Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Minat pemodal terhadap saham-saham baru di pasar perdana atau initial public offering (IPO) tetap tinggi.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Minat pemodal terhadap saham-saham baru di pasar perdana atau initial public offering (IPO) tetap tinggi. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Melawan Pandemi di Pasar Saham

Kamis, 23 Juli 2020 | 06:17 WIB
Investor Daily

Pandemi corona telah menyebabkan perekonomian global luluh lantak. Tak satu negara pun luput dari dampak Covid-19. Ekonomi dunia tahun ini diperoyeksikan minus 5,2%, kontraksi paling dalam sejak Perang Dunia II. Ekonomi Indonesia diperkirakan hanya tumbuh 1%, bahkan bisa minus 0,4%, kontraksi paling parah sejak krisis moneter 1998.

Namun, seperti api dalam sekam, optimisme tetap membara di lantai bursa. Itu sebabnya, meski dibayang-bayangi pandemi Covid, pasar saham domestik terus menggeliat. Setelah terjerembab ke level 3,937.63 pada 24 Maret lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) kini bertengger kokoh di level 5.100.

Pasar percaya badai Covid segera berlalu dan ekonomi kembali bergairah. Setelah pemerintah melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), emiten-emiten yang kini tiarap, bakal bangkit lagi. Apalagi penemuan vaksin anti-Covid terus mengalami progres yang signifikan, sehingga vaksin itu bisa segera diproduksi massal dan digunakan di seluruh dunia.

Lebih dari itu, pemerintah kini me lakukan pendekatan yang le bih komprehensif dalam me nanggulangi pandemi co rona. Pemerintah tidak lagi mendikotomikan ekonomi dan kesehatan dalam menangani Covid- 19. Pasar yakin s eiring berjalannya waktu, penanganan  Covid akan lebih profesional, transparan, dan akuntabel.

Jangan lupa, pemerintah telah menggelontorkan anggaran Rp 695,2 triliun sebagai stimulus fiskal, yang sebagian besar digunakan untuk me mulihkan perekonomian. Dana itu belum termasuk pelonggaran li kuiditas (quantitative easing/QE) yang dipompakan Bank Indonesia (BI) dan stimulus keuangan yang di terapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di perbankan dan industri pem biayaan. Karena optimisme itu pula, minat korporasi untuk melangsungkan pe nawaran umum perdana (initial public of fering/IPO) saham tetap tinggi.

Sedikitnya 18 perusahaan bersiap melangsungkan IPO tahun ini, menyusul 33 perusahaan lainnya yang telah lebih dulu mencatatkan (listing) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Banyaknya korporasi yang menggelar IPO di tengah pandemi mengonfirmasikan banyak hal. Di satu sisi, para pengelola dan pemilik perusahaan yakin bisa menggalang dana masyarakat dari pasar modal untuk membiayai ekspansi bisnis mereka. Inilah yang mendorong korporasi tetap percaya diri untuk melepas saham kepada publik.

Di sisi lain, masyarakat selaku investor percaya emiten-emiten baru di bursa saham domestik memiliki prospek bisnis yang cerah. Kesulitan yang dialami korporasi saat ini lebih disebabkan pandemi corona. Setelah Covid berlalu, emiten-emiten baru akan langsung 'terbang'.

Di luar itu, para investor menaruh ekspektasi tinggi terhadap perekonomian nasional. Ekonomi Indonesia dianggap memiliki resiliensi yang relatif lebih baik. Buktinya, kontraksi yang dialami perekonomian Indonesia diestimasikan tidak sedalam Negara-negara lain. Dalam prediksi Bank Dunia, ekonomi Indonesia pada 2020 akan tumbuh 0,0%, lebih baik dari rata-rata nega ra berkembang yang diestimasikan minus 2,5%.

Proyeksi ekonomi Indonesia jauh lebih baik dari India (minus 3,2%) dan Brasil (minus 8%). Tahun depan, Bank Dunia memperkirakan ekonomi negara berkembang rata-rata tumbuh 4,6%. Indonesia diproyeksikan tumbuh lebih tinggi, 4,8%.

Mencermati prospek ekonomi Indonesia ke depan yang tetap menjanjikan , adagium bahwa membeli saham adalah membeli masa depan, sungguh relevan. Para investor akan mendapat keuntungan mak simal jika membeli sa ham ketika IHSG selama tahun berjalan  (year  to date/ytd) masih minus 18,88% seperti sekarang.

Kita juga percaya perekonomian nasional bisa segera pulih jika pemerintah lebih taktis menangani pandemic corona. Meski para investor menaruh ekspektasi tinggi terhadap prospek perekonomian nasional, mereka menganggap pemerintah kurang gesit be kerja. Buktinya, realisasi stimulus, baik untuk kesehatan maupun untuk pemulihan ekonomi, masih di bawah 10%. Padahal, sukses atau tidaknya pemerintah mengatasi dampak pandemic sangat bergantung pada akselerasi pencairan stimulus.

Dana stimulus diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat, menyelamatkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta membantu korporasi mengatasi masa-masa sulit akibat Covid. Persepsi kurang sedap para pelaku pasar tergolong wajar.

Sulit untuk memahami bahwa hanya dalam tempo enam bulan, Rp 600 triliun dana stimulus bisa direalisasikan seluruhnya. Kita justru khawatir penyaluran dana stimulus yang bersifat 'kejar tayang' akan menafikan akuntabilitas, sehingga kontraproduktif terhadap pemulihan ekonomi, bahkan memicu aji mumpung (moral hazard).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN