Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Minat pemodal terhadap saham-saham baru di pasar perdana atau initial public offering (IPO) tetap tinggi.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Minat pemodal terhadap saham-saham baru di pasar perdana atau initial public offering (IPO) tetap tinggi. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Mengelola Minat IPO

Investor Daily, Kamis, 20 Februari 2020 | 12:08 WIB

Sejumlah sentimen negatif yang sedang menyelimuti lantai bursa tak menyurutkan minat korporasi untuk menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Sudah 14 perusahaan mencatatkan (listing) saham perdananya selama tahun berjalan (year to date/ ytd) atau sejak awal Januari hingga 19 Februari 2020.

Jumlah perusahaan yang bakal melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dipastikan terus bertambah. Otoritas bursa menargetkan setidaknya ada 57 emiten baru tahun ini.

Alhasil, jika pada pengujung 2019 emiten di BEI baru berjumlah 668 perusahaan maka pada akhir 2020 bakal meningkat setidaknya menjadi 725 perusahaan.

Besarnya minat korporasi untuk IPO bisa dimaklumi. Pasar memang sedang digempur sejumlah sentimen negatif, seperti penyebaran Virus Korona di Tiongkok dan pemblokiran 800 rekening efek yang diduga terkait kasus korupsi dan pencucian uang (money laundering) PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Namun, saham-saham IPO tetap diburu investor.

Ke-14 perusahaan yang melangsungkan IPO di BEI pada 2020 membukukan kenaikan harga saham sebesar 20-90% (harga IPO disbanding harga penutupan terakhir tahun berjalan). Bahkan, pada perdagangan perdana, hampir seluruh saham emiten baru terkena penghentian otomatis (auto rejection) karena melampaui batas atas yang digariskan otoritas bursa.

Kenaikan harga saham IPO juga turut mengurangi beban pasar saham domestik yang sedang tertekan. Indeks harga saham gabungan (IHSG) sudah terbenam 5,89% selama tahun berjalan dan menorehkan kinerja paling buruk di antara seluruh indeks saham di Asia Pasifik. Saham-saham emiten baru turut membantu IHSG keluar dari teritori negatif.

Tak bisa dimungkiri, sejumlah calon emiten menunda rencana IPO-nya setelah Virus Korona merebak di Tiongkok dan menyebar ke sejumlah negara. Apalagi setelah Kejaksaan Agung (Kejagung), atas persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memblokir sekitar 800 rekening efek, sebagai bagian dari penyidikan kasus gagal bayar Jiwasraya akibat dugaan korupsi dan pencucian uang.

Yang melegakan, para calon emiten tidak mengurungkan niatnya untuk melantai di BEI. Mereka hanya menunda atau memundurkan jadwal IPO. Setelah penyebaran Virus Korona mereda dan pengusutan kasus Jiwasraya selesai, para calon emiten bakal langsung merealisasikan rencananya.

Tentu kita berharap penyebaran Virus Korona segera berakhir. Kita meminta pemerintah terus bersiaga dan tetap wapada agar virus mematikan itu tidak masuk ke Indonesia. Kita bersyukur meski jumlah korban tewas sudah tembus 2.012 orang per Rabu (19/2) petang, intensitas penyebaran Virus Korona cenderung menurun.

Tak kalah penting, kita mendorong supaya pengusutan kasus Jiwasraya segera tuntas. Dengan begitu, kasus Jiwasraya tidak terus membebani pasar saham. Jika kasus hukumnya tuntas, pemerintah akan lebih fokus mengimplementasikan skema-skema penyelamatan dan pemulihan aset (asset recovery) Jiwasraya, sehingga uang nasabah bisa segera dikembalikan.

Itu sebabnya, dalam menangani kasus Jiwasraya, aparat berwenang harus menempuh cara-cara komprehensif, jangan menggunakan kaca mata kuda atau berdasarkan satu perspektif saja. Penanganan secara komprehensif diperlukan agar pengusutan hukum kasus Jiwasraya bisa tetap berjalan tanpa mengganggu kegiatan transaksi di pasar modal. Pemblokiran rekening efek mungkin bukan satu-satunya sumber sentiment negatif di pasar saham domestik. Namun, sulit dibantah bahwa tindakan pihak berwenang itu telah membuat sebagian investor kesulitan bertransaksi saham.

Pemblokiran rekening efek secara psikologis juga memaksa sebagian investor di lantai bursa memilih wait and see. Jika berlarut-larut, apalagi dilakukan secara gebyah-uyah dan mengabaikan asas verfiikasi, pemblokiran rekening efek bakal mengganggu likuiditas bursa, bahkan menimbulkan risiko sistemik di industri keuangan. Perusahaan asuransi yang rekeningnya diblokir, misalnya, akan kesulitan membayar klaim nasabah.

Di tengah kurang kondusifnya kondisi pasar akibat gempuran sentiment negatif dari eksternal, bursa saham di dalam negeri butuh kesejukan. Hanya kesejukan yang dapat mengangkat IHSG dan mendorong semakin banyak perusahaan mencatatkan sahamnya di bursa domestik.

Kita patut mengapresiasi ‘instruksi’ pemerintah, khususnya Kementerian BUMN, agar perusahaan-perusahaan pelat merah tidak pelit membagikan dividen. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membagikan dividen tahun buku 2019 sebesar 60% dari laba bersih masing-masing sebesar Rp 20,62 triliun dan Rp16,49 triliun.

Selain efektif mendongkrak kepercayaan para pemegang saham emiten, pembagian ‘dividen jumbo’ efektif mengangkat kepercayaan pelaku pasar secara keseluruhan.

Lebih dari itu, pembagian dividen jumbo akan meningkatkan rasa percaya diri para calon emiten untuk merealisasikan rencana IPO-nya. Sentimen positif ini akan menjadi ‘suplemen’ bagi pasar saham domestik untuk kembali rally dan bertahan di zona hijau.

Kita menaruh ekspektasi tinggi bahwa pemerintah akan lebih banyak lagi mengguyurkan sentimen positif di lantai bursa. Dengan begitu, akan semakin banyak perusahaan yang mencatatkan saham di BEI. Dengan begitu pula, IHSG tidak terus terperangkap di zona merah dan menjadi indeks bursa saham paling gurem di Asia Pasifik.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN