Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung mendokumentasikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang langsung turun ke level di bawah 4.000 pada pembukaan pagi, di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta, Jumat (20/3/2020). BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pengunjung mendokumentasikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang langsung turun ke level di bawah 4.000 pada pembukaan pagi, di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta, Jumat (20/3/2020). BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Menahan Diri

Investor Daily, Selasa, 24 Maret 2020 | 17:41 WIB

Pemburukan situasi di pasar finansial makin membikin para investor gemetar. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia akhirnya meluncur menjebol level psikologis 4.000 ke posisi 3.989. Indeks telah kehilangan ‘keuntungan’ sekitar 37% sejak awal tahun.

Kapitalisasi pasar saham di BEI kini tinggal Rp 4.616 triliun, jauh meninggalkan posisi akhir tahun sebesar Rp 7.265 triliun. Artinya, nilai seluruh emiten yang tercatat di bursa efek menguap Rp 2.649 triliun hanya dalam kurang dari tiga bulan. Nilai kehilangan aset ini melampaui total anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2020 yang mencapai Rp 2.540 triliun.

Sepanjang tahun berjalan, investor asing telah melepas surat berharga negara (SBN) senilai US$ 6 miliar dan saham (net selling) sekitar Rp 10,2 triliun. Pelarian modal asing (capital outflow) inilah biang keladi pemicu kejatuhan harga saham 37% dan kenaikan yield SBN. Penjualan masif SBN oleh asing baru terjadi setelah 10 tahun mereka selalu mencatat net buying.

Beriringan dengan memburuknya pasar saham, gonjang-ganjing di pasar uang juga tak kalah mengkhawatirkan. Nilai tukar rupiah hampir menembus Rp 17.000 per dolar AS. Intervensi berlapis yang dilakukan Bank Indonesia tidak mampu menahan kejatuhan rupiah. Padahal, bank sentral sudah menghabiskan Rp 300 triliun untuk mengawal rupiah tersebut. Kepanikan massal yang terjadi di pasar saham dan pasar uang tidak terlepas dari data-data korban pandemi Virus Korona yang kian mengerikan.

Jumlah korban meninggal di tingkat global terus meningkat, terutama Italia yang jauh di atas Tiongkok yang menjadi episentrum Covid-19. Di Indonesia pun, tercatat 49 korban meninggal dengan 479 orang positif terinfeksi. Indonesia sendiri saat ini belum mencapai puncak kurva jumlah penderita maupun korban. Banyak yang berpretensi bahwa jumlah korban bakal jauh lebih besar dari data riil dan yang dibayangkan orang. Itulah sebabnya, seruan terus berkumandang agar seluruh warga Negara di Tanah Air mengikuti protocol pemerintah untuk diam di rumah, serta bekerja, ibadah, dan belajar di rumah. Hindari kerumunan.

Doni Monardo dalam jumpa pers bersama di Jakarta, Minggu (22/3/2020). SUmber: BSTV
Doni Monardo dalam jumpa pers bersama di Jakarta, Minggu (22/3/2020). SUmber: BSTV

Kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo tegas menyatakan bahwa mematuhi perintah Kepala Negara adalah kunci sukses menghentikan penyebaran Virus Korona yang sudah menjadi pandemi mematikan. Social distancing harus benar-benar disiplin dilakukan dan dipatuhi agar virus tidak menyebar dan menimbulkan korban jiwa lebih besar.

Kuncinya, semua harus menahan diri. Juga berkorban untuk tidak menuruti ego, apakah itu ego pribadi, ego sektoral, maupun ego sebagai korporasi. Kita lihat bagaimana saat ini dunia usaha juga mulai berkorban untuk mengurangi jam operasional, bahkan menutup sementara, dengan risiko pendapatan bakal merosot. Sejumlah mal besar di ibu kota sudah mengumumkan penutupan sementara untuk sepekan ke depan.

Menahan diri juga sebaiknya dilakukan oleh investor di pasar modal. Ketika indeks terus menghujam ke bawah tanpa tahu kapan batas terendah, sebaiknya investor tidak ikut-ikutan panik melakukan jual paksa, panic selling, atau sell off. Terima saja kondisi volatilitas ini dan menunggu hingga turbulensi mereda. Benar bahwa valuasi saham emiten di BEI saat ini sudah sangat murah.

Banyak saham bluechips berkapitalisasi besar dengan price to earning ratio (PER) di bawah 10 kali, juga price to book value (PBV) di bawah satu. Namun, sekarang juga bukan saat yang terlalu tepat untuk masuk pasar. Bisa jadi ekspektasi sebagian investor indeks saham bakal turun 50% sebagaimana terjadi pada krisis finansial 2008. Artinya, level indeks 3.989 bukanlah titik terbawah.

Minyak Dunia
Minyak Dunia

Krisis global yang disulut oleh pandemi mematikan Covid-19 dan perang harga minyak tidak hanya memukul harga aset finansial global termasuk di negara berkembang, tetapi juga menurunkan harga emas dan bahkan obligasi negara. Investor dan korporasi global saat ini sedang panik mengumpulkan cash, khususnya dalam denominasi dolar AS. Itulah sebabnya dolar AS menjadi sangat perkasa terhadap seluruh mata uang dunia.

Semua negara di dunia, tak terkecuali Indonesia, berjibaku menyelamatkan pasar finansial dan perekonomian dengan berbagai stimulus. Seluruh amunisi telah dikerahkan namun seper tinya belum mampu menjinakkan longsornya nilai instrumen keuangan.

Berbagai rumus dan indicator yang dijadikan patokan dalam berinvestasi di pasar modal pun menjadi tidak berarti karena situasinya abnormal. Dalam konteks itu, investor domestik seyogianya menahan diri dulu. Defensif adalah sikap terbaik.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN