Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri BUMN Erick Thohir, bersama para dirut bank Himbara, dan Menkeu Sri Mulyani. Foto: IST

Menteri BUMN Erick Thohir, bersama para dirut bank Himbara, dan Menkeu Sri Mulyani. Foto: IST

Memulihkan Sektor Riil

Investor Daily, Kamis, 25 Juni 2020 | 23:37 WIB

Pemerintah memutuskan untuk menempatkan dana Rp 30 triliun di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Penempatan dana di bank-bank pelat merah ditujukan untuk mengakselerasi penyaluran kredit dan mendorong pemulihan sektor riil yang terpuruk akibat pandemi corona.

Penempatan dana pemerintah di perbankan tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 70 Tahun 2020 tentang Penempatan Uang Negara pada Bank Umum dalam Rangka Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Beleid ini merupakan bagian program PEN yang digariskan Peraturan Pemerintah (PP) No 23 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Program PEN dalam Rangka Mendukung Kebijakan Keuangan Negara untuk Penanganan Covid-19.

Keputusan pemerintah menempatkan dana bank BUMN makin meneguhkan optimisme bahwa sektor riil yang sedang tiarap, bakal menggeliat lagi. Sebab, selain mendapat fasilitas restrukturisasi kredit, sektor riil juga mendapat kucuran kredit modal kerja dengan bunga yang lebih terjangkau karena disubsidi.

Semakin cepat sektor  riil menggeliat, semakin cepat pula perekonomian nasional pulih. Apalagi pemerintah telah menggelontorkan anggaran senilai total Rp 695,20 triliun untuk mengatasi penyebaran virus corona dan meredamdampaknya terhadapperekonomian.

Keputusan  pemerintah itu sekal i g u s memupuskeragu-raguan banyak kalangan selama ini bahwa stimulus untuk dunia usaha lewat perbankan Cuma 'pepesan kosong' karena hanya diberikan dalam bentuk restrukturisasi kredit.

Sektor riil akan tetap mati suri jika hanya mendapat restrukturisasi kredit, karena mereka tak punya modal kerja untuk memutar roda usahanya. Keraguan itu terjawab sudah.

Keputusan pemerintah menempatkan dana pemulihan sektor riil di perbankan mendapat respons positif dari para pelaku pasar. Saham perbankan, terutama saham bank BUMN, menguat tajam dalam beberapa hari terakhir.

Terlebih setelah pemerintah resmi mengumumkan penempatan dana Rp 30 triliun di BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BTN demi mendukung pemulihan sektor riil. Dengan diterbitkannya PMK penempatan dana pemerintah di bank umum, poses pemulihan sektor riil tinggal selangkah lagi. Itu karena menteri keuangan (menkeu) telah menerbitkan PMK No 65 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pemberian Subsidi Bunga/Subsidi Margin untuk Kredit/ Pembiayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam Rangka Mendukung Program PEN.

Demi memuluskan program pemulihan sektor riil, menkeu juga telah menerbitkan PMK No 64 Tahun 2020 tentang Penempatan Dana pada Bank Peserta dalam Rangka Program PEN. Bank peserta adalah bank yang menerima penempatan dana pemerintahdan menyediakan dana penyanggalikuiditas bagi bank pelaksana restrukturisasiatau pemberi tambahan kredit dan pembiayaan modal kerja.

Berbekal instrumen-instrumen tersebut, program restrukturisasi kredit, subsidi bunga, dan penyaluran modal kerja yang dijalankan perbankan seharusnya berjalan sukses.

Apalagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah merelaksasi sejumlah aturan perbankandan perusahaan pembiayaan. Bank Indonesia (BI), lewat berbagai instrumen moneter, juga telah memompakan likuiditas senilai Rp 600 triliun lebih kepada perbankan. Lagi pula, program penyehatan sektor riil lewat perbankan menguntungkan semua pihak.

Dengan menempatkan dananya di perbankan, pemerintah mendapat remunerasi berupa bunga atau imbal hasil. Bankbank juga mengenyam keuntungan dari bunga kredit, selain likuiditas dan kredit bermasalah (non performing loans/NPL)-nya terjaga.

Sektor riil, termasuk UMKM, terselamatkan karena utangnya direstrukturisasi dan menikmati kredit baru dengan bunga lebih kompetitif. Program penyehatan sektor riil dan perbankan akan semakin efektifsetelah pemerintah melipatgandakan dana penempatan di perbankan, baik di bank-bank BUMN maupun bank swasta. Terlebih jika subsidi bunga diperluas dan stimulus untuk dunia usaha ditambah.

Pemulihan sektor riil, perbankan, dan perekonomian nasional  akan menemukan momentumnya ketika semua instrument dijalankan.

Yang perlu kita lakukan adalah mengawal agar program penyehatan sektor riillewat perbankan terlaksana dengan baik. Karena itu, restrukturisasi dan pemberian kredit baru oleh perbankan kepada sektor riil tak boleh menafikan prinsip kehati-hatian perbankan (prudential banking).

Prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good governance) tak boleh ditabrak. Sebab, sekali ditabrak, semua yang disusun dan disiapkan dengan susah payah, akan hancur berantakan.

Suka atau tidak suka, kita harus mengakui bahwa program pemulihan ekonomi dari dampak corona yang dibiayai stimulus fiskal senilai ratusan triliun rupiah sangat rawan terjangkit virus aji mumpung (moral hazard), baik di pihak bankir sebagai kreditur, maupun di pihak sektor riil sebagai debitur, bahkan di pihak pemerintah selaku regulator.

Debitur yang mengalami kesulitan membayar kredit akibat salah kelola (mismanagement) atau kejahatan (fraud) bisa mengklaim terdampak Covid-19. Oknum bankir yang gelap mata bisa patgulipat dengan debitur nakal.

Oknum pejabat pemerintah, OJK, atau BI bisa hanky-panky memanfaatkan situasi. Maka kita bersyukur Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) berkomitmen untuk tetap mengawal pelaksanaan stimulus, baik di bidang kesehatan, bantuan sosial (bansos), maupun dunia usaha. Komitmen KPK dan BPK menjaga proses pemulihan ekonomi dari moral hazard harus menjadi komitmen seluruh pemangku kepentingan, kecuali jika kita menghendaki ekonomi negeri ini terus terpuruk.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN