Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wisatawan menikmati pemandangan di area objek wisata Tanah Lot, Tabanan, Bali. Foto ilustrasi: IST

Wisatawan menikmati pemandangan di area objek wisata Tanah Lot, Tabanan, Bali. Foto ilustrasi: IST

Memulihkan Pariwisata

Jumat, 27 November 2020 | 23:08 WIB
Investor Daily

Pariwisata adalah sektor yang paling luluh lantak akibat Covid-19. Kehancuran sektor pariwisata tercermin pada anjloknya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Per September 2020, kunjungan wisman tergerus 88,95% dibanding September 2019 (year on year/ yoy), dari 1,38 juta menjadi 153,5 ribu. Pada Januari-September 2020, kunjungan wisman menyusut 70,57% (yoy) menjadi 3,56 juta dari 12,10 juta.

Melorotnya kunjungan wisman berimbas langsung ke industri perhotelan. Pada April 2020, yang merupakan puncak keterpurukan industri pariwisata akibat Covid, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Tanah Air hanya mencapai 12,67% dibanding biasanya 55-60%. Per September 2020, TPK hotel klasifikasi bintang belum beranjak dari 32,12%.

Pukulan terhadap industri penerbangan tak kalah mengerikan. Per September 2020, jumlah penumpang angkutan udara internasional turun 97,86% 34 ribu dibanding September 2019 sebanyak 1,59 juta (yoy). Sedangkan jumlah penumpang angkutan udara domestik berkurang 69,26% menjadi 1,89 juta dibanding periode sama tahun silam 6,16 juta.

Syukurlah, meski sedang diharu biru Covid-19, para pelaku industri pariwisata tetap memendam optimisme yang tinggi bahwa sektor pariwisata segera pulih pada 2021.

Optimisme itu cukup beralasan. Awal tahun depan, pemerintah mulai melaksanakan program vaksinasi. Dalam ekspektasi masyarakat di seluruh penjuru dunia, vaksinasi akan menjadikan manusia imun terhadap virus corona.

Rasa aman terhadap penularan virus corona setelah menjalani vaksinasi akan meningkatkan kepercayaan (confidence) masyarakat untuk kembali bepergian dan berwisata. Objek-objek wisata akan kembali dipenuhi pengunjung.

Pesawat terbang bakal disesaki lagi penumpang. Kamar-kamar hotel akan terisi. Pada akhirnya, bukan hanya sektor pariwisata yang pulih, tapi juga perekonomian nasional se cara keseluruhan.

Faktor pendorong lainnya adalah komitmen pemerintah untuk segera mengucurkan stimulus berupa dana hibah senilai Rp 3,3 triliun bagi pelaku usaha pariwisata dan pemda. Stimulus ini ditujukan untuk membantu penerapan protokol kesehatan di destinasi wisata. Meski tak sekuat dampak vaksinasi, stimulus protokol kesehatan di destinasi wisata bakal menciptakan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan.

Optimisme para pelaku industri pariwisata di dalam negeri juga didorong kepastian dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa para pelaku industri pariwisata, khususnya perhotelan dan restoran, bakal mendapatkan perpanjangan restrukturisasi utang hingga Maret 2022.

Restrukturisasi utang akan mempercepat pemulihan industri pariwisata. Terlebih OJK akan men dorong perbankan menyalurkan kredit modal kerja kepada industri pariwisata.

Pemerintah memang harus menye lamatkan industri pariwisata. Apalagi sejak lima tahun silam, sektor pariwisata disiapkan se bagai motor pertumbuhan ekonomi. Itu sebabnya, setelah Covid merebak di Indonesia pada awal Maret lalu, stimulus yang pertama digulirkan pemerintah bukan bantuan sosial (bansos) atau insentif usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), melainkan stimulus untuk sektor pariwisata.

Keputusan pemerintah menjadikan sektor pariwisata sebagai ujung tombak pembangunan ekonomi sekaligus sebagai bumper dari krisis sudah tepat. Pariwisata adalah sektor paling minim modal, namun mam pu mendatangkan nilai tambah tinggi bagi perekonomian, baik dari sisi devisa dan penerimaan negara, maupun dari sisi penyerapan tenaga kerja dan pengurangan angka kemiskinan.

Dengan mengandalkan sektor pariwisata, pemerintah tak perlu mengeluarkan banyak investasi karena Indonesia adalah gudangnya objek pariwisata. Objek wisata apa saja ada di negeri ini, dari wisata bahari, wisata budaya, wisata pertanian, wisata berburu, wisata religi, wisata cagar alam, hingga wisata konvensi.

Lebih dari itu, menjaring lebih banyak wisman berarti juga memperkokoh fundamental ekonomi nasional.

Dolar yang mengalir deras ke dalam negeri, melalui para turis yang berkunjung, akan membuat rupiah menguat dan stabil, sehingga defisit transaksi berjalan (current account deficit/ CAD) akibat defisit neraca jasa, tidak terus menggerogoti perekonomian domestik.

Lantas, bakal mampukah industri pariwisata menjadi motor pertumbuhan dan mengentaskan perekonomian nasional dari krisis akibat Covid-19? Jika melihat rekam jejak program-program pemerintah selama ini, kita sebaiknya tidak terlalu menaruh estimasi berlebihan (over estimate), tapi juga jangan terlampau pesimistis.

Masih segar dalam ingatan ketika pemerintah pada 26 Februari 2020 atau dua bulan setelah Covid-19 merebak di Tiongkok dan sepekan sebelum Presiden Jokowi mengumumkan kasus Covid pertama di Indonesia, mengeluarkan stimulus jilid I untuk sektor pariwisata. Guna menjaring lebih banyak wisman, pemerintah menganggarkan Rp 298,5 miliar untuk insentif maskapai penerbangan, agen perjalanan, biaya promosi, dan kampanye pariwisata.

Untuk wisatawan Nusantara (wisnus), pemerintah memberikan diskon 30% tiket penerbangan ke 10 tujuan wisata dengan kuota 25% tempat duduk di setiap penerbangan selama tiga bulan. Pemerintah juga memberikan tambahan diskon 10% harga avtur dari Pertamina dan 5,64% diskon tarif penerbangan dari PT Angkasa Pura (AP) dan Airnav.

Tak cuma itu, pemerintah membebaskan pajak hotel dan restoran di 10 destinasi wisata melalui subsidi atau hibah Rp 3,3 triliun kepada pemda yang terdampak Covid. Pemerintah pun me manfaatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik pariwisata senilai Rp 147 miliar dalam APBN yang belum digunakan daerah. Hasilnya? Industri pariwisata tetap terpuruk.

Tak ada wisman yang datang berkunjung. Kita sepakat bahwa langkah-langkah yang ditempuh saat ini belum cukup mumpuni untuk mendongkrak sektor pa riwisata yang baru berkontribusi 4-5% terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dan menyerap sekitar 14 juta tenaga kerja.

Perlu langkah-langkah terobosan yang luar biasa (unusual) dan di luar kebiasaan (extra ordinary) untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai motor pemulihan ekonomi nasional. Salah satu kebijakan extra ordinary yang bisa diterapkan pemerintah adalah mendorong industri asuransi bersinergi dengan industri pariwisata untuk meng-cover_Covid.

Saat ini, hanya beberapa perusahaan asuransi saja yang sudah meng-cover_Covid, itu pun tidak bersifat sektoral. Indonesia bisa meniru Turki yang telah menerapkan kebijakan tersebut. Negara yang terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia Barat Daya dan daerah Balkan di Eropa Tenggara itu terbukti berhasil memulihkan industri pariwisatanya. Terobosan luar biasa lainnya yang bisa dilakukan pemerintah adalah mencabut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seraya menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Fakta menunjukkan, PSBB di sejumlah daerah tidak efektif meredam penyebaran corona akibat banyaknya pelanggaran.

Alhasil, kasus corona terus me ningkat dan ekonomi makin tergerus. Kebijakan yang serba tanggung tak boleh diterapkan jika akhirnya kontraproduktif. Sambil menunggu vaksin datang, pemerintah bersama pelaku industri pariwisata, sebaiknya terus berkreasi dan berimprovisasi, jangan seperti katak dalam tempurung.

Itu jika pemerintah ingin sektor pariwisata cepat pulih dan menjadikannya motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN