Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mudik lebaran. Foto ilustrasi: IST

Mudik lebaran. Foto ilustrasi: IST

Manajemen Mudik

Sabtu, 25 Mei 2019 | 17:10 WIB

Ritual besar nasional mudik akan dimulai pekan depan. Puluhan juta rakyat Indonesia bakal meninggalkan kota-kota besar menuju kampung halaman, bersilaturahmi, berkumpul sanak saudara dan kerabat. Kepadatan manusia akan meluap di bandarabandara, pelabuhan, stasiun kereta api, dan terminal bus antarkota.

Selain jutaan pemudik yang menggunakan mobil pribadi, ada 22,83 juta orang yang menggunakan moda transportasi public selama masa angkutan Lebaran 2019. Jumlah tersebut terbagi atas penumpang bus sebanyak 4,68 juta orang, kereta api 6,45 juta penumpang, pesawat 5,78 juta orang, angkutan penyeberangan 4,53 juta penumpang, dan penumpang kapal laut sebesar 1,08 juta orang.

Migrasi besar-besaran ini selalu saja menimbulkan masalah. Pesawat-pesawat yang delay tak sesuai jadwal menjadi pemandangan lumrah. Belum lagi harga tiket yang melambung menyentuh tarif batas atas. Kapal-kapal laut kerap mengangkut penumpang melampaui kapasitas, sehingga terjadi kecelakaan di laut. Bus-bus juga memasang tarif 2-3 kali lipat dari tarif normal. Operator dan perusahaan transportasi umum menerapkan aji mumpung.

Di jalanan, terutama di jalur-jalur jalan tol, kemacetan biasa terjadi di jalur-jalur rest area atau pintu-pintu keluar tol. Kita tidak akan terlupa tragedi di pintu keluar tol Brebes yang dikenal dengan sebutan Brexit, Juli 2016. Antrean panjang kendaraan yang mengular di Brexit sejak dari Tol Kanci Cirebon tersebut memicu kemacetan puluhan jam dan menelan 12 korban jiwa.

Tragedi itu menjadi catatan buruk ketidakmampuan pemerintah dalam menangani arus mudik Lebaran. Kemacetan panjang di titik-titik rawan dan padat kendaraan, termasuk jalur-jalur bottle neck yang menjadi biang kerok kemacetan, selalu berulang dan tak tersolusikan dengan baik. Kondisi ini merefleksikan bagaimana kelemahan manajemen mudik yang terjadi setiap tahun. Jumlah pemudik dari tahun ke tahun tidak berkurang, justru terus meningkat seiring derasnya arus urbanisasi.

Peningkatan jumlah penumpang dan kendaraan tidak sebanding dengan peningkatan infrastruktur, khususnya jalan raya yang memadai. Bahkan jalan raya yang sudah ada pun kerap rusak, yang selalu diperbaiki ala kadarnya menjelang Lebaran, dan kemudian akan cepat rusak lagi demi alas an mendapat anggaran perbaikan jalan. Itulah mental birokrat kita.

Manajemen lalu lintas dan penanganan di titik-titik rawan kemacetan, khususnya di penyempitan badan jalan, hampir tidak pernah tertangani dengan baik. Namun itu juga bukan melulu kelemahan aparat. Perilaku pengguna jalan yang tidak disiplin dan tertib juga punya andil dalam kesemrawutan lalu lintas di simpul-simpul kemacetan. Jika terjadi kemacetan panjang, justru banyak pengguna jalan yang main serobot sehingga menambah parah tingkat kemacetan.

Itulah sebabnya, penanganan arus mudik dan arus balik Lebaran harus dibenahi. Manajemen mudik mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan mesti lebih sistematis dengan belajar dari kekurangan dan kelemahan tahuntahun sebelumnya.

Perbaikan dan pembenahan seyogianya menyangkut berbagai aspek, mulai dari penyediaan logistik terutama bahan bakar minyak (BBM), ATM dan fasilitas pengisian ulang kartu e-toll. Juga kesiapan fasilitas infrastruktur seperti jalan, telekomunikasi, bandara, pelabuhan, terminal bus, stasiun kereta api, dan sebagainya.

Pemerintah juga harus mengawasi penyediaan moda transportasi publik yang nyaman. Pemerintah jangan segan-segan menindak operator transportasi publik yang semena- mena memasang tarif. Sebab bukan rahasia lagi, masyarakat konsumen kerap tidak berdaya menghadapi tarif mahal setiap Lebaran, karena keterpaksaan. Koordinasi aparat lintas kementerian dan lembaga, juga dengan pemerintah daerah harus diperbaiki dalam penanganan arus mudik dan arus balik. Yang tidak kalah penting adalah penyediaan crisis center, sebagai tempat layanan keluhan masyarakat.

Sementara itu, kemajuan teknologi informasi harus benarbenar dimanfaatkan untuk membantu kelancaran arus mudik. Pemerintah dan aparat di lapangan harus bekerja sama dan bersinergi dengan penyedia aplikasi lalu lintas, stasiun radio, situs-situs online untuk memandu para pemudik dan memperlancar arus lalu lintas.

Pada akhirnya, manajemen mudik yang baik akan menciptakan kenyamanan bagi kaum pemudik. Hal itu juga dapat meminimalisasi risiko kecelakaan yang biasanya selalu tinggi pada musim Lebaran. Kenyamanan dan keselamatan selama periode mudik harus menjadi prioritas nomor satu.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA