Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Layanan keuangan berbasis elektronik LinkAja besutan PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) akhirnya resmi diluncurkan pada hari Minggu (30/6/2019) sore. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Layanan keuangan berbasis elektronik LinkAja besutan PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) akhirnya resmi diluncurkan pada hari Minggu (30/6/2019) sore. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Makin Sulit Kelola Bank

Senin, 1 Juli 2019 | 08:12 WIB

Di era kemajuan tekonolgi digital tak ada lagi kata mapan. Setiap saat sebuah usaha bisa terdisrupsi oleh kemajuan digital. Manusia hidup di era serba internet. Tak terkecuali perbankan. Para bankir papan atas pun mengeluh sulitnya mengelola perbankan di era Internet of Things (IoTs) atau segala sesuatu bisa terhubungkan dan digerakkan lewat jaringan internet.

Sudah lama bisnis bank identik dengan kantor cabang dan jumlah tenaga kerja yang besar. Semakin banyak kantor cabang --hingga menjangkau berbagai pelosok Tanah Air--, semakin bagus sebuah bank. Kian banyak jumlah tenaga yang dipekerjakan, semakin kuat sebuah bank dalam melayani nasabah.

Era itu sudah berlalu. Era IoTs juga sudah melanda perbankan, terutama dalam satu dekade terakhir. Perbankan yang efisien sudah menggunakan phone banking. Para nasabah yang hendak memindahkan dana dan melakukan pembayaran cukup dilakukan lewat smart phone. Penyimpanan dana bisa dilakukan lewat ATM. Dompet nasabah adalah smart phone.

Selain persaingan internal perbankan, pihak bank juga harus bersaing dengan perusahaan fintech yang melayani nasabah dengan sistem pembayaran yang canggih. Perusahaan ini juga menghimpun dana masyarakat dan menyalurkan ke pihak yang membutuhkan lewat sistem peer to peer lending. Lapangan operasi perbankan sudah tidak lagi menjadi monopoli perbankan.

Dalam situasi seperti ini, perbankan nasional harus melakukan konsolidasi. Pertama, jumlah bank yang masih 115 terlalu banyak dan perlu dikurangi. Pengurangan secara alamiah akan berjalan terlalu lama. Banyak pihak mengharapkan agar pengurangan jumlah bank dilakukan lewat regulasi. Ada ketentuan yang memaksa perbankan untuk merger.

Upaya ini memang tidak mudah. Jika hanya menyasar pada penciutan jumlah bank, tidak sulit bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membuat peraturan. Namun, aspek nonekonomi perlu juga menjadi perhatian. Merger yang dipaksakan dengan peraturan akan membuat bank jatuh ke tangan asing.

Saat ini saja sudah banyak bank yang mayoritas sahamnya dimiliki asing. Bank umum saat ini terdiri atas empat bank BUMN, 42 Bank umum swasta nasional (BUSN) devisa, dan 21 BUSN nondevisa.

Selain itu ada 27 bank umum pemda, 12 bank asing campuran, dan sembilan bank asing. Sungguhpun demikian, penciutan jumlah bank lewat regulasi perlu dilakukan. Kita tidak mau penciutan jumlah bank karena ‘terpaksa’ ditutup atau ‘bangkrut’ seperti yang terjadi tahun 1997-1998. Paket kebijakan Oktober 1988 atau Pakto 88 mendongkrak jumlah bank dari 111 tahun 1988 menjadi 240 tahun 1994. Namun, krisis moneter 1998, yang kemudian berkembang menjadi krisis multidimensi, memangkas jumlah bank menjadi 151 pada tahun 2000.

Untuk mencegah perbankan nasional dikuasai asing, perbankan nasional perlu menjajaki merger. Dari laporan keuangan perbankan terlihat bahwa bank yang cukup aman hanya enam bank BUKU IV. Sedang bank di tiga kategori lainnya cukup berat, terutama sebagian bank BUKU III dan BUKU II. Bank BUKU I relatif aman karena umumnya bank kelompok ini sudah memiliki pangsa pasar khusus.

BUKU adalah singkatan dari bank umum kegiatan usaha. Kegiatan usaha bank tentu sangat tergantung pada kekuatan modalnya. Bank BUKU I memiliki modal inti kurang dari Rp 1 triliun. Masuk kategori BUKU II adalah bank dengan modal inti Rp 1 triliun hingga Rp 5 triliun. BUKU III adalah bank dengan modal inti Rp 5 triliun hingga Rp 30 triliun. Bank dengan modal inti di atas Rp 30 triliun masuk kategori bank BUKU IV.

Pada April 2019, net interest margin (NIM) perbankan nasional BUKU III hanya 3,92%. Sedang BUKU I dan BUKU IV, masing-masing, meraih NIM 5,15% dan 5,45%. Saat ini persaingan 28 bank BUKU III sangat sengit. Bank II juga tidak sebagus bank BUKU I dan IV. NIM bank kelompok ini 4,81%. Dengan jumlah yang mencapai 57, bank BUKU II perlu segera melakukan konsolidasi.

Bank yang eksis adalah bank yang mampu mendapatkan dana pihak ketiga (DPK) dengan bunga murah. Jika dana mahal, bank akan kesulitan dalam menyalurkan dana itu ke pihak debitur. Kenyataan menunjukkan, bank BUKU IV lebih dipercaya masyarakat. Meski mengenakan bunga lebih rendah, DPK justru mengalir lebih banyak ke kelompok bank ini. Bank BUKU I yang didominasi bank umum milik pemda tak kesulitan mendapatkan nasabah. Umumnya ASN di daerah meminjam dana dari bank pemda.

Sangat sulit bagi bank yang mendapatkan dana mahal untuk mendapatkan debitur. Jika terjadi peminjaman, risiko kredit bermasalah dan macet akan sangat besar. Karena dana masyarakat yang mahal akan dilemparkan dengan bunga tinggi.

Sebaliknya, bank BUKU IV yang memperoleh dana murah relatif mudah mendapatkan debitur. Dalam satu setengah tahun terakhir, perbankan nasional didera kesulitan likuiditas. Pertumbuhan kredit lebih cepat dibanding DPK. Selama 2018, kredit bertumbuh 11,75%, sedang DPK hanya naik 6,45%. Kondisi serupa terjadi lagi pada lima bulan pertama 2019.

Kedua, konsolidasi perbankan perlu dilakukan lewat penggunaan bersama teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi.

Bank BUMN hari Minggu (30/6) meluncurkan Link Aja. Segala jenis pembayaran bisa dilakukan lewat Link Aja tanpa perlu berganti rekening. Tanpa konsolidasi, perbankan sulit melayani nasabah dengan baik, bahkan terancam bangkrut. Regulator perlu mencermati kondisi perbankan dengan lebih serius dan mengambil langkah tepat agar perkembangan perbankan tidak menimbulkan guncangan, baik terhadap dunia perbankan maupun terhadap ekonomi nasional.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA