Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Masih Ada Ruang Penurunan Bunga Acuan

Jumat, 2 Agustus 2019 | 12:01 WIB

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), badan penetapan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed), akhirnya memangkas target suku bunga acuan Fed funds rate (FFR) sebesar 25 basis poin ke kisaran 2,00% hingga 2,25% setelah mengakhiri pertemuan kebijakan dua hari. Keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar.

Pemangkasan bunga acuan tersebut merupakan yang pertama kalinya sejak krisis keuangan global 2008. Keputusan The Fed pada Rabu (31/7) waktu Amerika Serikat (AS) itu diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran atas ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok, serta perlambatan ekonomi global. Keputusan tersebut sekaligus menandai bahwa The Fed telah mengambil kebijakan melunak dibandingkan tahun lalu. Pada 2018, The Fed menyetujui empat kali kenaikan suku sebagai langkah lanjutan menuju normalisasi kebijakan yang dimulai pada 2015, setelah mempertahankan suku bunga mendekati nol selama tujuh tahun.

Kebijakan The Fed tersebut diharapkan akan memberikan dampak positif bagi perekonomian negara berkembang termasuk Indonesia. Penurunan suku bunga The Fed sebanyak 25 basis poin (bps) akan membuat investasi masuk ke Indonesia dan memacu laju pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II tahun ini. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tumbuh 5,07% secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2019. Sementara target pemerintah tahun ini sebesar 5,3%.

Sebelumnya, pada 18 Juli lalu Bank Indonesia (BI) juga telah menurunkan bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) sebesar 25 bps ke posisi 5,75%. Seiring penurunan bunga acuan The Fed sebesar 25 bps, ruang penurunan bunga acuan BI 7-DRRR akan kembali terbuka. Namun hal itu membutuhkan prasyarat jika risiko terhadap nilai tukar mereda serta laju inflasi yang tetap terjaga.

Pada perdagangan Kamis (1/8) sore setelah The Fed menurunkan suku bunga acuannya, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta sebesar Rp 14.116 per dolar AS dibanding hari sebelumnya Rp 14.022 per dolar AS. Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia kemarin menunjukkan rupiah di posisi Rp 14.098 per dolar AS dibanding hari sebelumnya Rp 14.026 per dolar AS.

Sementara itu, BPS mencatat inflasi sebesar 0,31% pada Juli 2019. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Dengan besaran inflasi tersebut, maka inflasi tahun kalender Januari-Juli sebesar 2,36% dan secara tahunan 3,32% atau di bawah target inflasi BI di kisaran 3,5% plus minus 1%. Angka inflasi yang dirilis BPS kemarin membuktikan bahwa kondisi ekonomi domestik membaik seiring terjaganya stabilitas harga pangan.

Kondisi ekonomi makro dalam negeri yang terjaga serta penurunan bunga acuan The Fed menumbuhkan optimisme bahwa pelonggaran kebijakan moneter oleh BI bakal berlanjut. Penurunan bunga acuan BI yang kemudian ditransmisi ke penurunan bunga kredit bank akan memberi dorongan bagi perusahaan-perusahaan yang sepanjang semester pertama wait and see untuk memulai ekspansi pada semester kedua.

Data analisis uang beredar periode Juni 2019 yang dirilis BI menyebutkan bahwa penyaluran kredit perbankan tumbuh 9,9% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 5.495,9 triliun pada Juni tahun ini. Angka itu lebih rendah dibandingkan Mei 2019 sebesar 11,1% (yoy). Perlambatan penyaluran kredit per Juni terjadi pada golongan debitur korporasi maupun perseorangan. Kredit ke korporasi tumbuh 12% (yoy) atau melambat dari bulan sebelumnya sebelumnya 13,6%. Sedangkan kredit perorangan tumbuh 8,9% (yoy) per Juni, juga lebih rendah dari bulan sebelumnya 9,3% (yoy).

Perlambatan pertumbuhan kredit juga terjadi pada seluruh jenis penggunaannya. Misalnya kredit modal kerja (KMK) yang melambat dari 10,9% (yoy) per Mei menjadi 9,5% (yoy) per Juni lalu. Perlambatan pertumbuhan tersebut utamanya terjadi pada sektor industri pengolahan dan sektor konstruksi.

Namun demikian, untuk semester kedua, ada optimisme bahwa penyaluran kredit akan meningkat. Kredit perbankan akan tumbuh seiring penurunan suku bunga kebijakan BI dan juga pelonggaran kebijakan penurunan giro wajib minimum (GWM) sebesar 50 bps. Kebijakan BI ini bisa mendukung fungsi intermediasi perbankan, yaitu menghimpun dana dari nasabah untuk kemudian disalurkan ke peminjam.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaikkan target pertumbuhan kredit tahun ini menjadi 12% plus minus 1% atau sekitar 11-13% (yoy) dari sebelumnya hanya 9-11% (yoy). Sementara itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini sebesar 11,7% (yoy). Penyaluran kredit pada semester kedua bisa lebih tinggi dibandingkan semester pertama karena banyak proyek yang baru menarik kredit pada semester kedua. Kredit akan banyak mengalir ke korporasi terutama untuk mendanai sektor infrastruktur.

Optimisme bakal melonjaknya kredit pada semester kedua juga datang dari kalangan bankir. Namun, kalangan bankir mengingatkan bahwa bank harus tetap memperhatikan kondisi likuiditas masing-masing sebelum menyalurkan kredit. Kredit pada semester kedua bisa tumbuh 10-11%. Jika lebih dari kisaran tersebut dikhawatirkan dana pihak ketiga (DPK) tidak bisa menunjang permintaan kredit.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN