Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pabrik Mobil. Foto ilustrasi: IST

Pabrik Mobil. Foto ilustrasi: IST

Menangkap Peluang Relokasi Pabrik

Jumat, 5 Juli 2019 | 11:20 WIB

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok mendatangkan berkah bagi Indonesia. Guna menghindari dampak perang dagang, sejumlah perusahaan sudah punya rencana merelokasi pabrik mereka. Indonesia menjadi salah satu tempat berlabuh perusahaan-perusahaan yang akan merelokasi pabrik mereka ke kawasan Asia Tenggara.

Perang dagang membuat iklim investasi di Tiongkok tidak kondusif. Dengan naiknya bea masuk AS atas impor produk Tiongkok, mereka tidak bisa melakukan ekspor dengan leluasa.

Untuk menyiasatinya, mereka berencana merelokasi pabrik dari Tiongkok ke sejumlah negara berkembang. Sebagai pihak yang terkena dampak perang dagang dengan AS, industri baja Tiongkok juga mulai mempertimbangkan untuk melakukan relokasi pabrik ke Indonesia.

Selain itu, investor Tiongkok juga tertarik membangun pabrik baterai lithium di Halmahera Utara, Maluku Utara. Sementara itu, Apple berencana mengalihkan 15-30% kapasitas produksinya dari pabrik di Tiongkok ke negara lain di Asia Tenggara. Salah satu opsinya adalah Indonesia. Produsen ponsel AS ini telah meminta para pemasoknya untuk mengkaji dampak dari rencana tersebut.

Selain karena dipicu oleh perang dagang antara AS dan Tiongkok, beberapa faktor lain yang mendorong Apple untuk mengambil kebijakan tersebut seperti biaya tenaga kerja yang tinggi dan adanya risiko jika memusatkan produksi di satu negara.

Tidak hanya relokasi dari Tiongkok, perusahaan elektronik Sharp asal Jepang dan LG asal Korea Selatan juga merelokasi pabriknya dari Thailand dan Vietnam. Tujuannya adalah untuk meningkatkan lini produksi di Indonesia. Kabar terakhir menyebutkan bahwa Panasonic juga mau merelokasi pabriknya dari Malaysia ke Indonesia. Bahkan Panasonic berharap lini produksinya dapat diresmikan oleh Menteri Perindustrian. Sharp akan merelokasi pabrik yang menghasilkan salah satu produknya dari Thailand ke kompleks pabrik yang ada di Karawang International Industrial City (KIIC).

Rencananya, peresmian lini produksi Sharp ini akan dilakukan pada 10 Juli mendatang. Sedangkan LG merelokasi pabriknya dari Vietnam untuk menambah lini produksi pendingin ruangan atau AC di Indonesia. Masih dari sektor elektronik, perusahaan asal Taiwan, Pegatron juga dikabarkan telah melirik Indonesia sebagai basis produksi. Pabrik tersebut memproduksi chip untuk produk smartphone buatan Apple, iPhone. Pegatron telah menandatangani letter of intent untuk berinvestasi di Indonesia. Dana yang disiapkannya berkisar Rp 10–15 triliun. Pabrik itu mungkin juga digunakan untuk memproduksi komponen MacBook, tetapi tidak dalam waktu dekat.

Di sektor otomotif, Hyundai Motor Company (HMC) akan mulai berproduksi di Indonesia pada 2021 dengan kapasitas produksi sekitar 70.000-250.000 unit mobil per tahun. Perusahaan otomotif asal Korea Selatan tersebut akan memproduksi jenis kendaraan sport utility vehicle (SUV), multi purpose vehicle (MPV), hatchback, dan sedan. Pendirian pabrik tersebut dapat menyerap tenaga kerja sekitar 3.500 orang. Pabrik HMC tersebut akan menjadi basis produksi mobil untuk memenuhi kebutuhan pasar domestic sebanyak 47% dan ekspor 53%.

Bagi Indonesia, tren relokasi pabrik perusahaan-perusahaan tersebut sebagai peluang investasi. Namun Indonesia harus bersaing dengan sejumlah Negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Karena itu, pemerintah harus mempersiapkan iklim investasi yang lebih baik guna menyambut relokasi pabrik dari berbagai negara. Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan dua lokasi yakni Jawa Tengah dan Batam untuk menampung relokasi pabrik dari Tiongkok.

Indonesia jelas memiliki daya tarik karena pasarnya yang besar dan kondisi infrastrukturnya sudah membaik. Namun, masih banyak persoalan yang harus dibenahi. Indonesia harus menyelesaikan masalah birokrasi yang selama ini menjadi ganjalan dalam menarik investasi lebih banyak lagi. Hal lain yang juga perlu segera dibenahi adalah permasalahan perburuhan dan pengupahan yang melemahkan daya saing Indonesia dibanding Negara lain.

Kualitas sumber daya manusia (SDM) pekerja Indonesia juga perlu ditingkatkan. Karena itu, kita mendorong pemerintah agar mempercepat revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan dan Undang- Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan serta mencari formulasi yang tepat untuk penetapan upah sektoral.

Sedangkan untuk mengimbangi masuknya investasi serta berkembangnya teknologi, pemerintah harus segera melakukan pengembangan kompetensi SDM melalui pendidikan vokasi, program link and match pendidikan dengan keterampilan kerja. Dengan demikian, investor yang akan masuk tidak perlu lagi mendatangkan pekerja dari negara asalnya.

Untuk mendukung hal tersebut, kita juga mendorong pemerintah segera mengeluarkan insentif pemangkasan pajak di atas 100% atau super tax deduction yang sudah lama diwacanakan. Insentif tersebut akan memberikan keringanan pajak maksimal sebesar 200% bagi industri yang menyelenggarakan pendidikan vokasi.

Adapun keringanan pajak maksimal 300% akan diberikan bagi industri yang terlibat dalam riset dan pengembangan (R&D) inovasi dari berbagai industri. Tantangan lain yang juga harus diselesaikan pemerintah yaitu mengatasi hambatan bahan baku dan bahan penolong bagi industri manufaktur. Solusi dari persoalan ini di antaranya meningkatkan investasi di sektor industry petrokimia yang sudah lama dinanti.

Membangun industri petrokimia sangat penting. Sebab, sebagai mother of industry, industri petrokimia menjadisalah satu pemasok bahan baku untuk aneka industri, seperti industry kemasan, tekstil, alat rumah tangga, hingga komponen otomotif dan produk elektronika.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA