Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbankan Nasional

Perbankan Nasional

Market Cap Perbankan

Selasa, 28 Mei 2019 | 08:24 WIB

Pamor saham perbankan tak pernah pudar. Dalam 15 tahun terakhir, emiten-emiten perbankan mendominasi daftar puncak kapitalisasi pasar (market cap) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tak mengherankan jika saham perbankan diburu para investor, termasuk investor asing.

Meski tak selalu nomor satu, saham PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menjadi langganan daftar teratas market cap di bursa domestik.

Saat indeks harga saham gabungan (IHSG) terperangkap di zona minus, saham-saham perbankan tetap melaju di teritori positif. Harga saham dan market cap emiten perbankan mengalami peningkatan yang mencengangkan.

Harga saham BBCA yang saat penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) cuma Rp 1.400 per saham, kini melejit menjadi Rp 28.425 atau melonjak 1.930%. Kapitalisasi pasar BBCA melambung 220 kali tsejak melantai di BEI pada akhir Mei 2000. Hal serupa dialami emiten bank lainnya, seperti BBRI, BMRI, dan BBNI.

Saham perbankan punya bobot yang tinggi dalam IHSG. Itu sebabnya, pergerakan saham perbankan turut menentukan gerak-gerik IHSG. Tak jarang saham perbankan menjadi leading indicator IHSG. Tatkala IHSG minus 1,54% selama tahun berjalan (year to date/ytd) seperti sekarang, investor yakin indeks akan kembali ke jalur hijau karena saham sektor keuangan yang dimotori perbankan sudah positif 5,01%. Tetap berkilaunya pamor saham perbankan bisa dimaklumi. Dengan jumlah penduduk 265 juta jiwa, ekonomi yang tumbuh konsisten 5% per tahun, dan jumlah kelas menengah yang terus bertambah, Indonesia adalah pasar yang amat renyah bagi industri perbankan.

Bank-bank di dalam negeri telah menjelma menjadi mesin laba yang fantastis. Tahun lalu, BRI mereguk laba bersih Rp 32,4 triliun. Pada tahun yang sama, BCA mengeduk keuntungan Rp 25,9 triliun. Ke depan, emiten perbankan masih menjadi sumber laba yang menjanjikan sejalan dengan kian derasnya penyaluran kredit dan makin gencarnya penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).

Selain ditopang oleh perekonomian nasional yang bakal tumbuh lebih pesat, peluang perbankan untuk mengeruk laba ke depan ditunjang oleh ekosistem di dalam negeri. Dari 130 juta penduduk dewasa Indonesia, tak sampai separuhnya yang sudah memiliki rekening di bank. Jumlah nasabah perbankan baru sekitar 60 juta orang atau 24% dari populasi meski jumlah rekeningnya mendekati 200 juta.

Di sisi lain, berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi dan inklusi keuangan masing-masing baru mencapai 29,66% dan 67,82%. Khusus literasi perbankan bahkan baru 28,94%. Itu artinya, pemahaman keuangan serta akses masyarakat di Tanah Air terhadap produk dan layanan jasa keuangan masih tergolong rendah.

Kecuali itu, pendalaman finansial (financial deepening) sector perbankan di Indonesia belum maksimal. Rasio kredit perbankan nasional terhadap produk domestic bruto (PDB) baru sekitar 35% dengan rasio DPK terhadap PDB sekitar 40%. Padahal, di Negara-negara lain, seperti Jepang sudah mencapai 208,5%, Malaysia 150%, Singapura 148,6%, Thailand 89,3%, dan Filipina 54,5%.

Dengan potensi pasar yang demikian besar, wajar bila para analis merekomendasikan agar para investor di lantai bursa rajin-rajin mengoleksi saham emiten perbankan. Para investor bisa mendapatkan gain yang tinggi dan dividen yang besar bila berinvestasi pada saham-saham perbankan.

Kita tentu mendorong agar bank-bank di dalam negeri terus tumbuh dan berkembang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) harus menyediakan ‘kolam’ yang sehat bagi perbankan. ‘Three Musketeers’ tersebut harus membuat dan memberlakukan regulasi yang adil, tidak terlalu mengekang, tapi juga tidak terlalu bebas.

Regulasi yang wajar diperlukan agar bank-bank di dalam negeri mampu menjalankan fungsi intermediasinya secara maksimal terhadap sektor riil, dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian perbankan (prudential banking), seraya menghasilkan keuntungan yang optimal. Dengan begitu pula, perekonomian nasional bisa tumbuh lebih pesat, lebih inklusif, lebih berkualitas.

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN