Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kesadaran tentang perlunya memelihara prinsip-prinsip  environmental, social, and corporate governance (ESG) terus meningkat. (Foto: Ist)

Kesadaran tentang perlunya memelihara prinsip-prinsip environmental, social, and corporate governance (ESG) terus meningkat. (Foto: Ist)

Melahirkan Emiten Berwawasan ESG

Rabu, 27 Januari 2021 | 07:00 WIB
Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Kerusakan lingkungan, dekadensi sosial, dan kejahatan korporasi telah melecut kesadaran masyarakat di seluruh dunia tentang pentingnya menjaga lingkungan, memiliki tanggung jawab sosial, dan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik.

Masyarakat konsumen di negara-negara maju bahkan telah lama mengampanyekan penolakan terhadap produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan tak ramah lingkungan, memiliki tanggung jawab sosial yang rendah, serta menyalahi tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG).

Kesadaran tentang perlunya memelihara prinsip-prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (environmental, social, and corporate governance/ESG) juga merambah lantai bursa. Kini semakin banyak perusahaan tercatat di bursa (listed company) yang menerapkan prinsip-prinsip ESG. Mereka percaya ESG akan menjadikan kinerja perusahaan lebih baik dan berkesinambungan.

Berbagai penelitian menunjukkan, perusahaan yang mempraktikkan prinsip-prinsip ESG mampu membukukan kinerja keuangan yang jauh lebih baik dibanding perusahaan yang tidak menerapkannya. Emiten yang secara serius melaksanakan kaidah-kaidah ESG juga mengalami kenaikan harga saham lebih bagus dibanding yang tidak melaksanakannya.

Tak mengherankan jika penerapan prinsip-prinsip ESG kini menjadi acuan bagi para pemodal dalam memilih portofolio. Dalam lima tahun terakhir, jumlah dana produk instrumen berbasis ESG yang dikelola manajer investasi (MI) global melonjak dari US$ 59 triliun menjadi US$ 103 triliun. Para investor dan pengelola hedge fund tak mau lagi berinvestasi pada perusahaan yang menabrak nilai-nilai ESG.

Pasar modal Indonesia termasuk yang mendapat imbas positif dari fenomena tersebut. Instrumen investasi berbasis ESG terus bertambah. Jika pada 2015 hanya ada satu produk reksa dana berbasis ESG dengan dana kelolaan (under asset management/AUM) Rp 36 miliar, maka per 30 Desember 2020 jumlahnya mencapai 14 produk dengan AUM Rp 3 triliun lebih.

Tak kalah menarik, lonjakan AUM reksa dana berbasis ESG dikontribusi generasi Z (lahir 1997-2012) dan Milenial (lahir 1981-1996) yang jumlahnya meningkat 50% lebih selama pandemi Covid-19. Tujuan investasi generasi Z dan Milenial ternyata bukan semata mencari keuntungan (return), tetapi juga agar investasinya berdampak positif terhadap kelestarian lingkungan, membantu masyarakat, dan menjaga keberlanjutan bisnis perusahaan.

Meningkatnya kesadaran ESG di kalangan emiten dan investor pasar modal mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan indeks baru, IDX ESG Leaders, pada pertengahan Desember silam. IDX ESG Leaders adalah indeks yang mengukur kinerja harga saham dengan penilaian ESG yang bagus, tidak terlibat kontroversi signifikan, serta memiliki likuiditas transaksi dan kinerja keuangan yang baik.

IDX ESG Leaders bukan satu-satunya indeks saham berbasis lingkungan, sosial, dan GCG. Di bursa domestik juga ada indeks SRI-Kehati (Sustainable and Responsible Investment - Keanekaragaman Hayati) yang diuncurkan pada Juni 2009 atas kerja sama BEI dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati). Jika IDX ESG Leaders berisi 30 saham maka SRI-Kehati terdiri atas 25 saham.

Kita berharap indeks saham berbasis ESG bukan saja berdampak positif terhadap lingkungan, sosial, dan keberlanjutan perusahaan, tapi juga dapat memperkaya instrumen investasi di pasar modal domestik. Indeks saham berbasis ESG dapat digunakan sebagai underlying produk-produk pasar modal, seperti reksa dana dan exchange traded fund (ETF), sehingga para investor dapat lebih mudah dan memiliki banyak alternatif untuk berinvestasi.

Karena alasan itu pula, kita mendorong penerapan ESG lebih luas di kalangan emiten. Otoritas Jasa Keungan (OJK) telah mewajibkan emiten menyampaikan laporan berkelanjutan (sustainability report) kepada masyarakat dengan memuat kinerja ekonomi, keuangan, sosial, dan lingkungan hidup. Kewajiban sustainability report diterapkan secara bertahap kepada emiten berdasarkan sektornya sejak 2019 dan berlaku menyeluruh pada 2025.

Kita mendesak kewajiban sustainability report dilaksanakan. Agar aturan itu bisa ditegakkan, OJK sebaiknya merevisi sanksi dan insentif yang tertuang dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 51 /POJK03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik. Sanksinya jangan sekadar sanksi administratif berupa peringatan dan teguran tertulis. Insentifnya pun jangan cuma pemberian penghargaan dan program peningkatan kompetensi SDM.

Sustainability report akan memaksa emiten melaksanakan prinsip-prinsip ESG. Hasil akhir yang bisa dicapai dari penerapan ESG tentu saja pasar modal domestik yang kuat. Jika diisi emiten-emiten berkualitas dan berfundamental kokoh, pasar modal Indonesia bakal lebih matang, stabil, dan mandiri. Aliran modal asing (capital inflow) akan mengalir lebih deras.

Paling penting, ekspansi emiten-emiten yang sehat akan membuat perekonomian nasional tumbuh lebih pesat dan lebih akseleratif, sehingga angka kemiskinan dan pengangguran dapat ditekan lebih masif.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN