 2020 Badan Pusat Statistik (BPS), milenial sudah dominan. Dengan jumlah 69,38 juta, milenial kini mencapai 25,87% dari populasi Indonesia.

Di antara generasi lainnya, milenial merupakan kelompok kedua terbesar. BPS mengelompokkan populasi Indonesia dalam enam generasi, yaitu Post Generasi Z atau Post Gen Z (lahir 2013 dan seterusnya), Gen Z (lahir 1997-2012), milenial, Gen X (lahir 1965-1980), baby boomer (lahir 1946-1964), dan pre-boomer (lahir sebelum 1945).

Gen Z saat ini berjumlah 74,93 juta jiwa atau 27,94% terhadap total penduduk, disusul generasi milenial dengan jumlah 69,38 juta (25,87%). Urutan berikutnya yaitu Post Gen X yang berjumlah 58,65 juta (21,88%), baby boomer 31,01 juta (11,56%), Post Gen Z sebanyak 29,17 juta (10,88%), dan pre-boomer sejumlah 5,03 juta jiwa (1,87%).

Selain jumlah milenial di Tanah Air sangat besar, survei OJK menunjukkan, kalangan milenial memiliki tingkat literasi keuangan yang rendah. Bahkan, menurut data Indonesia Milenial Report 2019, generasi milenial Indonesia yang memiliki investasi cuma 2%.

Milenial juga rentan secara finansial. Mereka umumnya menghabiskan uang demi kesenangan dibandingkan untuk menabung atau investasi. ‘Sisi gelap’ lainnya, mereka senang mengikuti tren atau meniru apa yang dilakukan tokoh idola, tak peduli apakah perilakunya menguntungkan atau merugikan mereka, baik secara moril maupun materil.

Tak kalah mencemaskan, di kalangan milenial tertanam prinsip ‘kamu hidup hanya sekali’ (you only live once/YOLO). Akibat prinsip yang dipahami secara salah kaprah itu, sebagian besar milenial tak mempersiapkan dana darurat untuk berjaga-jaga.

Berangkat dari berbagai hasil survei tersebut, bisa dipahami jika para pemangku kepentingan begitu gigih mengampanyekan literasi keuangan dan pentingnya investasi di kalangan milenial. Sulit dibayangkan apa jadinya jika para penerus bangsa tidak memiliki pemahaman yang baik tentang keuangan.

Tentu saja tak semua milenial memiliki perangai kurang sedap mengenai investasi. Tahun lalu, milenial menjadi pendorong kebangkitan investor domestik ritel di pasar saham. Jumlah investor baru berusia 18-25 tahun pada 2020 bertambah 280.569 atau 48,7% dari total investor baru. Investor milenial, bersama Gen Z, menyelamatkan pasar saham domestik dari tekanan pandemi Covid-19.

Sejujurnya, milenial banyak memiliki sisi positif, yang jika diasah dan diarahkan, dapat menghasilkan manfaat besar bagi bangsa ini. Milenial adalah generasi yang sangat haus mengenai hal-hal baru, termasuk soal investasi. Mereka memiliki ketertarikan yang besar untuk belajar investasi, terutama investasi portofolio, seperti saham, obligasi, dan reksa dana.

Adalah tugas para pemangku kepentingan bangsa ini, khususnya para regulator, untuk meningkatkan literasi keuangan di kalangan milenial atau generasi di bawahnya (Post Gen Z dan Gen Z). Baik-buruk pemahaman investasi milenial turut ditentukan oleh kesungguhan para regulator dalam meningkatkan literasi keuangan di kalangan mereka.

Jangan lupa, indeks literasi keuangan Indonesia pun masih rendah, baru 40% pada 2020, padahal negara-negara tetangga sudah di atas 60%. Itu artinya, bukan cuma kalangan milenial yang memiliki pengetahuan atau pemahaman yang rendah tentang investasi.

Kita sepakat bahwa bangsa Indonesia akan terus jalan di tempat jika generasi penerus memiliki literasi keuangan yang minim. Bukankah investasi bertali-temali langsung dengan produktivitas, kreativitas, dan inovasi? Generasi yang gemar menghabiskan uang demi kesenangan dengan prinsip ‘kamu hidup hanya sekali’ bukanlah cerminan generasi produktif, kreatif, dan inovatif.

Bangsa Indonesia akan terus menjadi bangsa berpendapatan per kapita US$ 3.400-4.500 bila generasi mudanya tidak produktif, kreatif, dan inovatif. Alih-alih menjadi negara sejahtera dengan pendapatan di atas US$ 13.000 per kapita, Indonesia bisa turun kasta menjadi negara berpendapatan terendah (lower income), di bawah US$ 2.500.

Ingat, Indonesia cuma punya waktu satu hingga dua dekade lagi. Tahun 2030-2040 adalah puncak bonus demografi, yaitu masa-masa puncak ketika bangsa ini didominasi penduduk berusia produktif. Setelah masa itu berakhir, bonus demografi pun hilang. Hilang bonus demografi, hilang pula kesempatan Indonesia menjadi negara maju dan sejahtera.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN