Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Masih Ada Peluang Rebound

Selasa, 18 Februari 2020 | 12:01 WIB
Investor Daily

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang menghadapi tekanan cukup berat sehingga terjerembab ke bawah level 6.000. Hingga perdagangan Senin (17/2) kemarin atau year to date (ytd), IHSG telah melemah 432,02 poin atau 6,86% ke level 5.867,52 dibandingkan posisi penutupan akhir tahun lalu.

Pergerakan IHSG akhir-akhir ini dipengaruhi oleh dua isu besar. Dari dalam negeri, langkah Kejaksaan Agung pada 24 Januari 2020 yang meminta pemblokiran sekitar 800 rekening efek terkait dengan megaskandal dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) memberi sentimen negatif ke pasar saham.

Setelah itu, IHSG terus terkoreksi hingga lebih dari 6% dari posisi 6.249,21 pada penutupan 23 Januari 2020.

Pemblokiran 800 rekening efek itu berdampak menyurutkan aktivitas di pasar modal. Hal ini bisa dilihat dari makin mengecilnya volume dan nilai transaksi harian saham di BEI sejak pemblokiran dilakukan.

Pemblokiran rekening efek juga menyebabkan perusahaan asuransi terganggu likuiditasnya dalam hal pencairan klaim nasabahnya. Pemblokiran memicu efek psikologis nasabah untuk menarik dananya di asuransi maupun melakukan redemption di reksa dana.

Sentimen kedua yang membuat IHSG terjerembab adalah merebaknya wabah virus korona baru atau Covid-19 yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Terus bertambahnya korban jiwa memicu kekhawatiran terhadap penyebaran virus korona ini berdampak serius terhadap laju perekonomian Tiongkok. Akibatnya, pelaku pasar melepas portofolio saham mereka, termasuk di pasar saham Indonesia.

Dampak wabah virus korona menurunkan kegiatan ekonomi Tiongkok sehingga laju perekonomian terbesar kedua dunia itu diprediksi melambat. Untuk mengantisipasi penyebaran virus korona, sejumlah negara, termasuk Indonesia, sudah melarang penerbangan ke dan dari Tiongkok. Indonesia juga sudah melarang impor hewan hidup dari Tiongkok.

Selain ekspor-impor dan penerbangan, sektor lain yang paling terpengaruh adalah pariwisata. Wabah virus tersebut telah menyebabkan pembatalan (cancelation) hingga lebih dari 20 ribu kunjungan turis asing ke Indonesia hanya dalam beberapa pekan. Sementara potensi kehilangan (potential loss) devisa dari sektor pariwisata diperkirakan mencapai US$ 4 miliar akibat wabah virus korona.

Ekonomi Tiongkok tahun ini kemungkinan tumbuh di bawah proyeksi 6% jika wabah virus korona tidak segera diatasi. Yang paling terkena dampaknya adalah negara-negara yang memiliki ketergantungan terhadap pasar Tiongkok.

Sentimen negatif virus korona terhadap Indonesia berpotensi meningkat jika Tiongkok menurunkan permintaan akan komoditas dan aktivitas ekspor- impornya.

Kita berharap pengendalian penyebaran virus bisa cepat dilakukan agar bisa menciptakan dampak positif terhadap perekonomian global dan Indonesia. Kabar gembira datang dari Penasihat Kesehatan Tiongkok yang menyebutkan bahwa wabah virus korona ini akan segera mencapai puncaknya dan akan berakhir pada April mendatang.

Pernyataan ini akan memberikan angin segar bagi pasar keuangan karena ketika wabah ini mencapai puncaknya dan pengaruhnya mulai menurun, saat itulah pasar keuangan dunia akan menguat.

Dari dalam negeri, sentimen positif yang bakal mengerek naik IHSG di antaranya rancangan undang-udang (RUU) omnibus law tentang cipta kerja serta RUU tentang perpajakan yang segera dibahas di DPR. Kecepatan eksekusi kebijakan reformis seperti omnibus law ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membereskan persoalan investasi, ketenagarkerjaan serta perpajakan yang sudah lama ditunggu pelaku usaha.

Selain itu, rilis laporan keuangan emiten tahun 2019 pada Maret dan April mendatang dapat menjadi katalis pendorong IHSG. Laba emiten di BEI pada tahun 2019 diperkirakan masih tumbuh dari tahun sebelumnya. Pembagian dividen yang dilakukan sejumlah emiten juga bisa menggairahkan pasar saham pada kuartal kedua.

Jika kasus pemblokiran rekening dapat segera diselesaikan, akan memberikan tambahan sentiment positif ke pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah memberi sinyal pembekuan rekening efek telah masuk ke tahap akhir, sehingga statusnya segera diputuskan oleh Kejaksaan Agung. Jika dibantu para pemilik rekening dalam bentuk pemberian keterangan atau konfirmasi kepada Kejaksaan Agung, proses verifikasi atas rekening efek tersebut akan semakin cepat selesai.

Paling lambat, pada akhir Februari nanti Kejaksaan Agung sudah dapat memutuskan status rekening efek tersebut.

Di tengah tren penurunan suku bunga acuan dan inflasi yang terjaga rendah, pasar saham akan tetap menjadi pilihan investasi karena menawarkan imbal hasil yang lebih menarik dibanding pasar obligasi atau properti. Setelah terpuruk cukup dalam, semoga masih ada sentimen positif yang mampu memompakan energi bagi IHSG untuk bangkit (rebound).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN