Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Memulihkan Industri Manufaktur

Selasa, 16 Februari 2021 | 12:27 WIB
Investor Daily

Neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2021, mencatatkan surplus sebesar US$ 1,96 miliar dengan nilai ekspor US$ 15,30 miliar dan impor US$ 13,34 miliar. Posisi ini jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan neraca perdagangan pada Januari 2020 yang mengalami defisit US$ 640 juta dan juga dibandingkan dengan Januari 2019 yang defisit US$ 980 juta. Kendati mencatatkan surplus, kondisi tersebut belum memperlihatkan pu lihnya industri pengolahan atau ma nufaktur nasional memasuki tahun 2021.

Lesunya industri pengolahan nasional bisa dilihat dari penurunan nilai impor nonmigas pada Januari 2021. Impor nonmigas Januari 2021 mencapai US$ 11,79 miliar, turun 9,0% dibandingkan Desember 2020 atau turun 4,0% dibandingkan Januari 2020. Penurunan impor golongan barang nonmigas terbesar Januari 2021 dibandingkan Desember 2020 adalah mesin dan peralatan mekanis US$ 371,3 juta (17,16%).

Nilai impor awal 2021 masih terkontraksi karena penurunan impor dari seluruh penggunaan barang, baik konsumsi, bahan baku atau penolong, hingga barang modal, baik jika dibandingkan dengan Desember 2020 ataupun dengan periode sama tahun 2020. Bahkan, kinerja nilai impor pada Januari 2021 mencetak rekor terendah dalam dua tahun terakhir.

Gambaran bahwa kondisi industri pengolahan masih lesu terlihat dari data impor bahan baku atau penolong pada Januari 2021 yang mengalami kontraksi 2,62% secara bulanan, dan minus 6,10% secara tahunan.

Adapun untuk barang modal kontraksinya lebih dalam lagi, yakni sebesar 21,23% secara bulanan, dan minus 10,72% secara tahunan. Sedangkan untuk barang konsumsi, kontraksinya secara tahunan sebesar 2,92% dan secara bulanan mencapai 17%. Kinerja impor yang melemah perlu mendapat perhatian karena mencerminkan kondisi pemulihan industri serta pergerakan investasi.

Kontraksi yang terjadi pada impor bahan baku dan barang modal disebabkan pelaku usaha belum meningkatkan kapasitas pabriknya ataupun ekspansi. Ini akibat pandemi virus corona (Covid-19) yang menurunkan sisi permintaan (demand).

Dampak pandemi terhadap perekonomian Indonesia masih dirasakan hingga awal 2021. Setali tiga uang, kinerja ekspor ju ga tidak menggembirakan. Total nilai ekspor Indonesia Januari 2021 mencapai US$ 15,30 miliar atau turun 7,48% dibanding Desember 2020.

Sementara dibanding Januari 2020 naik 12,24%. Ekspor nonmigas Januari 2021 mencapai US$ 14,42 miliar, turun 7,11% dibanding Desember 2020.

Sementara dibanding Januari 2020, ekspor nonmigas naik 12,49%. Penurunan terbesar ekspor nonmigas Januari 2021 terhadap Desember 2020 terjadi pada bijih, terak, dan abu logam sebesar US$ 257,5 juta (44,39%).

Ekspor industri pengolahan mengalami penurunan 7,15% secara bulanan, dikarenakan adanya penurunan yang besar pada ekspor besi dan baja, minyak kelapa sawit, barang perhiasan dan barang berharga, serta televisi dan perlangkapan televisi.

Selain itu, BPS juga mencatat ekspor pada sektor per tanian turun paling dalam sebesar minus 22,19% secara bulanan dan sektor pertambangan mengalami kontraksi sebesar 3,81%. Ekonomi Indonesia masih lesu juga bisa dilihat dari data inflasi Januari 2021 sebesar 0,26% dibandingkan bulan sebelumnya (mtm). Perlambatan laju inflasi disebabkan oleh kombinasi dua faktor.

Pertama adalah pasokan yang terjaga, dan kedua lemahnya per min taan. Namun faktor kedua lebih dominan. Memasuki tahun 2021 dam pak Covid-19 belum reda dan ma sih membayangi perekonomian ber ba gai negara, termasuk Indonesia. Mobilitas berkurang, roda ekonomi ter hambat, dan hal itu berpengaruh ke permintaan. Lesunya permintaan juga tercermin di inflasi inti.

Pada Januari 2021, inflasi inti sebesar 1,56% (yoy) merupakan yang terendah sejak BPS melaporkan data ini pada 2004. Inflasi inti mengalami perlambatan yang menandakan permintaan domestik masih lemah.

Dari sisi suplai mungkin saja terjaga, namun sisi permintaan melemah karena pandemic Covid-19 masih membayangi perekonomian. Menggerakkan sektor industri manufaktur menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi kita.

Sektor industri manufaktur memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional melalui realisasi penanaman modal dan penciptaan lapangan kerja. Sektor industri manufaktur bisa diandalkan menjadi lokomotif pemulihan ekonomi Indonesia tahun ini. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, investasi di sektor industri sebesar Rp 272,9 triliun pada 2020, atau menyumbang 33% dari total nilai investasi nasional yang mencapai Rp 826,3 triliun tahun lalu.

Hasilnya, realisasi investasi secara nasional pada tahun lalu melampaui target Rp 817,2 triliun atau menembus 101,1%. Pemulihan sektor industri manufaktur sangat penting bagi Indonesia. Sebab, sektor ini menjadi contributor utama dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB) dari sisi lapangan usaha. Ketika sektor manufaktur tumbuh, ada harapan PDB secara keseluruhan akan ikut terangkat. Tahun lalu, BPS mencatat sektor manufaktur mengalami kontraksi sebesar 2,93% dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 19,88%.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN