Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Menarik Investasi Asing

Investor Daily, Senin, 23 September 2019 | 11:55 WIB

Isu resesi tak cukup hanya dibantah dengan pernyataan. Langkah konkret perlu segera diambil. Kita mengapresiasi Bank Indonesia yang sudah bertindak “a head of the curve”, mendahului reaksi pelaku pasar uang dan pasar modal. Kini, kita menanti langkah konkret pemerintah. Kebijakan pemerintah di sektor riil untuk menarik investasi sangat penting.

Setelah mencapai puncaknya, 6% selama tujuh bulan, Desember 2018 hingga Juni 2019, BI mulai melakukan pelonggaran moneter dengan menurunkan BI-7-day reverse repo rate (BI7DRRR) dari 6% ke 5,25%. Penurunan suku bunga acuan diturunkan dalam tiga tahap sejak Juli 2019, masing-masing, 25 basis poin. Penurunan terakhir dilakukan pekan lalu, Kamis (19/9/2019).

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers Kamis (19/9/2019). Sumber: BSTV
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers Kamis (19/9/2019). Sumber: BSTV

Bersamaan dengan penurunan B7DRRR, bank sentral juga menurunkan suku bunga deposit facility 25 basis ke level 4,50% dan suku bunga lending facility ke 6,00%. Perbankan didorong untuk melakukan ekspansi kredit. Bank yang kesulitan dana bisa meminjam dana dari BI dengan menggunakan deposit bonus facility dan yang kelebihan dana pihak ketiga bisa memarkir dana di BI dengan menggunakan lending facility.

Keseriusan BI dalam melonggarkan likuditas juga ditunjukkan dengan dua kebijakan lain. Pertama, pelonggaran rasio loan to value (LTV) untuk kredit property dan financing to value (FTV) untuk membiayai properti. Kedua, menyempurnakan pengaturan rasio intermediasi makroprundesial (RIM)/RIM syariah dengan menambahkan komponen pinjaman atau pembiayaan yang diterima oleh bank sebagai komponen sumber pendanaan bank dalam perhitungan RIM/RIM syariah.

Rasio LTV/FTV yang berlaku saat ini. Sumber: bi.go.id
Rasio LTV/FTV yang berlaku saat ini. Sumber: bi.go.id

Dengan kebijakan baru, BI berharap, perbankan lebih tinggi bertenaga dalam melakukan ekspansi kredit hingga 12% tahun ini. Kredit perbankan diharapkan dapat menggerakkan dunia usaha. Sektor properti dilihat sebagai salah satu penggerak ekonomi. Banyak produk terkait properti dan banyak tenaga kerja yang terserap di sektor ini.

Rasio LTV/FTV yang diperbarui . Sumber: bi.go.id
Rasio LTV/FTV yang diperbarui . Sumber: bi.go.id

Menurut survei Kementerian Perindustrian tahun 2013, sedikitnya terdapat 175 produk industri terkait bisnis properti. Pembangunan rumah dan gedung membutuhkan semen, baja, kayu, paku, seng, genteng, keramik, granit, kaca, cat, dan banyak lagi. Sebuah survey menyebutkan, setiap pembangunan properti dengan nilai Rp 1 miliar menyerap tenaga kerja lebih dari 100 orang.

Rasio LTV/FTV berwawasan lingkungan. Sumber: bi.go.id
Rasio LTV/FTV berwawasan lingkungan. Sumber: bi.go.id

Alangkah bagusnya jika langkah bank sentral diikuti pula oleh pemerintah. Sesungguhnya masalah utama ekonomi bukan di sektor keuangan, melainkan di sektor riil. Sektor keuangan hanyalah cerminan buruknya sektor riil. Selama kegiatan sektor industri manufaktur terus menurun, laju pertumbuhan ekonomi akan tetap melambat.

Selama ekspor Indonesia mengandalkan ekspor komoditas yang rentan fluktuasi harga, selama itu pula ekonomi Indonesia menjadi bulan-bulanan perkembangan ekonomi global. Selama investasi baru berjalan lamban, selama itu pula laju pertumbuhan ekonomi terus melambat.

RIM saat ini. Sumber: bi.go.id
RIM saat ini. Sumber: bi.go.id

Investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) menurun sejak 2018. Jika pada tahun 2017 FDI sebesar Rp 430,5 triliun, pada tahun 2018 turun menjadi Rp 392,7 triliun. Bila tidak ada upaya serius dan sistematis, FDI tahun ini bisa jadi lebih rendah. Pada semester pertama 2019, FDI baru mencapai Rp 212,8 triliun. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tiga bulan terakhir diwarnai net selling asing.

Penurunan suku bunga belum mendorong asing melakukan pembelian saham. Selama Januari hingga 20 September 2019 terdapat net buying Rp 53,8 triliun. Tapi, sekitar Rp 52,58 triliun adalah pembelian saham PT Bank Danamon Tbk (BDMN) dan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (BBNP) oleh bank Jepang, MUFG Ltd.

RIM yang diperbarui. Sumber: bi.go.id
RIM yang diperbarui. Sumber: bi.go.id

Untuk menarik minat investasi asing, pemerintah perlu lebih serius memperbaiki iklim investasi. Pertama, pelayanan satu atap jangan hanya slogan, melainkan harus sungguh direalisasi.

Kedua, para investor harus mendapatkan kepastian usaha. Oleh karena itu, segala regulasi yang menghambat harus segera diubah. Ketiga, peraturan ketenagakerjaan harus lebih pro-bisnis, tidak hanya pro-pekerja.

Keempat, memberikan insentif pajak kepada investor. Setiap negara kini memberikan karpet merah kepada investor. Indonesia tak boleh ketinggalan. Kontribusi investasi terhadap PDB sekitar 32%, menempati peringkat kedua setelah konsumsi rumah tangga yang mencapai 55,7%.

Selain itu, kawasan industri perlu lebih disebar. Tidak hanya menumpuk di Jawa Barat. Setiap provinsi perlu memiliki kawasan industri yang dilengkapi pelabuha laut modern. Suku bunga rendah saja tidak cukup untuk menggerakkan dunia usaha. Perbaikan iklim investasi memainkan peran sangat penting.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA