Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Menagih Legasi Direksi BUMN

Investor Daily, Senin, 13 Januari 2020 | 12:00 WIB

Tanpa mengurangi partisipasi swasta, peran BUMN masih sangat besar bagi perekonomian bangsa. Selain menjalankan penugasan pemerintah, pajak dan dividen dari BUMN diharapkan terus meningkat.

BUMN menjadi tangan pemerintah untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, menciptakan pemerataan, dan ikut menjaga stabilitas ekonomi.

Oleh karena itu, pengelolaan BUMN harus lebih memperhatikan aspek good corporate governance (GCG), best practises, dan arahan pemerintah. Setiap direksi dan komisaris perusahaan Negara wajib meninggalkan legasi (legacy) bagi generasi berikut.

Kewajiban untuk meninggalkan legasi tidak hanya oleh top 15 atau 15 BUMN pencetak laba terbesar. Semua BUMN harus meninggalkan legasi dan memberikan kontribusi lebih besar kepada bangsa dan negara lewat pajak, dividen, dan job creation atau penciptaan lapangan kerja. BUMN harus menjadi tangan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menyejahterakan rakyat. Itu bukan berarti BUMN lainnya dikelola sekadarnya.

Semua BUMN wajib berbenah. Pentingnya reposisi BUMN ditegaskan kembali Menteri BUMN Erick Thohir dalam pertemuan dengan para pemimpin redaksi, Kamis (9/1).

Diakui, BUMN bagaikan lapangan becek. Di lapangan yang becek ini, para pelaku tergoda untuk melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). BUMN juga merupakan zona nyaman, tempat berbagai pihak yang berada di jajaran manajemen untuk sekadar menumpang hidup.

Ada sejumlah langkah penting yang sedang diambil Erick Thohir untuk mendongkrak kinerja BUMN. Pertama, menyelesaikan blueprint BUMN.

Memetakan BUMN yang perlu didorong untuk meraih profit lebih besar, BUMN yang sepenuhnya melaksanakan penugasan pemerintah, dan BUMN yang menjalankan misi sosial. BUMN yang profit motive didorong untuk meraih laba lebih besar lagiagar kontribusi terhadap bangsa dan negara terus meningkat.

Saat ini, dari 142 BUMN terdapat 15 BUMN yang mencetak laba terbesar. Dari total laba bersih BUMN sebesar Rp 210 triliun pada tahun 2018, sekitar 76% kontribusi oleh 15 perusahaan. BUMN yang bukan perusahaan terbuka dan dikondisikan untuk menjalankan penugasan harus dikelola dengan lebih baik. Kemampuan Permina, PLN, dan Bulog dalam menjalankan penugasan negara harus terus meningkat dari tahun ke tahun.

Kementerian BUMN sedang mempertimbangkan upaya membentuk perusahaan yang hanya konsentrasi pada riset dan inovasi. Indonesia ke depan membutukan riset dan inovasi agar mampu mengasilkan produk kompetitif di pasar global.

Di luar dua kategori ini, ada BUMN yang belum cukup jelas posisinya. Menteri BUMN berencana untuk menggabungkan seluruh rumah sakit milik negara agar menjadi perusahaan yang lebih sehat dan lebih mampu melayani masyarakat.

Juga ada rencana untuk menyatukan semua dana pensiun BUMN agar pengelolaan lebih prudent. Selama ini, dana pensiun BUMN menjadi bancakan pihak tertentu. Kedua, BUMN harus memiliki core business atau bisnis inti. Setiap BUMN harus fokus di bisnis intinya. Saat ini banyak banyak BUMN yang ekspansi hingga di luar bisnis inti. Sebuah BUMN migas, misalnya, memiliki puluhan anak perusahaan. Tidak sedikit anak perusahaan yang jauh dari bisnis inti. Ada sebuah BUMN migas yang memiliki hotel, rumah sakit, dan telekomunikasi.

Anak perusahaan yang bukan core business dilepas dan digabungkan ke BUMN sejenis. Anak perusahaan yang bergerak di bidang rumah sakit digabungkan ke BUMN rumah sakit. Anak perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi digabungkan ke BUMN telekomunikasi. Ke depan, tak ada lagi holding company baru, apalagi superholding. Erick lebih tertarik membentuk subholding agar BUMN bekerja lebih fokus.

Misalnya, BTN yang harus fokus pada pembangunan perumahan dan BRI pada UMKM. Ketiga, membentuk ekosistem bagi kemajuan BUMN. PLN, misalnya, bisa berkembang jika ada pasokan energi listrik dari pembangkit. Pembangkit dari berbagai energi bauran bisa dikerjakan perusahaan lain, BUMN  maupun swasta. PLN lebih berkonsentrasi pada transmisi dan distribusi listrik hingga ke rumah penduduk dan semua pelanggan, institusi Negara maupun swasta. Keempat, kualitas SDM di BUMN akan lebih diperhatikan. Erick mengaku tidak mudah mencari anggota direksi dan komisaris bagi 142 BUMN. Karena hanya dengan direksi dan komisaris yang berkualitas, jajaran BUMN memiliki the winning team, tim kerja yang hebat.

Kelima, untuk BUMN yang sudah menjadi perusahaan publik, termasuk BUMN karya yang selama ini ‘dipaksa’ untuk terus melakukan investasi, Erick akan memberikan perhatian khusus. Penugasan pemerintah tetap harus memperhatikan kewajiban perusahaan publik untuk menjaga rentabilitas dan solvabilitas.

Utang BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur terus diturunkan dan utang kepada pemerintah dan sesama BUMN dibayar. Saat ini, internal rate of return (IRR) sudah 12%. Pembangunan infrastruktur akan terus dipacu dan BUMN karya yang sudah berstatus perusahaan terbuka akan terus dilibatkan.

Saat ini terdapat 16 BUMN dan 18 anak perusahaan BUMN yang sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kapitalisasi Rp 1.800 triliun atau 24% dari total kapitalisasi pasar di BEI tanggal 10 Januari 2020. Kehadiran saham BUMN di lantai bursa penting untuk menarik minat investor.

Keenam, para direksi BUMN diminta untuk meninggalkan legasi. Legasi itu hanya mungkin ada kalau para direksi BUMN bekerja dengan baik, dengan visi yang jauh ke depan, inovatif, dan menerapkan GCG. Tidak ada KKN. Tidak bekerja sekadar mencari muka. BUMN yang dipimpin harus mencetak laba dan memberikan kontribusi besar kepada bangsa dan Negara.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN