Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Mendorong Reksa Dana

Gora Kunjana, Selasa, 26 Januari 2016 | 12:24 WIB

Otoritas bursa makin gencar saja melakukan sosialisasi dan edukasi reksa dana. Pekan ini, misalnya, Bursa bersama pemangku kepentingan (stakeholders) yang lain menggelar layanan reksa dana secara cuma-cuma. Lewat event bertajuk Pesta Reksa Dana, mereka menargetkan sedikitnya 4.000 investor baru.


Sasarannya beragam, mulai ibu rumah tangga, wiraswasta, karyawan, akademisi, profesional, hingga masyarakat umum. Sosialisasi dan edukasi reksa dana adalah keharusan, terutama jika menengok jumlah investor reksa dana yang masih minim. Jumlah investor reksa dana baru sekitar 250 ribu atau 0,1% dari populasi negeri ini yang mencapai 250 juta jiwa.


Rasio nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana terhadap dana pihak ketiga (DPK) perbankan juga masih timpang, baru 6%. Bahkan, rasio NAB terhadap produk domestik bruto (PDB) baru sekitar 2%.


Berkaca pada angka-angka tersebut, kita secara terus terang mengakui bahwa industri reksa dana di Tanah Air masih tertinggal jauh dari negara-negara lain. Rasio NAB terhadap PDB dan DPK di Malaysia masing-masing mencapai 43% dan 28%, Thailand 17% dan 22%, Tiongkok 5% dan 7%, tak terkecuali India sebesar 14% dan 12%. Padahal, reksa dana tergolong instrumen investasi yang sudah lama diperkenalkan di Indonesia, yakni mulai tahun 1995, atau sejak dua dekade silam.


Kita, dengan lapang dada, juga harus mengatakan bahwa industri reksa dana di Indonesia tidak ditopang fundamental yang kuat. Saat ini, 10 manajer investasi (MI) menguasai hampir 80% NAB industri reksa dana. Persoalan lainnya, industri reksa dana masih terkosentrasi di Jawa. Kecuali itu, industri reksa dana kita masih kekurangan SDM yang berkompeten, terutama untuk posisi wakil MI atau wakil agen penjual efek reksa dana (WAPERD).


Tapi kita tidak boleh pesimistis, apalagi apatis. Hingga detik ini, reksa dana –baik konvensional maupun syariah-- masih menjadi instrumen investasi yang menjanjikan. Tahun ini, reksa dana saham digadang-gadang bakal membukukan tingkat pengembalian investasi (return) hingga 14,8%, lebih tinggi dari prediksi pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 14,2%. Reksa dana campuran, reksa dana pendapatan tetap, dan reksa dana pasar uang juga menjanjikan return yang atraktif sebesar 3-8%.


Industri reksa dana domestik memang memiliki potensi yang luar biasa besar untuk tumbuh dan berkembang. Jangan lupa, di negeri ini terdapat setidaknya 60 juta penduduk kelas menengah yang sangat potensial menjadi nasabah reksa dana. Jika 5% saja penduduk kelas menengah berhasil dijaring, berarti industri reksa dana akan mendapat tambahan investor baru sebanyak 3 juta nasabah. Dengan 250 ribu investor, total NAB saat ini mencapai Rp 241 triliun.


Bayangkan, apa jadinya jika 3 juta investor? Yang sering dilupakan, industri reksa dana turut menentukan ketahanan pasar saham domestik. Semakin kuat industri reksa dana, semakin tahan pula bursa saham dari guncangan. Dengan kepemilikan investor lokal yang dominan, reksa dana --terutama yang ber-underlying asset saham dan obligasi-- bisa menjadi stabilisator bursa saat pasar global mengalami crash dan investor asing menarik dananya secara masif (sudden reversal).


Karena itu, kita mendukung sosialisasi dan edukasi yang terus dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), dan pemangku kepentingan lainnya. Namun, agar efektif, kita perlu terus mengingatkan bahwa sosialisasi dan edukasi harus dilakukan secara kreatif, matang, dan terencana. Masih minimnya jumlah investor reksa dana –meski sosialisasi dan edukasi setiap tahun digalakkan-- adalah bukti bahwa upaya tersebut kurang tepat sasaran.


Kita pun sepakat bahwa sosialisasi dan edukasi saja belumlah cukup. Untuk melipatgandakan jumlah investor, menggenjot pertumbuhan industri, dan memperluas akses investor ritel reksa dana di segenap penjuru Tanah Air, otoritas dan para pelaku industri perlu menempuh langkah-langkah terobosan, baik dari sisi kebijakan, varian produk, maupun penetrasi pasar. Bila sosialisasi dan langkahlangkah terobosan itu dilakukan secara terintegrasi, kita yakin industri reksa dana bakal tumbuh lebih pesat dan berfundamental lebih kuat.


Kita merespons positif berbagai upaya yang telah dilakukan OJK, seperti menetapkan batasan nilai investasi awal reksa dana minimal Rp 100 ribu guna mendorong pemasaran reksa dana mikro yang lebih terjangkau masyarakat menengah ke bawah. Kita juga menyambut baik penambahan jalur distribusi agen penjual efek reksa dana dengan melibatkan perusahaan pos dan giro, pegadaian, perasuransian, dana pensiun, pembiayaan, dan penjaminan.


Begitu pula kemudahan membuka rekening secara online yang memungkinkan investor mendaftar sebagai nasabah dan bertransaksi jarak jauh. Di luar itu, kebijakan OJK dan BEI yang terkait dengan industri reksa dana seyogianya dilandasi dua semangat besar, yakni mendorong inklusi keuangan (financial inclusion) dan meningkatkan literasi keuangan di kalangan masyarakat bawah.


Dengan demikian, otoritas bukan saja berupaya meningkatkan pertumbuhan industri reksa dana, tapi juga meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan pendapatan masyarakat menengah ke bawah serta menyelamatkan mereka dari penipuan (fraud) berkedok investasi yang marak di negeri ini. Bukankah itu jauh lebih mulia?

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA